Festival Jalan Jaksa 80-an: Kebon Sirih Bersaing di Benyamin S Award 2026
Baca dalam 60 detik
- Kelurahan Kebon Sirih menggelar Festival Jalan Jaksa bertema 80-an sebagai bagian dari penilaian Benyamin S Award 2026.
- Warga antusias mengenakan kostum era 80-an, sementara petugas PPSU tampil membuka acara dengan tarian Betawi.
- Lurah Henny Mahrojah siap menjadikan festival ini agenda tahunan untuk menghidupkan kembali kawasan Jalan Jaksa.

Kelurahan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, menggelar Festival Jalan Jaksa dengan mengusung tema nostalgia era 1980-an pada Minggu (11/10). Acara ini menjadi bagian dari rangkaian penilaian Benyamin S Award (BSA) 2026, sebuah kompetisi antar-kelurahan yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong pengelolaan wilayah yang lebih bersih, nyaman, dan sejahtera.
Lurah Kebon Sirih, Henny Mahrojah, menyatakan bahwa konsep yang diusung berbeda dari festival lain. Warga yang hadir diimbau mengenakan pakaian khas dekade 80-an, dan imbauan itu disambut antusias. Sepanjang Jalan Jaksa dipenuhi warga dengan busana nyentrik, mulai dari kemeja kotak-kotak, celana cutbrai, hingga bandana yang diikat di leher.
Kehadiran dewan juri dan tim panitia dari Pemprov DKI Jakarta disambut dengan pertunjukan ondel-ondel yang mengiringi mereka dari pintu masuk hingga papan nama festival. Setelah itu, sekitar sepuluh petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kebon Sirih menampilkan tarian sederhana. Dako dan Syarif, dua di antara penari, mengaku diminta panitia untuk mengisi acara secara spontan tanpa latihan panjang.
"Dihidupkan lagi dari pihak kelurahan, karena beberapa tahun ini vakum. Vakum dalam artian kurang wah, kurang meriah. Kebetulan kita panitia kelurahan di sini menyediakan ala tahun 80-an, akhirnya antusiaslah warga semua," ujar Syarif.
Antusiasme tidak hanya datang dari warga Kebon Sirih. Ani, warga Kelurahan Menteng, mengaku telah mempersiapkan busana sejak dua hari sebelumnya, bahkan meminjam anting bulat besar dari kenalannya. Ia bersama dua temannya, Arif dan Laila, mengetahui informasi festival dari media sosial dan berharap acara ini menjadi agenda tahunan agar Jalan Jaksa kembali ramai seperti dulu.
Harapan tersebut ditanggapi positif oleh Henny Mahrojah. Ia menyatakan siap menggelar festival serupa tahun depan, terutama karena dorongan warga, Karang Taruna, dan netizen yang meninggalkan komentar di media sosial. Menurutnya, potensi kelurahan perlu terus ditampilkan melalui ajang seperti BSA.
Benyamin S Award sendiri dirancang sebagai apresiasi bagi kelurahan yang berkomitmen mendukung Jakarta yang lebih baik. Festival Jalan Jaksa menjadi salah satu dari sepuluh festival yang digelar sebelum penilaian akhir. Sebelumnya, sembilan festival lain telah berlangsung di berbagai wilayah Jakarta, termasuk Kepulauan Seribu.
Ke depan, keberlanjutan festival ini akan bergantung pada konsistensi pemerintah daerah dan partisipasi warga. Jika mampu menjadi agenda rutin, Jalan Jaksa berpotensi mengembalikan identitasnya sebagai ruang publik yang hidup dan menjadi contoh bagaimana nostalgia bisa dikelola menjadi daya tarik wisata lokal.



