Brennan Johnson dan Bayang-Bayang Transfer Terburuk Era Friedkin di Everton
Baca dalam 60 detik
- Everton menjual Beto dan Iliman Ndiaye tanpa mendatangkan striker pengganti langsung, memicu kekhawatiran krisis lini depan.
- Brennan Johnson, yang datang dari Crystal Palace lewat pertukaran dengan Dwight McNeil, belum menunjukkan performa sesuai ekspektasi.
- Jika pemain muda seperti Tyler Dibling dan Tyrique George berkembang, posisi Johnson di skuad Everton bisa terancam.

Everton menghadapi tekanan baru di awal musim ini setelah keputusan transfer musim panas menuai kritik tajam. Penjualan Beto dan Iliman Ndiaye pada Agustus tanpa mendatangkan penyerang pengganti langsung dinilai sebagai kesalahan serius yang dapat mengganggu ambisi klub menembus kompetisi Eropa. Di tengah situasi itu, nama Brennan Johnson muncul sebagai simbol kegagalan rekrutmen era Friedkin Group.
Johnson didatangkan dari Crystal Palace melalui skema pertukaran langsung dengan Dwight McNeil. Pemain sayap asal Wales itu diharapkan menjadi solusi di lini serang, tetapi hingga jeda internasional, ia belum mampu mencetak gol. Peluang emas untuk memecah kebuntuan saat melawan Tottenham Hotspur justru disia-siakan, memperkuat keraguan publik terhadap kualitasnya.
Keputusan menjual Ndiaye dan Beto tanpa mendatangkan striker baru membuat lini depan Everton bergantung pada pemain muda yang belum teruji. Tyrique George dan Tyler Dibling memang memiliki potensi, tetapi mengandalkan mereka secara konsisten di Premier League adalah risiko besar. Manajer David Moyes dituntut menjaga performa tim dengan skuad yang tipis, sambil berharap keberuntungan menghindari cedera.
"Kami harus memutuskan apakah mendatangkan pemain lebih awal agar bisa menjalani pramusim penuh, atau menunggu orang yang tepat. Saat ini, kami memilih menunggu," ujar Direktur Teknis Everton, Angus Kinnear, dalam wawancara eksklusif.
Pernyataan Kinnear mencerminkan pendekatan hati-hati yang justru berujung pada kelambatan. Kritik terhadap jendela transfer musim panas semakin keras setelah Everton hanya mendatangkan Jack Grealish dan Ainsley Maitland-Niles, yang notabene bukan bek kanan murni. Kinnear pun disebut telah melewati badai kritik karena dianggap gagal merancang strategi rekrutmen yang matang.
Jika ditelusuri, era Friedkin Group memang belum menunjukkan konsistensi dalam belanja pemain. Setelah mengakuisisi klub dari Farhad Moshiri pada Desember 2024, mereka sempat memberi harapan melalui belanja lebih dari ยฃ100 juta pada musim panas 2025 untuk pemain seperti Thierno Barry, Kiernan Dewsbury-Hall, dan Tyler Dibling. Namun, tindakan mereka di pasar tahun ini justru bertolak belakang, memicu spekulasi bahwa visi kepemilikan belum sepenuhnya jelas.
Bagi Everton, masalah ini bukan sekadar soal satu pemain. Ketergantungan pada Johnson yang sedang dalam penurunan performa sejak membela Tottenham dan paruh musim yang buruk di Crystal Palace menjadi pertanda buruk. Johnson memang pernah menunjukkan kualitasnya sebagai pencetak gol di Premier League, tetapi konsistensinya diragukan. Jika Dibling dan George terus berkembang, bukan tidak mungkin Johnson tersingkir dari starting eleven.
Konteks Indonesia: Meskipun bukan klub dengan basis penggemar sebesar Manchester United atau Liverpool di Indonesia, Everton tetap memiliki pendukung setia di Tanah Air. Kisruh transfer ini menjadi pelajaran tentang pentingnya perencanaan skuad yang matang, terutama bagi klub-klub yang ingin bersaing di kompetisi Eropa. Penggemar Indonesia yang mengikuti Premier League dapat melihat bagaimana keputusan manajemen yang lambat berdampak langsung pada performa tim di lapangan.
Ke depan, Moyes harus segera menemukan solusi agar lini depan tidak mandek. Jika Johnson terus gagal memenuhi ekspektasi, pertanyaan tentang siapa yang paling bertanggung jawab atas transfer ini akan semakin mengarah pada Friedkin Group dan Angus Kinnear. Akankah Everton mampu bangkit, atau justru semakin terpuruk karena kesalahan rekrutmen yang berulang?



