Gears of War: E-Day Kembali ke Hari Kehancuran Sera, Siap Rilis 6 Oktober
Baca dalam 60 detik
- The Coalition mengumumkan Gears of War: E-Day, prekuel yang mengambil latar 14 tahun sebelum seri pertama dan dibangun dengan Unreal Engine 5.
- Kampanye berdurasi sekitar 20 jam ini menyoroti hubungan awal Marcus Fenix dan Dom Santiago, dari upacara peringatan hingga invasi Locust di Kalona.
- Game akan tersedia untuk Xbox Series X|S dan PC pada 6 Oktober dengan harga standar sekitar US$70, sementara mode multipemain menyusul kemudian.

Setelah bertahun-tahun menjadi misteri dalam seri Gears of War, hari ketika planet Sera terkoyak akhirnya akan dimainkan langsung oleh para penggemar. The Coalition mengonfirmasi bahwa Gears of War: E-Day, prekuel yang berlatar 14 tahun sebelum seri perdana, akan dirilis pada 6 Oktober untuk Xbox Series X|S dan PC dengan banderol sekitar US$70 atau €70 untuk edisi standar. Keputusan menghadirkan kembali momen paling traumatis dalam sejarah fiksi ini bukan sekadar nostalgia—ini taruhan kreatif untuk menyegarkan waralaba yang telah berjalan hampir dua dekade.
Berbeda dari sekuel-sekuel sebelumnya yang bergerak maju dalam linimasa, E-Day justru mundur ke titik nol. Selama hampir 80 tahun, Sera menikmati perdamaian setelah Pendulum Wars berakhir. Marcus Fenix dan Dominic Santiago belum menjadi sahabat; mereka hanya veteran muda yang bingung harus berbuat apa di dunia tanpa perang. Titik temu keduanya adalah Carlos Santiago, kakak Dom sekaligus sahabat Marcus, yang tewas menjelang akhir konflik. Upacara peringatan Carlos menjadi pembuka narasi—sekaligus satu-satunya kesempatan pemain menyaksikan Sera dalam kondisi damai, sesuatu yang tidak pernah diperlihatkan seri sebelumnya.
Ketika tanah Kota Kalona terbelah di berbagai titik, kekacauan pun dimulai. Marcus dan Dom harus bertahan hidup dan menyelamatkan warga tanpa tahu apa yang sebenarnya menyerang. Mereka bergabung dalam Bravo squad bersama Mags Carter, veteran Pendulum Wars asal Kalona, dan Lucas Reyes, kadet muda yang mendambakan posisi di garis depan. Selama tiga hari dalam kampanye, pemain dibawa dari kepanikan malam pertama—saat makhluk kecil agresif bernama Feral Wretches menyerbu—menuju kesadaran bahwa yang dihadapi bukan wabah hama, melainkan pasukan bawah tanah lengkap dengan komando, kendaraan, dan unit berat.
Pada hari kedua, balai kota Kalona berubah menjadi markas darurat COG—separuh rumah sakit lapangan, separuh pusat komando. Nuansa survival horror muncul ketika Bravo squad menyadari skala ancaman. Vraahk, pemimpin Locust, datang ke permukaan dengan satu tujuan: memusnahkan penghuni Sera. Pasukan Scorched Legion yang penuh luka dan Brumaks lapis baja membawa brutalitas itu ke medan perang, bahkan ketika Vraahk sendiri tak terlihat. Baru pada hari ketiga game beralih dari bertahan hidup menjadi serangan balik—pukulan pertama dalam perang yang akan berlangsung lebih dari satu dekade.
"E-Day" tidak mampu mempertahankan ketegangan secara terus-menerus, tetapi game ini selalu menemukan ritmenya kembali.
Dari sisi mekanika, The Coalition merombak sistem pergerakan secara signifikan. Pemain kini bisa melompat, melompati rintangan, meluncur, dan mengepung dari sisi sayap, dengan rute vertikal dan ketinggian cover baru. Active Reload dan senjata ikonik Lancer—gabungan senapan cepat dan gergaji mesin—kembali hadir. Senjata Locust dapat diambil, sementara Supply Caches memungkinkan penggantian perlengkapan dan modifikasi senjata, mulai dari peningkatan damage hingga variasi eksekusi gergaji. Tactical Gear menambahkan Health Injector dan Adrenaline yang dapat diisi ulang, memberi keunggulan taktis dalam pertempuran panjang.
Secara visual, Kalona tampil memukau: pusat kota yang hancur, gua gelap bekas galian Locust, kilang minyak yang angker, hingga puncak gunung damai di luar kota. Area tempur yang luas namun padat dinilai sebagai perbaikan jelas dibandingkan ruang terbuka kosong di Gears 5. Misi sampingan memberikan upgrade berguna, sementara item tersembunyi memperkaya dunia yang baru saja melewati hampir 80 tahun perang. Namun, frame rate sesekali turun secara terasa bahkan dalam performance mode di Xbox Series X, sehingga quality mode 30 fps kemungkinan baru layak direkomendasikan setelah beberapa patch.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran E-Day di Xbox Series X|S dan PC menawarkan opsi menarik di tengah dominasi genre battle royale dan live-service. Harga US$70 setara Rp1,1–1,2 juta—relatif tinggi untuk standar lokal, tetapi sebanding dengan durasi kampanye 20 jam yang disebut sebagai salah satu yang terbaik dalam seri. Pemain Indonesia yang belum memiliki konsol generasi terbaru dapat mengandalkan versi PC, meski perlu memastikan spesifikasi perangkat memadai untuk Unreal Engine 5. Mode multipemain yang akan ditambahkan belakangan juga berpotensi memperpanjang umur permainan, meski detail monetisasinya belum diumumkan.
Dengan ending yang disebut memuaskan—termasuk one-liner kering Marcus, "Thought you wanted more"—E-Day menutup celah naratif yang lama dibiarkan menggantung. Pertanyaannya kini: apakah The Coalition akan melanjutkan eksplorasi era awal ini, atau kembali ke linimasa utama? Yang jelas, 6 Oktober akan menjadi ujian apakah pendekatan prekuel mampu menarik generasi baru pemain tanpa kehilangan basis penggemar lama.



