GameStop Jual PS5 Pro Bekas Lebih Mahal dari Baru, Diduga Buntut Jailbreak
Baca dalam 60 detik
- GameStop menetapkan harga PS5 Pro bekas hingga $1.500, melampaui harga konsol baru rata-rata $900.
- Kenaikan ini diduga terkait eksploit 'Relapse' yang memungkinkan jailbreak pada firmware lama, memicu permintaan konsol bekas versi tertentu.
- Langkah GameStop menimbulkan pertanyaan tentang strategi penetapan harga dan dampaknya bagi konsumen serta pasar konsol global.

GameStop, jaringan ritel video game terbesar di Amerika Serikat, secara mengejutkan menaikkan harga konsol PlayStation 5 Pro bekas (preowned) hingga menyentuh angka $1.500. Kebijakan ini menuai kritik karena harga tersebut jauh melampaui harga konsol baru yang rata-rata dijual sekitar $900. Informasi ini pertama kali mencuat melalui memo internal yang bocor ke publik, dan kini telah terkonfirmasi di situs resmi GameStop.
Menurut memo tersebut, PS5 Pro bekas akan dijual dengan banderol antara $1.399,99 hingga $1.499,99, tergantung edisinya. Sementara itu, pemilik PS5 Pro yang ingin menjual kembali konsolnya ditawari harga $800โ$850, yang berarti mereka bisa menukar dengan unit baru nyaris tanpa biaya tambahan. Kebijakan ini dinilai tidak lazim karena umumnya produk bekas dijual lebih murah daripada barang baru.
Penyebab pasti keputusan ini masih simpang siur. Namun, banyak pengamat mencurigai kenaikan harga tersebut berkaitan dengan kasus jailbreak terbaru yang dikenal sebagai eksploit 'Relapse'. Eksploit ini memungkinkan pengguna membuka aplikasi homebrew dan emulasi konsol, asalkan PS5 belum diperbarui ke firmware terbaru (versi 14.00). Konsol dengan firmware lama menjadi incaran karena dapat dimodifikasi untuk menjalankan ribuan game secara gratis, termasuk judul-judul Nintendo Switch.
Menanggapi ancaman tersebut, Sony merilis firmware 14.00 pada 16 September lalu. Pembaruan ini meningkatkan keamanan sistem, terutama menjelang peluncuran Grand Theft Auto 6, dengan menambal celah yang memungkinkan jailbreak. Konsol yang belum terupdate pun menjadi buruan di pasar bekas, dan GameStop diduga memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan harga.
Menariknya, banyak konsol PS5 yang masih dalam kotak dan belum diperbarui kemungkinan besar masih rentan terhadap jailbreak. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa GameStop sengaja menaikkan harga untuk meraup keuntungan dari permintaan konsol versi lama. Meski alasan resmi belum dikonfirmasi, lonjakan harga dalam hitungan hari menunjukkan adanya reaksi cepat terhadap dinamika pasar.
"Kami melihat fenomena di mana konsol dengan firmware tertentu menjadi komoditas langka, dan ritel seperti GameStop memanfaatkan kelangkaan itu untuk menetapkan harga premium," ujar seorang analis industri game yang enggan disebutkan namanya.
Di sisi lain, klaim Rockstar bahwa Grand Theft Auto 6 paling optimal dimainkan di PlayStation 5 turut mendongkrak permintaan PS5 Pro. Konsol ini dianggap sebagai perangkat ideal untuk merasakan pengalaman gaming maksimal, sehingga harga bekasnya pun ikut melambung. Namun, keputusan GameStop untuk menjual bekas lebih mahal dari baru menuai kritik dari konsumen yang merasa dirugikan.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cerminan bagaimana kelangkaan dan isu jailbreak dapat memengaruhi harga konsol bekas. Meskipun PS5 Pro belum resmi beredar luas di Indonesia, importir dan penjual ritel lokal mungkin akan mengikuti tren harga global. Konsumen di dalam negeri perlu waspada terhadap potensi kenaikan harga serupa, terutama jika ada permintaan tinggi terhadap konsol dengan firmware tertentu.
Ke depan, langkah GameStop ini dapat memicu reaksi dari Sony dan pelaku pasar lainnya. Apakah Sony akan memperketat distribusi firmware atau justru membiarkan pasar sekunder bergejolak? Sementara itu, konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan terus mencermati apakah kenaikan harga ini bersifat sementara atau menjadi preseden baru dalam industri ritel game.



