Asap Karhutla Serang 47 Orang Utan di Palangka Raya, Tim Medis Siaga
Baca dalam 60 detik
- Puluhan orang utan di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng terpapar ISPA akibat kabut asap karhutla yang memburuk.
- Tim medis Yayasan BOS memperketat pemantauan dan memberikan suplemen herbal untuk menjaga imun satwa dilindungi.
- Kejadian ini menyoroti dampak krisis lingkungan terhadap konservasi satwa dan perlunya tindakan darurat penanganan karhutla.

Sebanyak 47 orang utan yang menjalani rehabilitasi di Nyaru Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, teridentifikasi menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setelah terpapar kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah tersebut. Meskipun demikian, pihak yayasan memastikan kondisi satwa dilindungi itu masih dalam kategori ringan dan bisa ditangani.
Koordinator Dokter Yayasan BOS Nyaru Menteng, drh Agus Fahroni, mengungkapkan bahwa puluhan orang utan tersebut saat ini berada dalam pengawasan ketat tim medis. "Sekitar 47 orang utan memang teridentifikasi mengalami ISPA. Namun sejauh ini kondisinya masih relatif ringan dan dapat ditangani oleh tim medis kami," ujar Agus, Jumat (9/10).
Menurut Agus, paparan asap karhutla menjadi faktor risiko utama yang mengancam sistem pernapasan orang utan, terutama bagi individu yang masih dalam proses rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alami. "Kabut asap tentu menjadi hal yang harus kami waspadai karena dapat berdampak terhadap sistem pernapasan orang utan. Karena itu, pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala," tambahnya.
Untuk mencegah memburuknya kondisi, tim medis dan perawat meningkatkan pengawasan serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Langkah penanganan yang dilakukan meliputi pemberian suplemen herbal, vitamin, dan memastikan kebutuhan cairan satwa tercukupi guna mempercepat pemulihan dan menjaga daya tahan tubuh.
Insiden ini bukan kali pertama satwa di kawasan konservasi terdampak kabut asap. Pola serupa pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya ketika musim kemarau memicu titik api di lahan gambut. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi mengganggu proses rehabilitasi dan pelepasliaran orang utan yang membutuhkan kondisi lingkungan optimal.
Pemerhati lingkungan menilai bahwa kejadian ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk memperkuat penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Mereka juga mendesak adanya protokol evakuasi dan perlindungan satwa liar dalam situasi darurat kabut asap, mengingat pusat rehabilitasi seperti Nyaru Menteng menampung ratusan individu yang rentan.
"Kabut asap tentu menjadi hal yang harus kami waspadai karena dapat berdampak terhadap sistem pernapasan orang utan. Karena itu, pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala," tegas drh Agus Fahroni.
Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlangsung hingga beberapa pekan ke depan, risiko paparan asap terhadap satwa dan masyarakat sekitar diperkirakan tetap tinggi. Yayasan BOS berkomitmen melanjutkan perawatan intensif dan berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk mengantisipasi situasi terburuk.
Pertanyaannya, akankah pemerintah mengambil langkah konkret untuk menekan karhutla sebelum lebih banyak korban berjatuhan, baik manusia maupun satwa dilindungi?



