Schneider Electric Pangkas Kesenjangan Literasi AI dengan Kurikulum Empat Lapis
Baca dalam 60 detik
- Schneider Electric mewajibkan pelatihan dasar AI bagi 160.000 karyawan sebagai respons atas lambatnya adopsi teknologi di perusahaan.
- Perusahaan menerapkan kurikulum berjenjang yang dirancang bersama Coursera, mencakup manajemen senior, pengembang software AI, dan tim transformasi.
- Pendapatan semester I 2026 menembus โฌ21,2 miliar, dengan segmen pusat data menjadi motor pertumbuhan utama.

Keterampilan digital yang tertinggal dari laju inovasi memaksa Schneider Electric mengambil langkah tegas: menjadikan pelatihan kecerdasan buatan sebagai kewajiban seluruh karyawan. Perusahaan teknologi energi asal Prancis itu menilai kesenjangan kompetensi AI bukan sekadar masalah internal, melainkan penghambat utama realisasi ambisi transformasi digital di tingkat korporasi.
Philippe Rambach, Senior Vice President sekaligus Chief AI Officer Schneider Electric, mengungkapkan bahwa penerapan teknologi baru tidak pernah berjalan mulus. Ia membandingkannya dengan implementasi sistem manajemen pelanggan yang butuh bertahun-tahun untuk benar-benar terpakai. Menurutnya, AI masih tergolong teknologi yang belum matang di lingkungan perusahaan, sehingga strategi pelatihan seragam justru berpotensi gagal.
Schneider Electric menggandeng platform pembelajaran daring Coursera untuk menyusun kurikulum empat tingkat yang disesuaikan dengan peran dan fungsi tiap karyawan. Tingkat pertama adalah pelatihan dasar AI yang bersifat wajib bagi 160.000 karyawan. Tingkat kedua menyasar jajaran manajemen senior dengan fokus pada integrasi AI ke dalam strategi bisnis. "Mereka perlu memberi contoh, jadi tim ini butuh perhatian khusus melalui pelatihan spesifik," ujar Rambach.
Kelompok ketiga terdiri dari para ahli yang terlibat langsung dalam pengembangan perangkat lunak AI, yang melapor langsung kepadanya. Adapun tingkat keempat diperuntukkan bagi mereka yang bertanggung jawab atas transformasi organisasi. Rambach menekankan bahwa kelompok yang menyusun peta jalan pelanggan atau menggerakkan perubahan internal memerlukan pendekatan pelatihan yang berbeda.
Pelatihan yang dijalankan tanpa konteks kerja nyata dinilai tidak akan membuahkan hasil. Karena itu, Schneider Electric mengandalkan tim lintas fungsi untuk mengembangkan dan menerapkan kasus penggunaan AI, tidak hanya untuk internal tetapi juga bagi pelanggan. Tim ini menggabungkan keahlian bisnis, TI, dan AI. "Jangan pernah meremehkan pentingnya tim multidisiplin. Mereka belajar dengan mengerjakan proyek dan bekerja sama," kata Rambach.
Schneider Electric, yang memproduksi peralatan listrik kritis untuk pusat data, memanfaatkan lonjakan pembangunan infrastruktur dan kebutuhan daya yang menyertainya. Perusahaan bermitra dengan Nvidia untuk menyediakan kemampuan pengujian dan simulasi infrastruktur pusat data. CEO Olivier Blum dalam panggilan pendapatan Mei menyatakan, "Pusat data membutuhkan energi, energi membutuhkan pusat data. Kami hadir di kedua sisi persamaan, menyediakan infrastruktur sekaligus memanfaatkan AI untuk membuat solusi kami lebih cerdas."
Dengan bantuan tim lintas fungsi, Schneider Electric menggunakan AI untuk mengatasi tantangan bisnis. Beberapa contohnya adalah alat berbasis AI untuk mengirim teknisi secara lebih efisien, layanan yang membantu pelanggan mengurangi konsumsi energi, dan alat internal untuk mempercepat penyusunan penawaran penjualan.
"Tidak ada jalur yang mudah dan 100 persen benar. Kita semua sedang belajar." โ Philippe Rambach, Chief AI Officer Schneider Electric
Bagi Indonesia, pengalaman Schneider Electric menjadi cermin bahwa adopsi AI di sektor industri dan energi tidak cukup hanya dengan pengadaan teknologi. Kesiapan sumber daya manusia menjadi prasyarat mutlak. Perusahaan-perusahaan nasional yang tengah bertransformasi digital perlu mempertimbangkan pelatihan berjenjang yang relevan dengan fungsi kerja, bukan sekadar seminar umum. Kolaborasi dengan penyedia pembelajaran global seperti Coursera bisa menjadi jalan pintas yang efektif untuk mempercepat peningkatan literasi AI.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah perusahaan perlu berinvestasi dalam pelatihan AI, melainkan seberapa cepat mereka dapat menutup kesenjangan keterampilan sebelum gelombang otomatisasi berikutnya tiba. Schneider Electric telah memulai dengan peta jalan yang jelas; kini bola berada di tangan para pemimpin industri lain untuk mengikuti jejak serupa atau berisiko tertinggal.



