OpenAI Rilis 722 Makalah Matematika Buatan AI, Picu Perdebatan Etika di Kalangan Ilmuwan
Baca dalam 60 detik
- OpenAI mempublikasikan 722 makalah matematika yang dihasilkan model AI internal, mencakup bidang teori bilangan dan geometri aljabar, dengan klaim terkait tiga Masalah Hadiah Milenium.
- Langkah ini memicu kekhawatiran komunitas matematika karena model tidak diverifikasi formal dan berpotensi mengancam integritas penelitian, serta dianggap mengabaikan seruan penghentian pengujian pada model proprietary.
- OpenAI berencana mendanai lokakarya dan konferensi untuk hasil matematika buatan AI, sementara para ahli menuntut transparansi dan verifikasi ketat sebelum hasil diakui.

OpenAI kembali mengguncang dunia akademik dengan mengumumkan publikasi 722 makalah matematika yang dihasilkan oleh model kecerdasan buatan internal mereka. Langkah ini diambil sekitar sebulan setelah perusahaan mengklaim bahwa model tersebut berhasil memecahkan salah satu masalah matematika paling terkenal yang belum terpecahkan. Makalah-makalah tersebut kini dapat diakses publik melalui repositori GitHub, namun model yang menghasilkannya masih belum dibuka untuk pengguna eksternal.
Koleksi makalah ini mencakup berbagai bidang seperti teori bilangan dan geometri aljabar. Menurut laporan The Wall Street Journal, beberapa hasil di dalamnya berkaitan dengan tiga dari tujuh Masalah Hadiah Milenium yang masih belum terpecahkan, termasuk hipotesis Riemann yang legendaris. OpenAI mengungkapkan bahwa model mereka mencoba sekitar 4.000 masalah, dengan rata-rata setiap hasil membutuhkan waktu pemrosesan setara tiga jam penggunaan ChatGPT Pro. Ini menunjukkan skala komputasi yang masif dan biaya yang tidak sedikit.
Profesor matematika terkemuka dari Universitas Rutgers, Alex Kontorovich, memberikan komentar mengejutkan melalui platform X. Ia menyatakan bahwa jika seorang manusia yang menghasilkan salah satu bukti terkait hipotesis Riemann, maka orang tersebut layak mendapatkan Fields Medal secara instan. Pernyataan ini menggambarkan betapa signifikannya klaim tersebut di mata komunitas matematika, sekaligus menimbulkan skeptisisme karena verifikasi masih dipertanyakan.
"Jika manusia yang melakukan ini, itu akan langsung mendapat Fields Medal, tanpa keraguan," tulis Alex Kontorovich di X, seperti dikutip dari sumber.
OpenAI mengakui bahwa banyak bukti dilengkapi dengan formalisasi Lean, sebuah bahasa pemrograman untuk verifikasi matematika secara komputasional, serta 10 ringkasan rantai pemikiran model dan data sumber daya komputasi yang digunakan. Namun, perusahaan juga mengakui bahwa bukti tanpa verifikasi formal mungkin mengandung kesalahan dan berjanji akan menangani masalah yang teridentifikasi. Ini menimbulkan pertanyaan tentang reliabilitas hasil yang dipublikasikan secara massal.
Dalam upaya membentuk rilis ini, OpenAI bekerja sama dengan Advisory Group on Mathematics and Artificial Intelligence dari Institute for Advanced Study, yang minggu lalu mengeluarkan pedoman berdasarkan masukan dari lebih dari 600 matematikawan. OpenAI mengklaim mengikuti rekomendasi tersebut, kecuali satu hal: kelompok penasihat meminta laboratorium AI menghentikan pengujian masalah matematika frontier pada model proprietary, namun OpenAI menyatakan akan terus melakukannya. Keputusan ini memicu kritik karena dianggap mengabaikan etika penelitian.
Rilis ini terjadi setelah periode ketegangan antara OpenAI dan komunitas matematika. Sebelumnya, OpenAI mengumumkan bahwa model AI internal mereka memecahkan masalah eksistensi dan kelancaran Navier-Stokes, dengan mengerahkan hingga 10.000 agen AI secara paralel selama sekitar 88 jam dan biaya jutaan dolar. Pengumuman itu memicu perselisihan atribusi dan surat terbuka dari lebih dari dua lusin penerima Fields Medal yang memperingatkan bahwa pendekatan industri tersebut dapat merusak matematika sebagai bidang ilmu.
Menurut laporan The Wall Street Journal, rilis hari Selasa juga terjadi setelah periode sibuk di mana para matematikawan bergegas mempublikasikan karya berbantuan AI mereka sendiri setelah tersiar kabar bahwa OpenAI akan membanjiri bidang ini dengan hasil baru. OpenAI berencana mendanai lokakarya, konferensi, dan program yang berfokus pada hasil matematika buatan AI, serta sedang berupaya merilis model yang menghasilkan makalah-makalah tersebut.
Perkembangan ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan penelitian matematika: apakah AI akan menjadi mitra yang mempercepat penemuan, atau justru mengancam integritas dan kredit bagi ilmuwan manusia? Dengan janji transparansi yang masih setengah hati, komunitas global menanti langkah konkret OpenAI untuk membuktikan bahwa klaim-klaimnya dapat diverifikasi secara independen.



