Hark Pro, Asisten AI yang Klaim Lebih Peduli Privasi, Siap Tantang Raksasa Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Hark, startup yang didirikan Brett Adcock, resmi meluncurkan Hark Pro, asisten AI yang dirancang untuk mengoperasikan komputer pengguna secara penuh.
- Berbeda dari produk sejenis, Hark menonjolkan pendekatan privasi dengan tidak menjual data dan menampilkan proses navigasi agen secara transparan.
- Peluncuran ini menandai persaingan di pasar asisten AI yang kian ketat, dengan Hark berambisi merilis perangkat keras AI-native pada 2027.

Startup Hark, yang didirikan kurang dari setahun lalu oleh Brett Adcock, resmi meluncurkan Hark Pro, sebuah asisten AI yang mengedepankan privasi pengguna. Peluncuran ini menandai babak baru persaingan di pasar asisten digital yang selama ini didominasi pemain besar seperti OpenAI dan Meta.
Hark Pro menawarkan pengalaman layar penuh dengan antarmuka mirip beranda, lengkap dengan dialog chat terpusat dan feed berisi saran tindakan yang bisa diambil AI. Pengguna dapat menghubungkan asisten ini ke email, kalender, hard drive, hingga kartu kredit, lalu membiarkannya menyelesaikan tugas-tugas digital secara mandiri. Layanan ini tersedia gratis, dengan opsi berlangganan bagi pengguna berat.
Yang membedakan Hark dari kompetitor adalah pendekatannya yang tidak sekadar menjadi aplikasi, melainkan berambisi menjadi sistem operasi untuk komputer AI masa depan. Abidur Chowdhury, mantan desainer Apple yang kini memimpin desain di Hark, menegaskan bahwa perusahaannya tidak berfokus pada penciptaan AGI atau solusi medis, melainkan membangun antarmuka pengguna yang benar-benar memanfaatkan kecerdasan buatan.
Dalam demo yang dilakukan Chowdhury, Hark Pro secara proaktif mengingatkan tentang pengeluaran yang perlu disetujui, email yang harus dibalas, jadwal rapat, hingga menawarkan diri memesan tiket penerbangan. Kemampuan ini menunjukkan potensi asisten AI untuk mengambil alih beban administratif harian. Chowdhury juga mengisahkan momen ketika asisten tersebut mengenali bahwa seorang kolega perlu memperbarui registrasi kendaraan di DMV California dan menyelesaikannya melalui situs web lembaga tersebut.
Salah satu keputusan desain yang mencolok adalah menampilkan jendela kecil yang memperlihatkan bagaimana agen AI menjelajahi web saat menjalankan tugas. Langkah ini, menurut Chowdhury, bertujuan membangun kepercayaan pengguna bahwa agen bekerja dengan benar. Transparansi semacam ini menjadi nilai jual utama di tengah kekhawatiran atas keamanan siber dan penyalahgunaan data oleh perusahaan teknologi besar.
"Kami tidak di sini untuk menjual iklan dan mencuri data Anda," tegas Chowdhury, menegaskan posisi Hark yang berbeda dari Meta atau OpenAI.
Meski demikian, untuk benar-benar memanfaatkan model AI canggih, pengguna tetap harus menyerahkan seluruh kehidupan digitalnya. Pertanyaannya, apakah publik akan merasa nyaman jika perusahaan seperti Meta membuat profil terperinci tentang teman dan keluarga mereka? Chowdhury menegaskan bahwa Hark hanya memproses data yang berkaitan dengan tugas, bukan untuk profiling masif.
Keunggulan Hark Pro, klaim Chowdhury, terletak pada kemampuannya menggantikan peran komputer secara menyeluruh. "Silakan bandingkan dengan yang lain, bersikap kritis. Mungkin tidak lebih cepat dari Muse, tapi hasilnya lebih baik dan bekerja end-to-end tanpa meminta Anda mengambil alih di tengah jalan," ujarnya.
Namun, pertanyaan besar masih menyelimuti: model seperti apa yang paling cocok untuk asisten AI pribadi? Hark memilih model yang dilatih khusus untuk penggunaan komputer, yang membuatnya lebih cepat dan murah untuk tugas tersebut, tetapi belum jelas seberapa besar trade-off dalam hal pengetahuan luas dan kemampuan seperti LLM frontier.
Hark juga menjanjikan perangkat keras AI-native pada 2027. Chowdhury enggan mengungkap bentuknya, tetapi ia menyebut produk pertama mereka "belum pernah ada sebelumnya." Ia juga menyoroti kejanggalan perangkat wearable dengan kamera. "Menarik sekali, kita sudah punya AI dan chatbot, tapi masih mengetik dengan keyboard. Lima puluh tahun kemudian, masa depan komputasi masih berupa terminal," sindirnya.
Bagi Indonesia, kehadiran asisten AI seperti Hark Pro membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, produktivitas pengguna bisa meningkat pesat, terutama bagi pekerja remote dan pelaku UMKM yang ingin mengotomatisasi tugas administratif. Di sisi lain, isu privasi dan keamanan data menjadi perhatian serius, terlebih dengan masih lemahnya literasi digital di sebagian masyarakat. Regulasi perlindungan data pribadi yang ada perlu diperkuat agar adopsi teknologi ini tidak menimbulkan risiko baru.
Ke depan, apakah Hark mampu membuktikan bahwa pendekatan privasi dan transparansi bisa bersaing dengan raksasa teknologi yang memiliki sumber daya jauh lebih besar? Ataukah ini hanya gimmick sesaat sebelum perangkat keras mereka benar-benar terwujud? Publik akan menantikan bukti nyata, bukan sekadar janji.



