Israel Luncurkan Film Tandingan NAZA, Situsnya Sempat Mengaku Karya Abraham dan Szor
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Israel mempromosikan film daring berjudul NAZA: The Real Story yang meniru gaya dokumenter NAZA, termasuk wawancara anonim di atap Tel Aviv.
- Situs nazadocumentary.com awalnya secara keliru mengklaim sebagai halaman promosi NAZA karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, sebelum diubah menjadi platform film rival.
- Langkah ini memperdalam konflik antara pemerintah Israel dan para pembuat film yang diancam dicabut kewarganegaraannya, sementara NAZA akan dirilis gratis di situs Guardian mulai akhir November.

Pemerintah Israel melalui sejumlah kedutaannya aktif membagikan tautan film daring berjudul NAZA: The Real Story, sebuah produksi yang meniru gaya dokumenter NAZA garapan Yuval Abraham dan Rachel Szor. Film tandingan ini muncul di tengah upaya keras Israel membantah temuan dokumenter asli yang mengupas operasi militer di Gaza.
Dokumenter NAZA yang diproduksi The Guardian dan disutradarai peraih Oscar itu telah tayang di bioskop dan dijadwalkan diputar di lebih dari 50 negara. Pemerintah Israel mengecam film tersebut, bahkan mengumumkan rencana mencabut kewarganegaraan Abraham dan Szor dengan tuduhan pengkhianatan.
Dalam beberapa hari terakhir, kedutaan Israel menyebarkan tautan ke NAZA: The Real Story yang dihosting di situs nazadocumentary.com. Film ini mengadopsi beberapa elemen dokumenter asli, termasuk wawancara anonim yang direkam di atap gedung di Tel Aviv. Ariel Averbuch, seorang pengacara dan tentara cadangan Israel yang membuat film baru itu, menyebutnya sebagai “langkah ofensif” untuk mengalihkan perhatian dunia dari tuduhan pembunuhan warga sipil oleh militer Israel. Film tersebut mengklaim Israel memiliki “tentara paling bermoral di dunia”.
Analisis teknis menunjukkan selisih angka tersebut kemungkinan disebabkan oleh permintaan otomatis ke situs, baik dari manusia maupun bot, bukan jumlah penonton sesungguhnya. Ketika ditanya soal sumber klaim 42 juta itu, Averbuch mengaku tidak tahu dan merujuk pertanyaan ke tim teknisnya.
Militer Israel dilaporkan telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina di Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Sebuah komisi PBB menyebut kampanye militer tersebut sebagai genosida. Dokumenter NAZA memuat 24 wawancara dengan orang dalam militer Israel yang mengungkap bagaimana aparatus pengawasan massal berbantuan AI diaktifkan selama perang Gaza, termasuk sistem yang digunakan untuk membidik operatif Hamas dengan pengetahuan bahwa banyak warga sipil Palestina juga akan menjadi korban.
“Kami mengetahui bahwa pemerintah Israel mempromosikan film yang dihosting di situs yang awalnya secara keliru mengklaim sebagai dokumenter Yuval Abraham dan Rachel Szor. Ini upaya terang-terangan menyesatkan audiens dan mengalihkan perhatian dari pertanyaan mendesak yang diangkat NAZA,” ujar juru bicara The Guardian.
Kedutaan Besar Israel untuk Amerika Serikat yang membagikan film baru itu menyatakan Kementerian Luar Negeri tidak terlibat dalam produksi, dan hanya bermaksud “memperkuat pesan para pembuatnya serta memperkenalkan argumen yang menantang tuduhan palsu”. Pemerintah Israel pada Kamis lalu memberikan sertifikat penghargaan kepada pembuat film tersebut “atas kontribusi mereka terhadap diplomasi publik Israel”, dengan klaim produksi itu telah ditonton puluhan juta kali.
Reaksi keras tidak hanya datang dari pemerintah. Kepala Staf IDF Eyal Zamir menyatakan akan menggunakan “segala alat yang kami miliki” untuk melawan film NAZA, dan militer menerbitkan respons setebal 10 halaman. Dalam sepekan setelah pemutaran perdana di Venesia, Kementerian Kebudayaan Israel mengumumkan investigasi formal dan menyerukan pencabutan kewarganegaraan Abraham dan Szor. Demonstran berkumpul di luar rumah orang tua Szor menuntut hukuman mati, dan sebuah mural yang menggambarkan para pembuat film melalui bidikan senjata muncul di Kota Ashdod. Aktivis sayap kanan Mordechai David bahkan menggalang dana untuk membentuk tim yang akan “memburu” Abraham.
Di Festival Film London, produser NAZA, James Wilson, mengungkapkan bahwa reaksi balik dari politisi Israel tidak diantisipasi. “Mereka memperkirakan ketidaksenangan, tetapi tidak seagresif ini, dengan ancaman dan provokasi,” katanya. Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap Abraham dan Szor sangat berat, namun ia memilih melihat sambutan positif dunia terhadap film tersebut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana narasi sejarah dan operasi informasi menjadi medan pertempuran baru. Ketika sebuah film dokumenter dapat memicu ancaman pidana dan pencabutan kewarganegaraan, pertanyaan tentang kebebasan berekspresi dan peran platform digital dalam menyebarkan kontra-narasi menjadi semakin relevan. NAZA akan tersedia gratis di situs The Guardian mulai akhir November, memperluas jangkauan audiens global yang selama ini bergantung pada media sosial untuk mendapatkan informasi.
Apakah langkah pemerintah Israel ini akan efektif meredam temuan NAZA, atau justru memperkuat sorotan internasional terhadap isi dokumenter tersebut? Publik akan menilai dalam beberapa bulan ke depan, terutama saat NAZA dapat diakses bebas oleh siapa pun.



