VHS Jadul Disulap Jadi Konsol Game Modern, Bisa Mainkan Doom dan Super Mario Bros
Baca dalam 60 detik
- Seorang YouTuber teknologi berhasil mengubah pemutar VHS menjadi sistem game interaktif dengan memanfaatkan FPGA dan mikrokontroler modern.
- Proyek ini menghidupkan kembali konsep FMV (Full Motion Video) yang populer di era 1980-an, namun dengan gameplay yang jauh lebih responsif.
- Eksperimen ini menunjukkan potensi teknologi retro sebagai kanvas kreatif bagi pengembang dan penggemar game independen.

Seorang kreator konten teknologi yang menyebut dirinya Throaty Mumbo telah membuktikan bahwa pita VHS bukan sekadar artefak masa lalu. Frustrasi dengan konsol game berbasis VHS ActionMax (1987) yang dinilainya lambat dan tidak akurat, ia membangun sistem game FMV (Full Motion Video) modern yang mampu menjalankan versi modifikasi dari Doom dan Super Mario Bros. Proyek ini didokumentasikan dalam sebuah video yang memperlihatkan proses transformasi dari kekecewaan terhadap teknologi usang menjadi inovasi yang menggabungkan nostalgia dengan perangkat keras mutakhir.
ActionMax, konsol yang dirilis pada 1987, memang menawarkan konsep unik: pemain menembak target di layar TV sambil video VHS diputar. Namun, interaktivitasnya sangat terbatas karena hanya mengandalkan sensor cahaya dan reaksi pemain terhadap adegan yang sudah direkam. Mumbo, yang mengaku menyukai "teknologi aneh dan tidak praktis", awalnya mencoba menghidupkan kembali sistem tersebut. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk menyiapkannya, ia menyimpulkan bahwa ActionMax benar-benar gagal memberikan pengalaman bermain yang memuaskan. Meski demikian, eksperimen itu tidak sia-sia; justru menjadi pemicu untuk menciptakan alternatif yang lebih baik.
Dalam pembangunannya, Mumbo menggunakan papan DE1-SoC FPGA dan mikrokontroler Raspberry Pi RP2350. FPGA berfungsi sebagai otak yang mengatur overlay grafis dan beralih di antara delapan aliran video simultan yang diputar dari kaset VHS. Setiap kali adegan berganti, pemain harus menekan tombol yang tepat pada pengontrol untuk memilih aliran video berikutnya. Sebuah penghitung mencatat skor berdasarkan ketepatan waktu reaksi. Untuk versi Doom, gameplay-nya memang jauh dari game aslinya—lebih mirip game on-rails—tetapi dari segi audio dan visual, nuansa horor dan aksi khas Doom tetap terasa.
Sementara itu, versi Super Mario Bros menawarkan pendekatan berbeda. Di sini, SBC memainkan versi setia dari game klasik Nintendo, namun latar belakangnya digantikan dengan citra VHS yang stylish. Teknik serupa pernah digunakan pada game CD-ROM awal untuk meningkatkan daya tarik visual. Mumbo sebelumnya juga dikenal karena menjalankan game Sega dari piringan hitam, sebuah adaptasi sederhana dari cara perangkat lunak dimuat dari kaset pada komputer retro.
Bagi industri game di Indonesia, eksperimen semacam ini membuka peluang bagi pengembang lokal untuk bereksperimen dengan teknologi retro. Komunitas game indie Tanah Air yang sedang tumbuh dapat mengambil inspirasi dari pendekatan do-it-yourself (DIY) yang menggabungkan perangkat keras murah dan kreativitas. Selain itu, proyek ini menunjukkan bahwa platform lama seperti VHS masih memiliki nilai nostalgia yang bisa dikomersialkan, misalnya untuk instalasi seni interaktif atau pameran game retro.
"Saya suka teknologi yang aneh dan tidak praktis," ujar Mumbo dalam videonya, seperti dikutip dari kanal YouTube-nya. "ActionMax adalah ide bagus, tapi eksekusinya buruk. Saya pikir saya bisa membuatnya lebih baik dengan teknologi yang ada sekarang."
Ke depan, pendekatan ini dapat mendorong lebih banyak kreator untuk mengeksplorasi batas antara media fisik dan digital. Dengan semakin mudahnya akses ke FPGA dan mikrokontroler, bukan tidak mungkin akan muncul komunitas yang secara khusus mengembangkan game berbasis media penyimpanan lawas. Apakah VHS akan menjadi platform game niche berikutnya, atau ini hanya sekadar proyek hobi yang menarik perhatian sesaat? Waktu yang akan menjawab, tetapi setidaknya Mumbo telah membuktikan bahwa inovasi tidak selalu harus meninggalkan masa lalu.


