Leeds United dan Dilema Brenden Aaronson: Saatnya Akademi Ambil Alih?
Baca dalam 60 detik
- Brenden Aaronson kembali kehilangan tempat utama di Leeds United setelah hanya mencetak satu gol di musim 2026/27.
- Manajer Daniel Farke kini lebih memilih Harry Wilson dan Noah Okafor untuk mengisi posisi di belakang penyerang tunggal.
- Callum Mills, gelandang serang 18 tahun, siap mencuri kesempatan setelah mencatat sejarah sebagai pencetak hat-trick termuda di EFL Trophy.

Brenden Aaronson menghadapi kenyataan pahit di Leeds United. Setelah sempat menjadi andalan, gelandang serang asal Amerika Serikat itu kini tersingkir dari starting XI dan masa depannya di Elland Road semakin tidak pasti. Pelatih Daniel Farke lebih memilih opsi lain, sementara seorang talenta muda dari akademi mulai mengetuk pintu tim utama.
Sejak promosi ke Premier League, Leeds memang dikenal gemar merombak skuad. Mereka mendatangkan sepuluh pemain pada musim panas 2025 dan tujuh pemain lagi setahun kemudian. Dari 17 rekrutan itu, sembilan di antaranya langsung menjadi langganan starter. Kebijakan ini membuat pemain seperti Aaronson harus rela kehilangan menit bermain.
Aaronson sebenarnya sempat menunjukkan sinyal kebangkitan pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Dalam rentang tujuh pertandingan, ia mencetak tiga gol dan dua assist. Namun, performa itu tidak berlanjut. Ia tidak lagi mencetak gol dalam 17 laga sisa Premier League musim lalu. Inkonsistensi menjadi masalah utamanya.
Musim ini, situasinya tidak membaik. Aaronson dimainkan sejak awal melawan Nottingham Forest, tetapi ditarik keluar saat turun minum dalam laga kontra Brentford. Sejak itu, ia tidak pernah lagi menjadi starter di liga. Satu-satunya golnya tercipta saat Leeds dihancurkan Chelsea 6-3 di Carabao Cup. Itu pun menjadi satu-satunya kontribusi golnya di musim 2026/27.
Farke kini mengandalkan formasi tiga bek dan dua wing-back, dengan dua penyerang. Dominic Calvert-Lewin menjadi ujung tombak, sementara posisi di belakangnya diperebutkan. Harry Wilson dan Noah Okafor saat ini berada di depan Aaronson dalam hierarki. Okafor bahkan tampil impresif dengan enam gol dalam tujuh laga terakhir Premier League musim lalu.
Di tengah keterpurukan Aaronson, muncul nama Callum Mills. Remaja 18 tahun itu mencuri perhatian selama pramusim. Ia bermain 46 menit melawan Wrexham dan 50 menit kontra Sunderland. Dalam laga melawan Sunderland, ia tidak terlihat canggung menghadapi tim Premier League. Pengamat dari Yorkshire Evening Post, Graham Smyth, menilai Mills 'terlihat menjanjikan' dan memiliki 'beberapa momen bagus dalam transisi'.
"Saya merasa seperti pemain yang cukup kreatif. Saya tidak suka bermain sederhana sepanjang waktu, tetapi saya melakukan apa yang saya pikir benar di lapangan," ujar Mills setelah menandatangani kontrak profesional pertamanya.
Mills memang bukan tipikal pemain satu posisi. Meski aslinya gelandang serang, ia pernah dimainkan sebagai gelandang bertahan, winger, dan penyerang. Fleksibilitas ini membuatnya cocok dengan sistem Farke. Di level U18 Premier League musim lalu, ia mencetak lima gol dan empat assist dalam 21 penampilan. Puncaknya, ia mencetak hat-trick melawan Barnsley di EFL Trophy dan menjadi pencetak hat-trick termuda dalam sejarah kompetisi tersebut.
Bagi Leeds, investasi pada pemain muda seperti Mills bisa menjadi jalan keluar yang lebih menjanjikan ketimbang terus berharap pada Aaronson. Dengan kontrak Aaronson yang masih menyisakan waktu, klub mungkin akan kesulitan melepasnya. Namun, jika performa tidak kunjung membaik, kursi di bangku cadangan bisa menjadi tempat permanen baginya.
Pertanyaannya, apakah Farke berani memberikan kesempatan lebih besar kepada Mills? Atau ia akan tetap setia pada pemain senior yang sudah terbukti, meski sedang dalam performa buruk? Keputusan ini akan menentukan arah lini serang Leeds United musim ini.



