Sam Altman Sebut Penampilan Andrew Garfield di Film 'Artificial' Aneh: 'Dia Meniru Gaya Jalanku'
Baca dalam 60 detik
- Sam Altman mengaku melihat Andrew Garfield memerankan dirinya di film Artificial sebagai pengalaman yang sangat janggal.
- Altman menegaskan film itu tidak berusaha akurat, sehingga ia tidak merasa terganggu dengan penggambaran tersebut.
- Andrew Garfield berharap film ini bisa menjangkau banyak penonton dan membuat mereka merenungkan siapa yang mengendalikan arah teknologi.

CEO OpenAI, Sam Altman, mengungkapkan reaksinya setelah melihat Andrew Garfield memerankan sosoknya dalam film terbaru berjudul Artificial. Pria 39 tahun itu mengaku pengalaman tersebut terasa aneh, terutama karena proses syuting dilakukan tepat di depan rumahnya.
Dalam wawancara dengan Vanity Fair, Altman menceritakan suatu pagi ia hendak berjalan kaki membeli kopi ketika mendapati jalanan dipenuhi kamera dan seorang pria berpakaian persis seperti dirinya, lengkap dengan tas punggung yang sama. "Saya seperti mengalami glitch dalam simulasi," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia sempat bingung sebelum akhirnya menyadari sedang ada produksi film.
Meski demikian, Altman menegaskan tidak mempermasalahkan film tersebut. Menurutnya, Artificial tidak dibuat untuk menjadi potret akurat, melainkan lebih sebagai karya sinematik. "Dari trailer-nya, saya rasa mereka tidak mengutamakan akurasi. Jadi tidak mengganggu saya. Mereka ingin membuat film yang bagus, dan mungkin memang bagus. Tapi tidak akan bagus sebagai penggambaran yang akurat," jelasnya.
Di sisi lain, Andrew Garfield berharap film ini dapat diterima penonton. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, aktor yang pernah memerankan Spider-Man itu mengatakan, "Kecuali Anda Spider-Man, sulit menebak bagaimana respons penonton. Tapi saya ingin film ini menjangkau banyak orang. Alam semesta terus berputar, dan kita punya tanggung jawab untuk melihat siapa yang memutar roda."
Film Artificial sendiri menyoroti sosok Altman sebagai tokoh sentral di balik kesuksesan OpenAI. Meski belum dirilis, trailer-nya telah memicu diskusi tentang bagaimana industri hiburan menggambarkan figur teknologi kontemporer. Altman, yang dikenal sebagai salah satu miliarder di sektor AI, tampaknya tidak terlalu ambil pusing dengan interpretasi sinematik tersebut.
Bagi penonton Indonesia, film ini bisa menjadi cermin bagaimana perkembangan AI dan tokoh di belakangnya semakin sering menjadi bahan narasi populer. Kehadiran ChatGPT dan layanan AI lainnya telah mengubah lanskap kerja dan kreativitas di dalam negeri, sehingga sosok seperti Altman pun mulai dikenal luas. Penggambaran di layar lebar bisa memengaruhi persepsi publik terhadap teknologi yang tengah berkembang pesat ini.
Ke depan, apakah film semacam ini akan mendorong diskusi lebih sehat tentang etika AI, atau justru memperkuat mitos tentang "orang di balik layar"? Yang jelas, Altman sendiri memilih untuk tidak terlalu memikirkan versi sinematik dirinya, dan lebih fokus pada pekerjaannya memimpin OpenAI.



