PDI Perjuangan Malang Bangun Sekolah Tahfidz Al-Qur'an Puan Maharani, Simbol Politik Pengabdian?
Baca dalam 60 detik
- DPD PDI Perjuangan Jawa Timur merencanakan pendirian Sekolah Tahfidz Al-Qur'an Puan Maharani di Kabupaten Malang.
- Inisiatif ini disebut sebagai terjemahan gagasan Said Abdullah untuk memperkuat nilai spiritual dan moral generasi muda.
- Langkah tersebut menegaskan strategi partai mengawinkan ideologi dengan program sosial di tingkat akar rumput.

PDI Perjuangan Jawa Timur mengumumkan rencana pembangunan Sekolah Tahfidz Al-Qur'an Puan Maharani di Kabupaten Malang. Pengumuman disampaikan dalam acara Konsolidasi Internal Partai dan Bakti Sosial di Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, yang dihadiri sejumlah pengurus daerah.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Didik Gatot Subroto, menyatakan bahwa pendirian sekolah tahfidz bukan sekadar membangun institusi pendidikan formal. Menurutnya, langkah ini bertujuan mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan akhlak mulia. "Membangun masa depan tidak cukup dengan mencerdaskan pikiran, tetapi juga harus memuliakan budi pekerti," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir, menambahkan bahwa rencana ini merupakan implementasi dari gagasan Said Abdullah, Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan. Gagasan tersebut dinilai sebagai amanah pemikiran yang perlu diwujudkan dalam bentuk nyata. "Politik pengabdian tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi tentang bagaimana gagasan menjelma manfaat bagi masyarakat," kata Abdul Qodir.
Inisiatif ini menggarisbawahi pergeseran strategi partai politik dalam merawat basis massa. Jika sebelumnya partai kerap diidentikkan dengan mesin elektoral, kini PDI Perjuangan mencoba menancapkan pengaruh melalui program pendidikan berbasis nilai keagamaan. Langkah tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang menekankan pentingnya membumikan Pancasila dan menjadikan politik sebagai jalan pengabdian.
Pengamat politik dari Universitas Brawijaya, Anang Sujoko, menilai bahwa pendirian sekolah tahfidz oleh partai politik memiliki dimensi ganda. "Di satu sisi, ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang positif. Namun, di sisi lain, publik perlu memastikan bahwa lembaga pendidikan ini benar-benar dikelola secara profesional dan tidak menjadi alat mobilisasi politik jangka pendek," ujarnya saat dihubungi terpisah.
"Membangun masa depan tidak cukup dengan mencerdaskan pikiran, tetapi juga harus memuliakan budi pekerti." โ Didik Gatot Subroto, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang
Rencana pembangunan sekolah tahfidz ini juga menimbulkan pertanyaan tentang sumber pendanaan dan status hukum lembaga. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai anggaran, jadwal konstruksi, maupun badan hukum yang akan menaungi sekolah tersebut. DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang menyatakan akan merinci hal itu pada tahap berikutnya.
Di sisi lain, langkah PDI Perjuangan ini dapat dibaca sebagai respons terhadap meningkatnya kompetisi perebutan pengaruh di ruang pendidikan dan keagamaan. Beberapa partai lain juga telah lebih dulu mendirikan lembaga pendidikan atau pesantren sebagai bagian dari konsolidasi basis. Dengan demikian, Sekolah Tahfidz Al-Qur'an Puan Maharani bukan hanya proyek fisik, melainkan penanda arah baru kontestasi politik di tingkat lokal.
Ke depan, publik akan menyoroti sejauh mana gagasan "Pertalian Cinta" yang diusung DPD PDI Perjuangan Jawa Timur mampu diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi warga Malang. Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi di daerah lain. Namun, jika tidak dikelola transparan, ia berisiko menjadi simbol tanpa substansi. Bagaimana partai memastikan sekolah ini tetap independen dan berorientasi pada kualitas pendidikan? Itulah ujian sesungguhnya dari politik pengabdian.



