Sony Patenkan Pembayaran Lewat Controller PS5, Tak Perlu Ketik Kartu Kredit
Baca dalam 60 detik
- Sony mengajukan paten yang memungkinkan DualSense PS5 menjadi perantara pembayaran digital dengan memanfaatkan kedekatan ponsel pemain.
- Sistem ini dirancang untuk memangkas langkah transaksi di konsol, berpotensi mendongkrak penjualan konten digital Sony.
- Jika diadopsi, metode ini dapat mengubah perilaku belanja gim dan menjadi preseden bagi industri konsol global, termasuk pasar Indonesia.

Sony dikabarkan tengah menjajaki cara baru untuk mempermudah transaksi di PlayStation 5. Sebuah dokumen paten yang diajukan pada 17 Maret 2025 dan baru dipublikasikan 17 September 2026 mengungkap rencana memanfaatkan controller DualSense sebagai jembatan pembayaran digital. Alih-alih mengetik nomor kartu atau kata sandi menggunakan tombol, pemain cukup mendekatkan ponsel ke controller untuk menyelesaikan pembelian.
Paten tersebut, seperti dilaporkan SlashGear, memuat ilustrasi yang memperlihatkan alur kerja: ketika pemain memilih item—baik gim penuh, konten tambahan, maupun kosmetik—PS5 akan memunculkan perintah pembayaran. Controller kemudian mendeteksi keberadaan ponsel dalam jarak tertentu, melakukan jabat tangan digital, dan mentransfer informasi pembayaran yang tersimpan. Proses ini hanya aktif saat ada permintaan bayar, sehingga tidak menguras baterai karena tidak memindai terus-menerus.
Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap keluhan lama soal repotnya mengetik di controller. Banyak pemain enggan menyelesaikan pembelian impulsif hanya karena malas mengambil ponsel atau dompet. Dengan menyederhanakan transaksi, Sony berpotensi menaikkan konversi penjualan konten digital—pasar yang semakin krusial bagi pendapatan perusahaan. Paten ini juga menegaskan bahwa Sony ingin memperluas fungsi DualSense, yang selama ini dikenal karena haptic feedback dan adaptive trigger, menjadi perangkat multifungsi.
Meski belum ada konfirmasi resmi apakah teknologi ini akan diimplementasikan, langkah Sony mencerminkan tren industri yang lebih luas: integrasi pembayaran mulus ke dalam ekosistem hiburan. Microsoft dan Nintendo juga gencar mendorong pembelian digital, tetapi pendekatan berbasis proximity seperti ini terbilang baru. Jika berhasil, Sony bisa menjadi yang pertama menawarkan pengalaman belanja tanpa hambatan di konsol.
"Paten ini menunjukkan Sony tidak hanya fokus pada peningkatan performa teknis controller, tetapi juga pada monetisasi ekosistem digital mereka," ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Bagi pasar Indonesia, inovasi semacam ini dapat mempercepat adopsi pembayaran digital di kalangan gamer. Dengan penetrasi smartphone yang tinggi, metode berbasis ponsel berpotensi lebih relevan dibandingkan input manual di controller. Namun, tantangan tetap ada: literasi keamanan siber dan perlindungan data pribadi menjadi prasyarat agar konsumen merasa aman. Regulator seperti Bank Indonesia dan Kominfo perlu memastikan kerangka kerja yang memadai jika teknologi ini masuk secara resmi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal kenyamanan, melainkan sejauh mana Sony akan membuka sistem ini bagi pengembang pihak ketiga. Jika paten ini terwujud, lanskap transaksi di konsol bisa berubah signifikan—dan para pemain mungkin tak perlu lagi mengingat nomor kartu kredit mereka.



