Saham SpaceX Melonjak 50%, Kali Ini Pasar Opsi Beri Sinyal Berbeda
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX menanjak hampir 50% dari titik terendah dan kembali ke harga IPO setelah reli 8% ke level 171 dolar AS.
- Volume opsi meledak dua kali lipat rata-rata 30 hari, tetapi volatilitas implisit justru turun ke 55 dari sebelumnya di atas 110.
- Pasar opsi memperkirakan peluang kurang dari 50% saham menyentuh 225 dolar AS hingga Juli, menandakan laju reli yang lebih lambat.

Saham SpaceX kembali mencuri perhatian pasar modal Amerika Serikat. Pada perdagangan Senin (6/10/2026), harga saham perusahaan roket milik Elon Musk itu melesat 8% ke 171 dolar AS, membawa kenaikan hampir 50% dari titik terendahnya dan mengembalikan posisi saham ke level harga penawaran umum perdana (IPO).
Reli tersebut sekaligus mengembalikan status Musk sebagai triliuner. Namun, di balik euforia itu, ada perbedaan mendasar dibandingkan dengan lonjakan yang terjadi tak lama setelah perusahaan melantai di bursa pada Juni lalu. Saat itu, SpaceX hanya butuh kurang dari tiga sesi perdagangan untuk terbang dari 171 dolar AS ke rekor intraday di atas 225 dolar AS. Kini, laju serupa diperkirakan tidak akan terulang dalam waktu dekat.
Perbedaan kunci terletak pada volatilitas implisit. Setelah tujuh pekan bergerak dalam rentang 10%, volatilitas implisit SpaceX kini berada di level 55, naik dari titik terendah sepanjang masa di bawah 50 pada Kamis pekan lalu. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan saat IPO yang menembus 110. Artinya, pasar opsi tidak lagi memperkirakan pergerakan harga seagresif sebelumnya.
Data Barchart menunjukkan pasar opsi kini memberikan volatilitas implisit yang setara atau lebih tinggi untuk opsi jual (put) dibandingkan opsi beli (call). Fenomena ini menyiratkan bahwa risiko penurunan harga sama besarnya dengan peluang kenaikan. Pola semacam ini lazim terjadi pada indeks seperti S&P 500, tetapi untuk saham individual, skew bisa bervariasi. Sebagai perbandingan, pada Nvidia, opsi call justru lebih mahal di banyak tenor, menandakan investor lebih khawatir kehilangan momentum naik ketimbang menghadapi koreksi.
Meski demikian, arus opsi SpaceX pada Senin secara umum optimistis. Berdasarkan data Cboe LiveVol, pelaku pasar diperkirakan membeli 456.000 kontrak call dan kurang dari 240.000 kontrak put. Mereka juga tercatat menjual 250.000 put dan 295.000 call. Aktivitas ini menunjukkan sebagian trader memanfaatkan momentum untuk mengambil posisi bullish, namun dengan ekspektasi pergerakan yang lebih terukur.
"Starship telah membantu, tetapi tampaknya Wall Street mulai menumpuk posisi di awal kuartal keempat. SpaceX dan Tesla saling menguatkan. Keduanya bergerak lebih sinkron belakangan ini," ujar Charles Moon, trader teknis dan momentum di Prosper Trading Academy, Chicago.
Korelasi 30 hari antara SpaceX dan Tesla saat ini mencapai 0,66 berdasarkan data ThinkOrSwim. Angka ini mengindikasikan bahwa pergerakan kedua saham semakin terikat, seiring dengan narasi besar Musk yang mencakup kendaraan listrik, roket, dan ambisi antariksa.
Di sisi lain, analis Morgan Stanley, Adam Jonas, tetap mempertahankan target harga 300 dolar AS untuk SpaceX. Dalam catatan kepada klien pada Minggu, ia menilai bahwa setelah disesuaikan dengan pertumbuhan, SpaceX merupakan salah satu cara termurah untuk mengekspos diri pada opsi ekonomi antariksa dan intelijen. Target tersebut menyiratkan potensi kenaikan sekitar 75% dari harga saat ini.
Sentimen positif juga ditopang oleh pencapaian operasional. Pekan lalu, roket Falcon 9 milik SpaceX berhasil mengantar empat astronot ke Stasiun Antariksa Internasional dalam waktu kurang dari delapan jam, sebuah rekor baru. Pencapaian ini memperkuat posisi SpaceX sebagai pemimpin dalam industri peluncuran komersial dan semakin mendekatkan perusahaan pada visi kolonisasi Mars.
Bagi investor Indonesia, dinamika saham SpaceX dan pasar opsi AS bisa menjadi cermin penting. Pasar modal Tanah Air memang belum memiliki instrumen serupa, tetapi gejolak teknologi antariksa global kerap berdampak pada sektor teknologi dalam negeri, terutama emiten yang bergerak di bidang telekomunikasi dan penyediaan data. Selain itu, volatilitas implisit yang menurun menunjukkan bahwa euforia pasar terhadap saham-saham pertumbuhan mulai matang. Investor domestik yang memiliki eksposur ke aset luar negeri melalui reksa dana atau ETF patut mencermati sinyal ini sebagai indikasi bahwa reli mungkin berlanjut dengan laju yang lebih moderat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SpaceX mampu menjaga momentum tanpa memicu lonjakan volatilitas yang ekstrem. Jika harga terus merangkak naik secara perlahan, pasar opsi mungkin akan kembali menaikkan ekspektasi. Namun, jika laju melambat, trader perlu bersiap untuk perjalanan yang lebih panjang menuju rekor baru. Semua mata kini tertuju pada apakah target 300 dolar AS dari Morgan Stanley akan tercapai sebelum akhir tahun, atau justru menjadi ujian bagi ketahanan reli saham antariksa pertama di Wall Street.



