PM Inggris: Menolak Hubungan Lebih Dekat dengan Uni Eropa Adalah Pengabaian Tugas
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Inggris akan menyatakan bahwa menolak hubungan lebih erat dengan Uni Eropa merupakan pengabaian tugas, dengan alasan Brexit lebih banyak merugikan.
- Ia berencana memperjuangkan kesepakatan baru yang dapat mengatasi imigrasi ilegal dan mendorong pertumbuhan ekonomi, serta membuka diskusi jangka panjang dengan Brussels.
- Partai Konservatif menentang keras pembukaan kembali debat Brexit, sementara sebagian publik menginginkan referendum ulang.

Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, dijadwalkan menyampaikan pernyataan kepada parlemen pada Senin bahwa menolak hubungan yang lebih dekat dengan Uni Eropa—jika kesepakatan dapat dinegosiasikan—adalah sebuah "pengabaian tugas". Dalam pidatonya di House of Commons, ia akan menegaskan sudah waktunya "menghadapi kenyataan bahwa Brexit lebih banyak merugikan" dan "status quo tidak cukup baik bagi Inggris."
Burnham pertama kali menjanjikan eksplorasi hubungan lebih erat dengan blok Eropa pada konferensi Partai Buruh bulan lalu, dan kini ia mendesak parlemen untuk mendukung upaya tersebut. Menurutnya, kesepakatan baru dengan Uni Eropa dapat membantu mengatasi imigrasi ilegal dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Ia yakin bahwa jika kesepakatan itu tercapai, "mayoritas besar publik akan mengharapkan kita mengambilnya."
Dalam pidatonya di konferensi Partai Buruh, Burnham mengklaim bahwa "kontrol imigrasi" telah "melemah akibat Brexit" karena Inggris "kehilangan kolaborasi dengan mitra Eropa" dan masih berjuang untuk memulihkannya. Sumber dari kantor perdana menteri menambahkan bahwa sudah saatnya membuka percakapan berbeda tentang hubungan jangka panjang dengan tetangga terdekat, dan mempertahankan status quo tanpa upaya keras untuk mendapatkan kesepakatan yang mendorong pertumbuhan akan menjadi "pengabaian tugas besar."
"Andy memahami mengapa beberapa politisi tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa Brexit tidak memberikan apa yang pernah dijanjikan. Tetapi sudah waktunya untuk percakapan yang berbeda tentang bagaimana hubungan jangka panjang kita seharusnya."
Di sisi lain, pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, dalam konferensi partainya pekan lalu menyatakan bahwa membuka kembali debat Brexit adalah "ide yang sangat buruk." Ia mempertanyakan apakah publik ingin mengulang proses yang memakan waktu dan menciptakan ketidakpastian bagi dunia usaha. "Bayangkan harus melalui semua itu lagi? Begitu banyak waktu terbuang, berdebat dengan diri sendiri dan Uni Eropa. Berputar-putar, bisnis tidak tahu apakah harus berinvestasi. Dia ingin melakukan semuanya lagi," ujarnya.
Pernyataan Burnham ini muncul saat parlemen kembali bersidang pada Senin untuk pertama kalinya sejak 15 September, setelah reses selama konferensi partai. KTT Inggris-Uni Eropa yang semula dijadwalkan musim panas lalu ditunda setelah Sir Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya, dan kini dijadwalkan ulang bulan depan. Perdana menteri berharap dapat memperoleh penyesuaian dalam pengaturan saat ini antara London dan Brussels, serta memulai dialog lebih luas tentang hubungan jangka panjang Inggris dengan negara-negara tetangga terdekatnya.
Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam pendekatan Inggris terhadap Uni Eropa pasca-Brexit. Jika berhasil, kesepakatan baru dapat membuka kembali akses pasar tunggal, mempermudah mobilitas tenaga kerja, dan memperkuat kerja sama keamanan. Namun, oposisi dari Partai Konservatif dan sebagian publik yang masih trauma dengan proses Brexit sebelumnya menjadi tantangan berat. Burnham tampaknya berjudi dengan modal politiknya untuk mendorong agenda yang kontroversial ini.
Pertanyaannya kini: akankah parlemen dan publik Inggris siap menerima kenyataan bahwa Brexit tidak membawa manfaat seperti yang dijanjikan, dan berani mengambil langkah berani menuju hubungan yang lebih erat dengan Eropa? Ataukah bayang-bayang debat masa lalu akan terus menghantui dan menghalangi perubahan yang diperlukan?



