Cat Deeley Akui Kecemasan Malam Hari soal Anak Usai Bercerai: "Saya Terlalu Banyak Khawatir"
Baca dalam 60 detik
- Presenter This Morning, Cat Deeley, mengaku sering terjaga di malam hari karena memikirkan masa depan kedua putranya setelah perpisahan dengan Patrick Kielty.
- Ia mengandalkan dukungan pengasuh dan tim profesional untuk menjaga keseimbangan kerja dan pengasuhan anak.
- Kepindahannya dari Los Angeles ke Inggris pada 2020 dilatarbelakangi kekhawatiran keselamatan dan keinginan memberi lingkungan lebih aman bagi anak-anak.

Presenter televisi Cat Deeley mengungkapkan bahwa ia kerap dilanda kecemasan mendalam mengenai masa depan kedua putranya, Milo (10) dan James (8), terutama pada malam-malam ketika ia sulit tidur. Perasaan ini muncul setelah perpisahannya dengan Patrick Kielty, yang diumumkan pada Juli 2025 setelah 13 tahun menikah.
Dalam wawancara dengan The Sun, Deeley mengaku bahwa kekhawatirannya justru meningkat seiring bertambahnya usia anak-anak. "Saya mungkin lebih mengkhawatirkan mereka sekarang dibandingkan saat mereka masih kecil. Saya hanya ingin mereka bahagia, dan saya cenderung terlalu banyak khawatir," ujarnya. Ia menggambarkan bagaimana pikirannya sering kali melingkar pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial: apakah anak-anak akan menemukan kebahagiaan, passion, dan cinta di masa depan.
Deeley tidak menampik bahwa perannya sebagai orang tua tunggal yang bekerja di industri hiburan menuntut sistem pendukung yang solid. Ia menyebut memiliki tim hebat, termasuk seorang pengasuh yang dianggapnya sebagai tangan kanan. "Saya punya pengasuh yang luar biasa, dia benar-benar luar biasa," katanya. Dukungan ini memungkinkannya tetap menjalani pekerjaan sebagai host This Morning sambil memastikan anak-anak terurus.
Keputusan untuk kembali ke Inggris pada 2020 bukan tanpa alasan. Sebelumnya, keluarga ini tinggal di Amerika Serikat selama beberapa tahun karena Deeley membawakan acara So You Think You Can Dance. Namun, sebuah insiden mengerikan di sebuah mal di Los Angeles—di mana Kielty dan putra sulung mereka terjebak dalam situasi penembakan—membuat mereka mempertimbangkan ulang keamanan keluarga. Deeley mengenang bagaimana ia menerima telepon dari Kielty yang memintanya menjemput mereka di persimpangan jalan karena mal ditutup dan orang-orang dievakuasi melalui pintu darurat. "Saat saya mengemudi, saya melihat helikopter, mobil berita, petugas pemadam kebakaran, dan tim SWAT. Itu sangat menakutkan," tuturnya.
Meskipun mengaku sulit beradaptasi dengan kehidupan di Inggris, Deeley merasa kepindahan itu perlu. Ia menyoroti memburuknya kondisi keamanan dan sistem kesehatan di Amerika Serikat pasca-pandemi. "Tidak terasa seaman dulu. Ada ketegangan yang sebelumnya tidak ada. Sistem kesehatan gagal total. Banyak orang rentan dengan masalah kesehatan mental serius yang terlewat dari perhatian," jelasnya.
Kisah Deeley mencerminkan tekanan yang dihadapi banyak orang tua, terutama mereka yang berada di bawah sorotan publik, dalam menyeimbangkan karier, kesehatan mental, dan pengasuhan anak. Perpisahan orang tua dapat memicu kecemasan berlebih terhadap kesejahteraan anak, seperti yang dialami Deeley. Dukungan sosial dan profesional menjadi kunci untuk menjaga stabilitas emosional.
Ke depan, pertanyaan tentang bagaimana selebritas mengelola kesehatan mental mereka di tengah tekanan publik dan pribadi akan terus relevan. Apakah industri hiburan menyediakan cukup ruang bagi figur publik untuk mengakui kerentanan mereka tanpa stigma? Deeley, setidaknya, telah membuka pintu percakapan itu.



