Arsenal Krisis Striker: Havertz Cedera, Gyokeres Diragukan, Merino Jadi Solusi?
Baca dalam 60 detik
- Kai Havertz dipastikan absen saat Arsenal menjamu Leeds United akibat cedera hamstring yang didapatnya bersama timnas Jerman.
- Viktor Gyokeres sebenarnya menjadi pengganti alami, tetapi performanya di Premier League belum meyakinkan dan ia sering diabaikan Mikel Arteta.
- Mikel Merino, yang bukan penyerang murni, berpotensi mengisi posisi nomor sembilan karena kemampuannya dalam link-play dan mencetak gol krusial.

Arsenal menghadapi dilema di lini depan jelang laga melawan Leeds United pada akhir pekan ini. Penyerang utama Kai Havertz dipastikan absen setelah mengalami cedera hamstring saat membela Jerman pada jeda internasional. Cedera yang sama juga menimpa pemain sayap Christos Tzolis, membuat lini serang The Gunners menipis. Manajer Mikel Arteta pun harus mencari formula baru untuk menjaga momentum timnya yang sedang dalam performa apik.
Havertz, yang menjadi pahlawan kemenangan di final Liga Champions musim lalu, telah menjelma sebagai ujung tombak andalan Arsenal musim ini. Ia sudah mencetak tiga gol di semua kompetisi dan menjadi pusat permainan serangan. Namun, riwayat cedera hamstring yang berulang membuat kehadirannya selalu dihantui risiko. Kabar baiknya, sumber internal Arsenal menyebut cedera kali ini hanya akan menepikan Havertz selama beberapa pekan, bukan berbulan-bulan. Meski demikian, ia kemungkinan besar tidak akan dipaksakan tampil sejak awal melawan Leeds.
Di bangku cadangan, Arsenal memiliki Viktor Gyokeres, penyerang yang didatangkan dari Sporting CP dengan reputasi mengilap. Bersama Swedia, Gyokeres baru saja mencetak gol di empat pertandingan Nations League berturut-turut, membuktikan ketajamannya di level internasional. Namun, performanya di Premier League belum konsisten. Musim lalu ia memang menjadi top skor klub dengan 15 gol liga, tetapi musim ini ia lebih sering menjadi penghangat bangku cadangan. Dari lima laga Premier League, ia tiga kali tidak dimainkan sama sekali. Satu-satunya penampilan sebagai starter di Carabao Cup melawan Ipswich Town pun berjalan buruk: ia kehilangan bola tujuh kali dari hanya 18 sentuhan.
Gyokeres memang dikenal sebagai penyerang yang mengandalkan kecepatan dan pergerakan di belakang garis pertahanan. Namun, Leeds United asuhan Daniel Farke musim ini tampil disiplin dengan bertahan dalam blok rendah. Mereka belum terkalahkan di Premier League dan baru kebobolan tiga gol. Tanpa ruang untuk berlari, keunggulan utama Gyokeres akan netral. Arteta pun disebut lebih memilih tipe penyerang yang mampu turun ke lini tengah, membangun serangan, dan terlibat dalam kombinasi umpan pendek—kualitas yang dimiliki Havertz.
"Gyokeres tidak bisa memberikan link-play elegan seperti Havertz, sehingga Arteta mungkin memilih solusi berbeda pada Sabtu," tulis analisis Football FanCast.
Alternatif yang mencuat adalah Mikel Merino. Gelandang asal Spanyol itu didatangkan dari Real Sociedad sebagai gelandang nomor delapan, tetapi justru bersinar ketika ditempatkan sebagai penyerang tengah. Pada 2024/25, ia mencetak enam gol dalam 12 pertandingan sebagai striker, lalu menambah empat gol dalam 11 laga di musim berikutnya. Merino memang tidak secepat Gyokeres, tetapi kemampuannya menjaga bola, memberikan umpan kunci, dan menyelesaikan peluang dengan sentuhan halus membuatnya cocok dengan gaya Arsenal. Ia juga baru saja menyelamatkan Spanyol dengan tiga gol dari dua penampilan sebagai pengganti melawan Ceko dan Kroasia.
Musim ini, Merino belum pernah menjadi starter di Premier League, tetapi ia selalu tampil di lima pertandingan dan mencetak gol di Carabao Cup melawan Ipswich. Fleksibilitasnya menjadi nilai tambah di tengah krisis cedera. Arteta disebut tidak akan mengubah filosofi permainan hanya karena kehilangan Havertz. Mengganti peran dengan pemain bertipe sama—seperti Merino—lebih masuk akal daripada memaksakan Gyokeres yang karakternya berbeda.
Keputusan Arteta akan menjadi ujian kedalaman skuad Arsenal. Jika Merino kembali efektif sebagai false nine, ia bisa mengukuhkan diri sebagai opsi jangka panjang, bahkan setelah Havertz pulih. Sebaliknya, jika eksperimen ini gagal, tekanan untuk mendatangkan striker murni pada bursa transfer berikutnya akan semakin besar. Laga melawan Leeds United bukan sekadar tiga poin, tetapi juga ajang pembuktian bahwa Arsenal mampu beradaptasi tanpa pemain kunci. Mampukah Merino menjawab tantangan ini?



