Menuju November 2026: Sembilan Suara Warga AS dan Ujian Pertama bagi Trump 2.0
Baca dalam 60 detik
- Pemilih AS akan memberikan penilaian nasional pertama terhadap pemerintahan kedua Donald Trump pada pemilu sela 3 November 2026, yang menentukan kendali DPR dan Senat serta 36 kursi gubernur.
- Panel pemilih Guardian mengungkap sembilan perspektif berbeda—dari mahasiswa ekonomi yang merasa bekerja lebih keras namun tertinggal, hingga pengusaha yang kesulitan mendapat tenaga kerja dan warga imigran yang merasa terancam.
- Isu ekonomi, imigrasi, perang Iran, dan kepercayaan terhadap institusi menjadi garis pemisah utama, dengan implikasi besar bagi dua tahun terakhir masa jabatan Trump dan arah politik AS pasca-2028.

Pada 3 November 2026, jutaan warga Amerika Serikat akan memberikan penilaian nasional pertama terhadap kepemimpinan Donald Trump di periode keduanya. Pemilu sela ini tidak hanya menentukan komposisi DPR dan Senat, tetapi juga 36 kursi gubernur—hasilnya akan membentuk wajah pemerintahan selama dua tahun terakhir dan menjadi barometer bagi pemilu presiden 2028.
Menjelang hari pemungutan suara, The Guardian merilis panel pemilih yang terdiri dari sembilan warga dari berbagai latar belakang politik dan geografis. Dari mahasiswa ekonomi di Detroit hingga pensiunan di Tennessee, dari pengusaha konstruksi di Texas hingga veteran di Georgia, jawaban mereka menggambarkan lanskap politik yang terfragmentasi namun memiliki benang merah: keresahan ekonomi yang mendalam, kekhawatiran tentang imigrasi dan keamanan, serta pertanyaan mendasar tentang arah negara.
Bagi banyak responden, ekonomi adalah luka terbuka. Seorang mahasiswa ekonomi di Detroit mempertanyakan mengapa kakeknya bisa menghidupi lima atau enam anak dengan pekerjaan serikat selama delapan jam, sementara ia harus berjuang dengan pekerjaan yang sama. Ia menyoroti kontradiksi antara klaim perusahaan tentang laba rekor dan kenyataan bahwa banyak orang harus mengambil dua atau tiga pekerjaan. Keluhan serupa datang dari seorang pemilik usaha konstruksi di Texas yang kesulitan mendapatkan tenaga kerja, menyebabkan rumah selesai lebih lambat, suku bunga naik, dan harga properti melambung.
Di sisi lain, seorang pensiunan Maga Republican di Tennessee mengaku hidupnya lebih baik karena merasa lebih aman dan berharap pada masa depan. Baginya, masalah harga gas hanyalah gangguan sementara. Namun, seorang pemilih independen di Georgia yang kecewa dengan Trump menggambarkan ekonomi "jauh lebih buruk"—harga bensin truknya melonjak dari $80 menjadi $120, dan ia memperkirakan akan mencapai $150. Ia juga khawatir tagihan listrik dan bahan makanan akan naik akibat biaya pengiriman.
"Kami bekerja lebih keras, tetapi kami semakin tertinggal. Mengapa CEO mengatakan perusahaan mencetak laba rekor sementara orang harus memiliki dua atau tiga pekerjaan?" — Justin Daniels, mahasiswa ekonomi, Detroit
Imigrasi dan kebijakan penegakan hukum menjadi titik gesekan lain. Seorang pemilih liberal di Georgia menyebut ICE (Immigration and Customs Enforcement) sebagai lembaga yang memberikan dampak negatif terbesar bagi masyarakat, dan menghentikannya akan menjadi batu pijakan untuk maju. Seorang warga Venezuela-Amerika di Georgia mengaku tidak pernah membayangkan harus membawa paspor ke mana-mana dan hidup dalam ketakutan meskipun ia warga negara AS. Sementara itu, seorang pemilih progresif di Wisconsin menyoroti "serangan terhadap komunitas imigran dan kelompok rentan lainnya" yang menurutnya akan membutuhkan waktu lama untuk pulih.
Perang Iran dan kebijakan luar negeri juga memecah opini. Seorang pemilih muda Republik di South Carolina memuji kesepakatan Trump untuk memperkuat pengaruh AS di Greenland dan berharap perang Iran berakhir cepat. Namun, seorang veteran di Georgia dengan tegas menyebut Trump, Netanyahu, dan Pete Hegseth sebagai penjahat perang. Seorang pemilih independen di Texas menginginkan agar AS menarik diri dari konflik dan fokus pada rakyatnya sendiri, sementara seorang pensiunan Maga Republican berharap perang berakhir dengan korban jiwa minimal.
Kepercayaan terhadap institusi dan arah demokrasi menjadi tema yang mengemuka. Seorang pemilih moderat berusia 85 tahun di California menyoroti penghancuran bangunan publik di Washington DC dan pembangunan yang tidak relevan dengan demokrasi, sambil mencatat bahwa Trump mendapat keuntungan miliaran dolar dari jabatannya. Seorang pemilih progresif di Wisconsin mengaku optimistis karena melihat gerakan akar rumput yang tumbuh, termasuk Democratic Socialists of America (DSA) yang menurutnya telah membuat dampak lebih besar dari Tea Party atau Occupy Wall Street. Sebaliknya, seorang pemilih Republik di South Carolina menganggap DSA sebagai ancaman yang ingin membongkar konsep Amerika dan Barat.
Bagi Indonesia, pemilu sela AS ini memiliki implikasi tidak langsung namun signifikan. Kebijakan luar negeri AS—terutama terkait Iran, China, dan perdagangan—akan mempengaruhi stabilitas kawasan Asia Tenggara. Ketegangan di Timur Tengah dapat mempengaruhi harga minyak dunia, yang berdampak pada subsidi energi dan inflasi domestik. Selain itu, arah kebijakan imigrasi dan perdagangan AS dapat mempengaruhi arus investasi dan ekspor Indonesia. Hubungan bilateral yang sudah terjalin akan sangat bergantung pada siapa yang mengendalikan Kongres dan seberapa besar ruang gerak presiden dalam dua tahun terakhir.
Dengan kurang dari sebulan menuju pemungutan suara, pertanyaannya bukan lagi sekadar siapa yang menang, tetapi seberapa dalam pergeseran politik yang akan terjadi. Akankah pemilih yang merasa tertinggal secara ekonomi memberikan suara protes? Akankah isu imigrasi dan perang mengalahkan faktor ekonomi? Dan yang terpenting, akankah hasil pemilu ini menjadi cermin bahwa Amerika Serikat masih mampu memperbaiki diri, atau justru memperdalam polarisasi yang sudah ada?



