GameStop Jual PS5 Pro Seharga Rp22 Juta, Konsol Rumah Kini Setara PC Gaming
Baca dalam 60 detik
- GameStop menetapkan harga PS5 Pro di angka $1.399, setara Rp22 juta, memicu kekhawatiran bahwa hobi bermain gim kian sulit dijangkau konsumen biasa.
- Kebijakan ini bukan hanya soal inflasi, melainkan sinyal pergeseran struktural di industri gim yang mulai memposisikan konsol sebagai barang mewah.
- Jika tren ini berlanjut, pasar gim Indonesia yang sangat bergantung pada konsol generasi sebelumnya berpotensi mengalami perlambatan adopsi.

Harga konsol PlayStation 5 Pro di jaringan ritel gim terbesar Amerika Serikat, GameStop, melonjak ke level $1.399 atau sekitar Rp22 juta. Angka itu setara dengan harga sebuah PC gaming rakitan kelas menengah, dan menandai pertama kalinya sebuah konsol rumah diposisikan setara dengan perangkat komputasi performa tinggi.
Lonjakan ini bukan fenomena tunggal. Walmart dan Best Buy dikabarkan menerapkan patokan harga serupa, mengindikasikan bahwa kenaikan tersebut bersifat sistemik di pasar ritel Amerika. Yang lebih mengejutkan, unit pre-owned atau bekas justru dipatok lebih mahal, yakni $1.329,99 hingga $1.499,99, dengan alasan yang disebut "disengaja" dalam memo internal yang bocor ke publik awal Oktober lalu.
Sejumlah analis menilai anomali harga unit bekas yang lebih mahal dari unit baru berkaitan dengan maraknya praktik jailbreak. Konsol bekas dinilai lebih mudah dimodifikasi untuk menjalankan perangkat lunak bajakan, sehingga permintaannya tetap tinggi di kalangan gamer teknis. GameStop, menurut bocoran memo tersebut, secara sadar memanfaatkan celah ini untuk memaksimalkan margin.
"Konsol pre-owned akan memiliki harga lebih tinggi daripada konsol baru โ ini disengaja," demikian bunyi memo internal GameStop yang dipublikasikan akun Nintendeal.
Faktor lain yang tak bisa diabaikan adalah gelombang antisipasi menyambut Grand Theft Auto 6. Peluncuran gim paling dinanti dekade ini diprediksi mendorong lonjakan permintaan konsol secara global, dan GameStop tampaknya ingin mencaplok keuntungan sebelum gelombang itu benar-benar terjadi. Namun, strategi ini berisiko mengorbankan basis konsumen kasual yang selama ini menjadi tulang punggung ritel gim fisik.
Di Indonesia, dampak kebijakan ini tidak serta-merta terasa karena PS5 Pro belum menjadi perangkat arus utama. Namun, sinyalnya jelas: harga konsol global sedang bergerak ke arah yang tidak lagi ramah bagi kelas menengah. Importir dan distributor lokal biasanya menyesuaikan harga dalam 3โ6 bulan setelah penetapan harga resmi di pasar Amerika, yang berarti kenaikan serupa bisa merembet ke pasar Tanah Air pada awal 2027.
Lebih dari sekadar persoalan harga, fenomena ini menggarisbawahi pergeseran posisi konsol dari perangkat hiburan massal menjadi barang mewah. Jika tren berlanjut, industri gim berisiko kehilangan generasi pemain baru yang selama ini direkrut melalui harga konsol yang terjangkau. Pertanyaannya, akankah Sony dan Microsoft menyesuaikan strategi harga, atau justru membiarkan pasar bergerak ke arah model langganan yang mengunci konsumen pada ekosistem digital?



