Hamilton Ungkap Restorasi Total Ferrari F40: Dari Debu 30 Tahun ke Monza
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton merilis video restorasi Ferrari F40 yang disimpan 30 tahun dan hanya menempuh 69 km.
- Proses restorasi dilakukan di Maranello, melibatkan insinyur Ferrari, dan memakan waktu berminggu-minggu.
- Hamilton mengungkapkan mimpi masa kecilnya memiliki F40, yang kini menjadi bagian dari perjalanannya bersama Ferrari.

Lewis Hamilton, juara dunia Formula 1 tujuh kali, telah merilis video lengkap restorasi Ferrari F40 miliknya di kanal YouTube. Video ini muncul setelah ia memperkenalkan mobil tersebut menjelang Grand Prix Italia tahun ini. Mobil ikonik itu ditemukan dalam kondisi tertutup debu setelah disimpan lebih dari tiga dekade dan hanya menempuh jarak 69 kilometer sejak dibeli pada 1991.
Dalam video tersebut, Hamilton terlihat membuka penutup merah dan mengungkapkan kekagumannya. "Mobil ini luar biasa. Salah satu yang paling ikonik," ujarnya. Ia juga menceritakan bahwa mobil itu dibeli pada 1991, dikendarai 69 km, lalu diparkir di garasi dan tidak pernah dinyalakan lagi. Restorasi dilakukan di Maranello, markas Ferrari, oleh para insinyur dan mekanik pabrik selama beberapa minggu.
Proyek ini bukan sekadar hobi. Bagi Hamilton, F40 memiliki makna personal yang dalam. "Sejak kecil saya bermimpi memilikinya. Ketika bergabung dengan Ferrari tahun lalu, saya pastikan ada satu F40 bersamaku di hari pertama di Maranello. Itu sangat berarti," tulisnya dalam unggahan saat memperkenalkan mobil tersebut. Ia menambahkan bahwa mobil-mobil seperti ini adalah karya seni yang sangat langka, sehingga ketika menemukannya dalam kondisi berdebu, ia merasa harus menyelamatkannya.
Video tersebut juga menampilkan momen Hamilton pertama kali melihat mobil setelah restorasi selesai. "Dia terlihat sangat bagus! Seperti baru!" serunya sambil mengelilingi mobil dengan senyum lebar. Saat duduk di kabin, ia menarik napas sebelum menyalakan mesin. Suara gemuruh V8 twin-turbo 2,9 liter memenuhi ruangan, menandai kebangkitan kembali sang legenda. Setelah itu, mobil dibawa keluar untuk uji coba pertama.
"Mobil-mobil ini adalah karya seni dan sangat langka. Ketika saya menemukan yang ini, tertutup debu setelah lebih dari tiga puluh tahun di garasi, saya tahu saya harus membawanya pulang." - Lewis Hamilton
Restorasi ini juga menyoroti sisi lain dari kehidupan Hamilton sebagai pembalap Ferrari. Ia dikenal memiliki minat besar pada mobil klasik dan budaya otomotif. Foto-foto hasil pemotretan di tikungan banked Monza yang sudah tidak digunakan lagi menjadi bukti betapa ia menghargai warisan balap. Bagi Ferrari, keterlibatan Hamilton dalam proyek semacam ini memperkuat citra merek sebagai produsen mobil yang tidak hanya fokus pada performa di lintasan, tetapi juga pada pelestarian sejarah otomotif.
Di Indonesia, antusiasme terhadap mobil klasik dan dunia Formula 1 terus tumbuh. Komunitas penggemar Ferrari dan otomotif sering mengadakan pameran serta diskusi daring. Kisah restorasi F40 ini bisa menjadi inspirasi bagi kolektor lokal untuk merawat kendaraan langka, sekaligus menunjukkan bahwa nilai sejarah dan sentimentalitas sering kali melampaui harga jual. Namun, tantangan seperti akses suku cadang dan biaya perawatan masih menjadi kendala utama di pasar Indonesia.
Ke depan, langkah Hamilton ini dapat memicu tren restorasi mobil klasik di kalangan selebritas dan atlet, terutama yang memiliki keterkaitan dengan merek tertentu. Apakah ini akan menjadi awal dari kolaborasi lebih dalam antara Hamilton dan Ferrari di luar balapan? Atau justru menjadi proyek pribadi yang menginspirasi generasi muda untuk mencintai sejarah otomotif? Publik menantikan kelanjutan cerita ini, terutama menjelang musim F1 berikutnya.



