Andrew Garfield Bintangi Film 'Artificial', Ungkap Sisi Lain Sam Altman
Baca dalam 60 detik
- Andrew Garfield memerankan CEO OpenAI Sam Altman dalam film biopik 'Artificial' arahan Luca Guadagnino.
- Aktor 43 tahun itu menghabiskan dua hingga tiga bulan mendalami rekaman wawancara Altman untuk menangkap esensi karakternya.
- Garfield menyebut peran ini sebagai upaya menggugat kekuasaan figur teknologi yang mengendalikan data dan otonomi publik.

Aktor Andrew Garfield mengaku merasakan beban berat saat memerankan CEO OpenAI Sam Altman dalam film biopik terbaru garapan Luca Guadagnino, Artificial. Peran tersebut bukan sekadar tantangan akting, melainkan juga kesempatan untuk mengkritisi sosok pemimpin teknologi yang semakin berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Berbicara pada acara premiere dunia di New York Film Festival yang digelar di Alice Tully Hall, Garfield mengungkapkan bahwa memerankan orang yang masih hidup menuntut tanggung jawab ekstra. "Ada tanggung jawab yang sangat berat... memerankan orang yang masih hidup," ujarnya. "Saya merasakan empati yang luar biasa terhadap apa yang harus mereka alami. Tapi pada saat yang sama, tanggung jawab yang lebih dalam mungkin adalah menyoroti dan mencoba menginterogasi kepada siapa kita menyerahkan otonomi, kekuatan, dan data kita. Itu terasa sebagai pelayanan yang lebih besar."
Untuk mendalami karakter Altman, Garfield menghabiskan dua hingga tiga bulan menonton dan mendengarkan berbagai rekaman wawancara serta penampilan publik Altman. Menurutnya, riset tersebut menjadi bahan mentah yang kemudian diolah dengan imajinasi pribadinya. "Ada banyak riset, banyak rekaman, banyak informasi, yang semuanya menjadi bahan olahan, lalu ada imajinasi Anda sendiri," tambahnya.
Pandangan Garfield terhadap Altman sempat berubah setelah ia mempelajari lebih dalam. Awalnya, ia terkesan dengan penampilan Altman saat bersaksi di depan Kongres Amerika Serikat. "Saya ingat melihat Sam bersaksi di Kongres untuk pertama kalinya, dan saya berpikir, 'Orang ini tampak luar biasa. Dia jernih, jujur, transparan, dia berbicara tentang regulasi... kita butuh lebih banyak orang seperti ini yang memegang kendali, dan dia sangat menawan, karismatik.' Namun kemudian, seperti kita semua, kita belajar lebih banyak tentang seseorang," tuturnya.
"Saya merasa bersyukur atas pengalaman memerankan orang-orang itu. Tapi saya tidak menyukainya. Pada akhirnya saya berkata, 'Syukurlah itu sudah berakhir.'" โ Andrew Garfield kepada Esquire UK
Dalam wawancara terpisah dengan Esquire UK pada Agustus lalu, Garfield mengaku lega setelah menyelesaikan syuting Artificial. Ia mengaku lebih menyukai peran sebagai bagian dari komunitas dan teman yang baik. "Saya lebih suka setidaknya mencoba menjadi orang yang berpikiran komunitas, teman yang baik. Saya suka menjadi pria yang nyaman," ujarnya.
Film Artificial sendiri menjadi sorotan karena mengangkat kisah nyata seorang tokoh kontroversial di industri kecerdasan buatan. Kehadiran film ini di festival bergengsi menunjukkan minat publik yang tinggi terhadap narasi di balik layar perusahaan teknologi raksasa. Di Indonesia, diskusi tentang etika AI dan pengaruh perusahaan teknologi global semakin relevan, terutama dengan meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor. Film ini bisa menjadi cermin bagi masyarakat untuk lebih kritis terhadap kekuatan korporasi teknologi yang menguasai data dan algoritma.
Ke depan, apakah film biopik seperti Artificial akan mendorong kesadaran publik tentang pentingnya regulasi teknologi, atau justru memperkuat cult of personality di sekitar figur seperti Altman? Yang jelas, Garfield telah menanamkan pesan bahwa di balik gemerlap inovasi, ada pertanyaan besar tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan arah masa depan digital kita.



