Ledakan Radio Misterius dari Galaksi Purba Terdeteksi, Melintasi 80% Sejarah Kosmos
Baca dalam 60 detik
- Astronom mendeteksi semburan radio cepat (FRB) dari galaksi yang terbentuk saat alam semesta berusia sekitar 3 miliar tahun, memecahkan rekor jarak lebih dari dua kali lipat.
- Sinyal ini melintasi sekitar 80% usia alam semesta, membuka peluang memetakan materi tak terlihat yang selama ini luput dari pengamatan teleskop optik.
- Temuan ini memicu pertanyaan baru tentang mekanisme sumber FRB dan kemungkinan bahwa fenomena serupa jauh lebih umum di alam semesta awal.

Astronom mengungkapkan penemuan semburan gelombang radio misterius yang telah melintasi lebih dari 10 miliar tahun cahaya sebelum akhirnya mencapai Bumi. Sinyal yang dijuluki FRB 20240304B ini diyakini sebagai fast radio burst (FRB) terjauh yang pernah terekam, berasal dari galaksi yang terbentuk ketika alam semesta baru berusia sekitar 3 miliar tahun. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Science ini menandai lompatan besar dalam upaya manusia memahami fenomena energi ekstrem di kosmos.
Fast radio burst adalah ledakan radio intens yang dalam hitungan milidetik mampu melepaskan energi setara dengan yang dipancarkan Matahari selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Sejak pertama kali terdeteksi pada 2007, lebih dari 10.000 FRB telah teridentifikasi, namun asal-usulnya masih menjadi teka-teki. Sebagian ilmuwan bahkan sempat berspekulasi tentang kemungkinan keterlibatan peradaban luar Bumi, meskipun teori yang paling banyak diterima mengarah pada magnetarโbintang neutron dengan medan magnet superkuat.
Penemuan FRB 20240304B berawal dari pengamatan menggunakan teleskop radio MeerKAT di Afrika Selatan. Tim peneliti kemudian melacak galaksi asal sinyal tersebut dengan bantuan Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) milik NASA. Data JWST menunjukkan bahwa burst ini berasal dari galaksi muda berukuran kecil yang sedang membentuk bintang dengan laju sangat tinggi, namun miskin unsur logam. "Saat ledakan itu terjadi, belum ada Bumi, belum ada Matahari," ujar Dr Themiya Nanayakkara dari University of Sydney, salah satu peneliti utama, seperti dikutip dari Guardian.
Yang membuat temuan ini kian menarik, FRB dapat berfungsi sebagai alat ukur kosmik yang unik. Partikel yang dilewati gelombang radio memengaruhi sinyal tersebut, sehingga ilmuwan dapat menghitung jumlah materi yang tidak terlihat oleh teleskop optik. Prof Matthew Bailes dari Swinburne University, salah satu astrofisikawan yang pertama kali menemukan FRB, menyebut paper ini sebagai "validasi betapa kuatnya FRB untuk menyelidiki alam semesta" dan "cara sangat mendasar untuk menghitung berapa banyak atom di alam semesta".
Dr Sara Webb, astrofisikawan dari Swinburne University yang tidak terlibat dalam riset, menambahkan bahwa FRB dapat dimanfaatkan "sebagai penghitung garis pandang untuk mengetahui berapa banyak materi yang harus dilalui sinyal tersebut untuk mencapai Bumi". Ia menilai penemuan ini mengisyaratkan bahwa "FRB mungkin sangat umum di alam semesta awal".
Meski demikian, apakah FRB 20240304B bersifat sekali muncul atau akan berulang masih belum diketahui. Nanayakkara mengungkapkan bahwa sebagian FRB berulang secara terus-menerus, sebagian lagi berulang untuk sementara lalu berhenti, dan ada pula yang hanya muncul sekali dan tidak pernah terlihat lagi. "Hal menyenangkan tentang FRB adalah kita tidak perlu tahu apa penyebabnya untuk melakukan sebagian ilmu yang sedang kami kerjakan sekarang," ujarnya.
Bagi Indonesia, temuan ini bukan sekadar kabar dari langit jauh. Pemetaan materi tak terlihat melalui FRB dapat memperkaya pemahaman global tentang struktur alam semesta, yang pada gilirannya berdampak pada pengembangan teknologi komunikasi radio dan instrumen astronomi. Observatorium Bosscha dan sejumlah fasilitas riset di dalam negeri memiliki peluang untuk terlibat dalam jaringan pengamatan FRB internasional, terutama dengan semakin banyaknya data yang dibuka untuk publik. Kolaborasi semacam ini dapat mendorong kapasitas sumber daya manusia Indonesia di bidang astrofisika dan ilmu data.
Ke depan, para astronom berharap dapat mendeteksi lebih banyak FRB dari jarak ekstrem untuk memetakan distribusi materi di alam semesta awal. Pertanyaan besarnya kini: apakah ledakan radio purba ini akan terulang, dan apa yang bisa diungkap tentang periode paling awal kosmos? Jika FRB memang lazim di alam semesta muda, teleskop generasi berikutnya mungkin akan membuka jendela baru menuju pemahaman asal-usul dan evolusi alam semesta.



