Jeremy Jacquet, 'Torres Baru' Liverpool yang Bikin Iraola Tersenyum
Baca dalam 60 detik
- Bek muda Prancis Jeremy Jacquet langsung menjadi pilar pertahanan Liverpool sejak didatangkan dengan harga £60 juta.
- Tiga clean sheet dari lima laga awal musim ini menandai perbaikan drastis lini belakang The Reds.
- Kembalinya Jacquet dari cedera memperkuat Liverpool jelang laga krusial melawan Manchester City.

Liverpool akan menjamu Manchester City pada laga pekan kelima Liga Primer Inggris di Anfield, Minggu (21/9/2025), dengan satu kabar baik: bek muda Jeremy Jacquet dipastikan pulih dari cedera dan siap dimainkan. Manajer Andoni Iraola mengonfirmasi hal tersebut pada konferensi pers Jumat, membuka peluang bek berusia 21 tahun itu kembali mengisi starting eleven.
Jacquet, yang didatangkan dari Prancis dengan mahar £60 juta pada Januari lalu, sempat menjadi sorotan setelah mengalami cedera saat membela tim nasional. Kekhawatiran sempat muncul, mengingat perannya yang kian sentral dalam skema Iraola. Namun, kepastian bahwa ia tersedia menjadi suntikan moral bagi The Reds yang tengah membangun momentum.
Sejak bergabung, Jacquet memang tidak butuh waktu lama beradaptasi. Kolaborasinya dengan kapten Virgil van Dijk di jantung pertahanan membuat Liverpool lebih solid. Musim ini, dalam lima pertandingan liga, Liverpool sudah mencatatkan tiga clean sheet—jumlah yang hanya mereka raih sepuluh kali sepanjang musim lalu. Kehadiran Jacquet disebut-sebut sebagai kunci perubahan tersebut.
Penampilan impresif Jacquet mengingatkan publik Anfield pada sosok Fernando Torres. Pada 2007, Torres datang dari Atletico Madrid dan langsung menjelma idola, mencetak 33 gol di musim debutnya. Ia kemudian membentuk duet magis dengan Steven Gerrard, membawa Liverpool bersaing di jalur juara. Kini, Jacquet—juga berasal dari Prancis—diharapkan mengikuti jejak serupa, meski di posisi berbeda.
Pengamat bakat Jacek Kulig menilai Liverpool telah "mendapat jackpot" dengan merekrut Jacquet. Menurutnya, bek tengah itu adalah "calon pemain kelas dunia". Penilaian tersebut sejalan dengan statistik: Jacquet tidak hanya kuat dalam duel udara, tetapi juga cekatan membaca permainan dan memulai serangan dari belakang.
"Liverpool telah mendapatkan jackpot dengan Jacquet. Ia adalah bek tengah kelas dunia yang sedang dalam proses menjadi," ujar Jacek Kulig, pengamat bakat terkemuka.
Kembalinya Jacquet juga terasa krusial mengingat Liverpool sempat gagal mendatangkan Marc Guehi dari Crystal Palace pada bursa transfer lalu. Guehi akhirnya bergabung dengan Manchester City, rival yang akan mereka hadapi akhir pekan ini. Kegagalan itu sempat dianggap pukulan, tetapi kehadiran Jacquet perlahan menutup luka tersebut.
Laga melawan Manchester City sendiri bukan sekadar pertarungan tiga poin. Ada nuansa sejarah yang membayangi, terutama setelah vonis bersalah yang dijatuhkan kepada City terkait pelanggaran aturan finansial. Meski City masih mengajukan banding, bayang-bayang skandal itu menambah bumbu rivalitas. Liverpool, yang pernah kehilangan Raheem Sterling ke City pada 2015, tentu tak ingin kembali dipermalukan.
Bagi Iraola, kehadiran Jacquet memberi keleluasaan untuk menerapkan garis pertahanan tinggi. Duet Jacquet-Van Dijk memungkinkan Liverpool menekan lawan sejak dari lini belakang, sesuatu yang jarang terlihat musim lalu. Dengan tambahan clean sheet, kepercayaan diri tim pun meningkat.
Pertanyaannya, mampukah Jacquet menjaga konsistensi dan membawa Liverpool kembali bersaing di papan atas? Jika ia terus berkembang, bukan tidak mungkin Anfield menemukan Torres-nya yang baru—bukan di lini serang, melainkan di jantung pertahanan.



