Panas Ekstrem F1: Rompi Pendingin Picu Perpecahan di Antara Pembalap
Baca dalam 60 detik
- FIA mewajibkan rompi pendingin atau ballast 0,5 kg saat suhu diprediksi melampaui 31 derajat Celsius, memicu pro dan kontra di paddock.
- Sebagian pembalap menolak karena tidak nyaman dan tidak efektif sepanjang balapan, sementara yang lain menganggapnya sebagai terobosan performa.
- Perbedaan pendapat ini menguji prioritas tim: kenyamanan pembalap atau kecepatan mobil di tengah persaingan ketat musim 2026.

Pembalap Formula 1 terbelah menyikapi keberadaan rompi pendingin yang diwajibkan FIA pada balapan berisiko panas ekstrem. Perdebatan ini mencuat menjelang Grand Prix Singapura, balapan keempat dengan status "heat hazard" sepanjang musim 2026, ketika suhu udara diprediksi melampaui ambang batas 31 derajat Celsius.
Sejak insiden kelelahan panas di GP Qatar 2023, FIA bersama seluruh tim melakukan riset besar-besaran dan menghasilkan rompi standar yang mengalirkan air melalui sistem tabung. Regulasi menyatakan bahwa pada balapan dengan status heat hazard, pembalap harus memakai rompi tersebut atau menambah pemberat 0,5 kilogram pada mobil. Namun, desain awal dinilai kurang nyaman dan hanya efektif untuk beberapa lap pertama. FIA pun menyediakan insentif batas biaya: pengecualian 50.000 dolar AS bagi tim yang mampu menciptakan sistem pendingin tahan sepanjang balapan, serta 75.000 dolar AS untuk peningkatan kenyamanan dan efektivitas rompi.
Pembalap Mercedes, George Russell, memicu debat melalui wawancara dengan The Times. Ia mendesak FIA memperbaiki kerangka regulasi. Mercedes termasuk tim yang memilih tidak mengembangkan sistem khusus karena menilai insentif biaya tidak memadai dan lebih memilih mengalokasikan sumber daya teknik untuk mempercepat mobil W17. Russell berargumen, tenaga ahli yang dicurahkan untuk rompi yang hanya dipakai sesekali tidak akan berkontribusi pada peningkatan performa.
Pandangan Russell tidak banyak diamini. Sejumlah pembalap merasa sistem saat ini sudah cukup untuk mengatasi kondisi paling ekstrem, sementara yang lain menolak keberadaannya. Max Verstappen dari Red Bull dan Isack Hadjar termasuk yang paling vokal menentang. "Menurut saya ini harus dilarang, karena balapan memang seharusnya berat," ujar Hadjar di Singapura. Verstappen menambahkan, "Bagi saya tidak perlu. Memang panas, tapi ini bukan sauna, dan dengan rompi ini ada kabel-kabel mengganggu di mobil yang membatasi gerakan. Lagi pula, sistem ini tidak bertahan selama satu setengah jam."
Pembalap Alpine, Franco Colapinto, juga meremehkan. "Panas itu sudah menjadi bagian sejarah olahraga ini. Bagus ada sebagai opsi, tapi secara pribadi saya tidak suka, tidak nyaman," katanya. Rekan setim Russell, Kimi Antonelli, mengaku tidak memakai sistem standar karena dua pengalaman buruk pada musim debutnya. "Pertama, tidak bekerja selama yang diharapkan. Kedua, pompa gagal dan seluruh sesi berjalan dengan air bersuhu 50 derajat. Saya mengalami heat stroke setelahnya. Sejak itu saya memilih berlatih keras agar tidak perlu memakainya," ujarnya. Ia bersedia menerima solusi yang lebih baik asalkan ada kepastian kinerja.
"Setidaknya saya mendapat 15 hingga 20 lap yang nyaman, dan saya sudah bersyukur untuk itu." — Charles Leclerc, pembalap Ferrari
Charles Leclerc dari Ferrari memilih sikap pragmatis. Ia lebih memilih sistem yang tidak sempurna daripada tidak ada sama sekali. "Idealnya, jika ada rompi yang lebih baik, saya akan selalu menerimanya. Katakanlah 15 sampai 20 lap berjalan cukup baik, setelah itu Anda kepanasan seperti halnya dengan rompi lain. Setidaknya saya mendapat 15-20 lap, dan saya sudah bersyukur," tuturnya. Leclerc menambahkan, preferensi setiap pembalap berbeda dan itu wajar.
Di sisi lain, Carlos Sainz dari Williams justru menjadi pendukung tegas. "Jika ada satu hal yang berhasil kami kembangkan tahun ini, itu adalah rompi pendingin. Alex dan saya sangat senang memilikinya. Saya paham argumen Mercedes, tetapi kami memprioritaskannya lebih tinggi, dan itulah mengapa sistem kami bekerja lebih baik," kata Sainz. Esteban Ocon dari Haas bahkan merasakan manfaat performa langsung. "Ini peningkatan besar untuk aspek fisik. Memang tidak bertahan sepanjang balapan, hanya sekitar 40 menit, lalu cairannya menjadi panas. Tapi setidaknya sudah ada sesuatu, karena sepanjang karier saya sebelumnya tidak ada," ujarnya.
Perdebatan ini menyoroti dilema klasik dalam olahraga bermotor: kenyamanan pembalap versus keunggulan kompetitif. Mercedes, yang sedang bersaing ketat dengan McLaren, Red Bull, dan Ferrari, memilih fokus pada kecepatan mobil. Sementara tim seperti Williams dan Haas melihat investasi pada rompi sebagai keuntungan ganda—baik untuk kesehatan pembalap maupun konsistensi performa. FIA tampaknya berusaha menyeimbangkan keduanya melalui insentif biaya, tetapi respons pembalap menunjukkan bahwa solusi teknis saja tidak cukup tanpa penerimaan di paddock.
Ke depan, apakah FIA akan memperketat regulasi atau justru membiarkan tim memilih jalur masing-masing? Jika rompi pendingin terus menjadi sumber perpecahan, bukan tidak mungkin muncul tuntutan untuk standar yang lebih tegas—atau bahkan penghapusan kewajiban serupa. Yang jelas, suhu di lintasan tidak akan turun, dan tekanan untuk menjaga keselamatan tanpa mengorbankan daya saing akan terus menguji para pengambil keputusan.



