PlatinumGames Ingin Kembangkan Bayonetta Lebih Jauh, Tapi Masa Depannya Tanpa Hideki Kamiya Jadi Tanda Tanya
Baca dalam 60 detik
- PlatinumGames menyatakan minat untuk memperluas karakter Bayonetta dan dunianya, meski belum ada detail proyek baru.
- Ketiadaan Hideki Kamiya, pencipta dan sutradara asli, menimbulkan keraguan tentang arah kreatif waralaba ini.
- Eksklusivitas platform Nintendo untuk dua seri terakhir membatasi jangkauan Bayonetta, sementara gamer Indonesia tetap menantikan akses yang lebih luas.

PlatinumGames secara terbuka menyatakan keinginan untuk mengembangkan Bayonetta lebih jauh, baik sebagai karakter maupun memperluas dunia yang telah dibangun sejak debutnya pada 2009. Keinginan itu disampaikan oleh CEO PlatinumGames, Atsushi Inaba, dalam wawancara dengan majalah Jepang Famitsu, yang kemudian diterjemahkan oleh Nintendo Everything. Meski demikian, Inaba belum mengungkap bentuk konkret dari rencana tersebut, dan meminta penggemar untuk bersabar menunggu kejutan berikutnya.
Pernyataan ini muncul di tengah kabar bahwa kostum ikonis Bayonetta akan hadir di game Stellar Blade—sebuah judul aksi yang memang terinspirasi kuat oleh waralaba besutan PlatinumGames tersebut. Kolaborasi semacam ini menandakan bahwa Bayonetta masih memiliki tempat di hati para pemain, bahkan ketika seri utamanya terhenti sejak Bayonetta 3 yang dirilis eksklusif untuk Nintendo Switch pada 2022.
Namun, bayang-bayang kepergian Hideki Kamiya, kreator dan sutradara yang membesarkan nama Bayonetta, menjadi pertanyaan besar. Kamiya hengkang dari PlatinumGames pada 2023, dan hingga kini belum ada pengganti yang jelas untuk mengisi kekosongan visi kreatifnya. Tanpa Kamiya, apakah Bayonetta akan tetap setia pada akar karakter-action yang penuh gaya, atau justru mengambil arah baru yang berisiko mengasingkan basis penggemar lama?
Dari sisi bisnis, eksklusivitas platform menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, Nintendo berhasil menjaga prestise konsolnya dengan memiliki waralaba sekelas Bayonetta. Di sisi lain, keputusan ini membatasi potensi pendapatan dari basis pemain yang lebih luas, terutama di pasar konsol non-Nintendo yang jumlahnya signifikan. Bagi gamer Indonesia, akses ke Bayonetta 2 dan 3 masih menjadi mimpi karena keduanya tidak dijual di toko digital populer seperti Steam atau PlayStation Store. Situasi ini diperparah dengan minimnya distribusi resmi Nintendo Switch di Indonesia, sehingga banyak pemain harus mengandalkan jalur impor atau cara tidak resmi untuk mencoba seri tersebut.
"Kami ingin memperluas dia sebagai karakter dan membuka dunianya," ujar Inaba, seraya menambahkan bahwa penggemar harus menunggu untuk melihat wujud pastinya.
Pernyataan Inaba juga menyiratkan bahwa PlatinumGames tidak serta-merta meninggalkan Bayonetta, meski studio tersebut kini disibukkan dengan proyek-proyek lain seperti Bayonetta Origins: Cereza and the Lost Demon dan kerjasama dengan penerbit eksternal. Namun, tanpa kepastian soal platform dan jadwal rilis, para penggemar di seluruh dunia—termasuk Indonesia—hanya bisa berharap agar game berikutnya tidak terkunci di satu ekosistem saja.
Jika PlatinumGames benar-benar serius memperluas dunia Bayonetta, langkah pertama yang logis adalah membuka akses ke lebih banyak platform. Langkah ini tidak hanya akan menguntungkan secara komersial, tetapi juga memperkuat warisan budaya Bayonetta sebagai ikon game aksi Jepang. Pertanyaannya, apakah Nintendo akan rela melepas eksklusivitasnya, atau justru sebaliknya, semakin mengikat waralaba ini ke dalam ekosistemnya? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: para penggemar di Indonesia dan belahan dunia lain berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjelajahi dunia Bayonetta.



