Bus Persib EPA Dilempari di Rest Area Batang, Ketua Jakmania: Kejadian Itu Salah
Baca dalam 60 detik
- Rombongan Persib Elite Pro Academy menjadi korban pelemparan oleh oknum tak dikenal di Rest Area Batang KM 360, Minggu (11/10).
- Ketua Jakmania Muhammad Aditya Putra menegaskan insiden tersebut salah dan menyerahkan proses hukum sepenuhnya kepada aparat.
- Persib mengecam kekerasan dan mengimbau suporter menahan diri, sementara polisi masih menyelidiki kronologi dan pelaku.

Insiden pelemparan bus rombongan Persib Elite Pro Academy (EPA) di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, Minggu (11/10), memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Ketua Jakmania Muhammad Aditya Putra secara terbuka menyatakan bahwa tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan mendesak aparat mengusut tuntas pelakunya.
Dalam video yang beredar di media sosial, kaca bus mengalami kerusakan parah setelah dihujani benda keras. Oknum yang diduga berasal dari suporter Persija itu berada di lokasi kejadian saat rombongan pemain muda Persib melintas. Peristiwa ini menambah daftar panjang gesekan antar suporter sepak bola Indonesia yang kerap terjadi di luar stadion.
Aditya melalui akun Instagram pribadinya menulis, "Dari perspektif manapun, kejadian semalam jelas salah. Kami sedang terus mengidentifikasi siapa yang melakukan." Ia juga menambahkan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada yang berwenang dan meminta maaf atas apa yang terjadi. Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa Jakmania berupaya meredam ketegangan, meski identitas pelaku masih dalam penelusuran.
Manajemen Persib mengecam segala bentuk kekerasan dan mengimbau seluruh pendukung untuk tetap tenang serta tidak melakukan aksi balasan. Sikap ini sejalan dengan upaya menjaga kondusivitas kompetisi, terutama karena insiden terjadi di luar pertandingan resmi. Hingga kini, polisi masih melakukan verifikasi untuk memastikan kronologi lengkap dan mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat.
"Kami menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada yang berwenang. Mohon maaf atas apa yang terjadi." — Muhammad Aditya Putra, Ketua Jakmania
Insiden ini bukan kali pertama menimpa bus pemain di Indonesia. Sebelumnya, beberapa kejadian serupa terjadi di berbagai daerah, seringkali dipicu oleh provokasi antar kelompok suporter. Pola ini menunjukkan bahwa rivalitas di luar lapangan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi PSSI dan aparat keamanan. Tanpa penegakan hukum yang tegas, potensi balasan dan eskalasi kekerasan akan terus menghantui sepak bola nasional.
Dari sisi regulasi, PSSI memiliki kewenangan untuk menjatuhkan sanksi kepada individu maupun kelompok suporter yang terbukti melakukan kekerasan. Namun, proses identifikasi sering terkendala minimnya bukti dan saksi. Kehadiran rekaman video amatir menjadi krusial untuk mengungkap pelaku. Kepolisian diharapkan bergerak cepat agar tidak menimbulkan ketidakpercayaan publik terhadap penegakan hukum di dunia olahraga.
Ke depan, insiden ini menjadi ujian bagi komitmen semua pihak—dari federasi, klub, hingga kelompok suporter—untuk menciptakan ekosistem sepak bola yang aman. Apakah penegakan hukum akan berjalan transparan, atau justru tenggelam dalam rivalitas yang tak berujung? Publik menanti langkah nyata, bukan sekadar pernyataan penyesalan.



