Ole Romeny: Trofi ASEAN Cup Obat Luka Gagal ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Ole Romeny menyebut gelar FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai kompensasi atas kegagalan Timnas Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026.
- Penyerang Fortuna Sittard itu tampil di empat laga, menyumbang satu gol dan empat assist, termasuk saat final melawan Thailand.
- Fokus berikutnya adalah Piala Asia 2027, sementara target jangka panjang diarahkan ke Kualifikasi Piala Dunia 2030.

Kemenangan Timnas Indonesia atas Thailand di final FIFA ASEAN Cup 2026 meninggalkan kesan mendalam bagi Ole Romeny. Penyerang berusia 26 tahun itu mengaku trofi tersebut menjadi penawar kekecewaan setelah mimpi tampil di Piala Dunia 2026 pupus.
Dalam laga yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5/10/2026), Indonesia menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4-2 setelah skor imbang 2-2 selama 120 menit. Romeny bermain 109 menit sebelum ditarik keluar karena kelelahan. Bahkan, ia sempat terjatuh di lapangan saat berlari merayakan penyelamatan penalti Emil Audero yang memastikan gelar juara.
"Sejujurnya, saya bahkan sudah tidak bisa berjalan dengan benar lagi," ujar Romeny, dikutip dari media Belanda, NOS.
Gelar ini terasa istimewa karena hampir setahun sebelumnya, Oktober 2025, Indonesia gagal melangkah ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah kalah 2-3 dari Arab Saudi dan 0-1 dari Irak di putaran keempat Kualifikasi zona Asia. "Sungguh luar biasa melihat dampaknya bagi masyarakat Indonesia saat ini. Sempat kecewa besar karena gagal lolos ke Piala Dunia, tapi saat itu memang belum waktunya bagi kami," tambahnya.
Perjalanan Romeny di turnamen ini menegaskan perannya sebagai motor serangan Garuda. Ia tidak absen dalam empat laga, dan puncaknya terjadi saat melawan Bangladesh di laga terakhir fase grup. Dalam kemenangan 9-2, pemain kelahiran Nijmegen itu mencatatkan empat assist sekaligus membawa Indonesia melaju ke final. Sebelumnya, ia juga mencetak gol via titik putih ke gawang Singapura.
Setelah menutup babak kualifikasi Piala Dunia 2026 dengan kekecewaan, Indonesia kini mengalihkan fokus ke agenda yang lebih prestisius. Awal tahun depan, skuad Garuda akan bersaing di Piala Asia 2027 yang berlangsung di Arab Saudi pada 7 Januari hingga 5 Februari 2027. Di grup, Indonesia akan menghadapi Jepang, Qatar, dan Thailand.
"Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya memenangkan gelar juara; memang sudah saatnya. Sekarang, mari kita bangun segalanya selangkah demi selangkah; Piala Dunia 2030 adalah target yang sangat bagus," lanjut Romeny.
Target jangka panjang pun mulai disusun. Kualifikasi Piala Dunia 2030 zona Asia belum memiliki jadwal resmi, tetapi AFC tengah menyiapkan perubahan sistem kompetisi tim nasional. Salah satu wacana yang mencuat adalah AFC Nations League yang ditargetkan mulai 2030 dan berpotensi terhubung dengan jalur kualifikasi Piala Dunia. Dalam format Piala Dunia 2030 saat ini, AFC mendapatkan delapan tiket langsung plus satu slot melalui playoff antarkonfederasi. Jumlah itu bisa bertambah jika FIFA menyetujui usulan perluasan peserta menjadi 64 tim.
Bagi Indonesia, pencapaian di ASEAN Cup 2026 menjadi modal psikologis penting. Kegagalan di kualifikasi Piala Dunia 2026 tidak lagi dipandang sebagai akhir, melainkan batu loncatan. Romeny dan rekan-rekannya diharapkan dapat menjaga momentum menjelang Piala Asia 2027, yang akan menjadi ujian sesungguhnya di level kontinental.
Setelah menyelesaikan tugas negara, Romeny akan kembali ke Belanda untuk memperkuat Fortuna Sittard di Eredivisie 2026/2027. Klubnya dijadwalkan menjamu FC Twente pada Minggu (11/10/2026) dini hari WIB. Ia bertekad membawa performa apik bersama Timnas ke level klub.
Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan gelar ASEAN Cup ini sebagai fondasi menuju Piala Asia 2027 dan Kualifikasi Piala Dunia 2030? Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: kekecewaan telah digantikan oleh harapan baru.



