Siri Genap 15 Tahun: Dari Eksperimen DARPA hingga Taruhan AI Apple
Baca dalam 60 detik
- Apple memperkenalkan Siri pada 4 Oktober 2011 bersama iPhone 4s, menandai asisten virtual pertama yang terjangkau konsumen.
- Perjalanan Siri bermula dari proyek CALO milik DARPA pada 2003, spin-off SRI International, dan akuisisi senilai sekitar US$200 juta.
- Setelah lama dikritik karena keterbatasan, Siri AI versi baru kini mengandalkan Google Gemini dan menjadi inti ekosistem Apple Intelligence.

Pada 4 Oktober 2011, Apple mengukir sejarah ketika memperkenalkan Siri bersama iPhone 4s. Asisten suara itu bukan sekadar fitur tambahan, melainkan tonggak yang mengubah cara manusia berinteraksi dengan perangkat elektronik. Publik saat itu menyambutnya sebagai keajaiban teknologi yang sebelumnya hanya ada di film fiksi ilmiah.
Namun, benih inovasi itu telah ditanam jauh sebelum peluncurannya. Pada akhir 1980-an, CEO Apple kala itu, John Sculley, menugaskan sutradara George Lucas untuk membuat video konsep bernama Knowledge Navigator. Video tersebut membayangkan seorang profesor berinteraksi dengan asisten digital di perangkat mirip iPad. Menariknya, latar waktu dalam video itu ditetapkan pada September 2011โhanya berselang beberapa pekan dari peluncuran Siri yang sesungguhnya.
Perjalanan menuju Siri tidaklah singkat. Teknologi yang memadai baru tersedia pada 2003 ketika lembaga riset pertahanan AS, DARPA, memulai proyek ambisius bernama CALO (Cognitive Assistant that Learns and Organizes). Proyek lima tahun yang melibatkan 500 peneliti dari SRI International itu menjadi fondasi bagi lahirnya Siri sebagai perusahaan spin-off pada 2010. Aplikasi Siri versi awal bahkan sempat tersedia di App Store dan mampu memesan taksi, mencari ulasan film, hingga memberikan rekomendasi restoran.
Apple mengakuisisi Siri pada April 2010 dengan nilai yang dilaporkan mencapai US$200 juta. Sejak itu, perusahaan mulai mengintegrasikannya ke dalam iPhone. Steve Jobs, yang saat itu sedang berjuang melawan kanker pankreas, terlibat langsung dalam penyempurnaan Siri. Ia bahkan menguji asisten tersebut dengan pertanyaan nakal, "Apakah kamu pria atau wanita?" Jawaban Siri, "Saya tidak diberi gender, Tuan," konon membuatnya terhibur. Demonstrasi itu menjadi salah satu penampilan produk terakhir Jobs sebelum ia mundur sebagai CEO pada Agustus 2011.
Sejak debutnya, Siri telah berkembang pesat. Teknologi deep learning dan inovasi lain membuatnya lebih akurat dan fungsional. Siri juga hadir di iPad, Mac, Apple Watch, dan perangkat lain, menegaskan komitmen Apple pada kecerdasan buatan. Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir, Apple mendapat banyak kritik karena keterbatasan Siri dibandingkan pesaing seperti ChatGPT dan Google Assistant. Hal ini memuncak pada WWDC24 ketika Apple berjanji menghadirkan Siri yang lebih pintar, namun sempat mengalami penundaan.
"Kami sangat senang dapat menghadirkan Siri AI, versi baru Siri kami, yang didukung Apple Intelligence. Siri AI lebih cerdas, berpengetahuan, dan mampu," ujar Craig Federighi, kepala software Apple, dalam keynote WWDC26.
Setelah melalui berbagai kendala, Apple akhirnya menggandeng Alphabet untuk menggunakan Google Gemini sebagai mesin penggerak Siri AI. Versi terbaru ini diluncurkan dalam iOS 27 dan sistem operasi lainnya, bekerja lintas aplikasi dan perangkat dengan tetap menjaga privasi pengguna. Siri AI saat ini masih dalam tahap beta, namun hasil awalnya cukup menjanjikan. Apple dikabarkan juga akan menempatkan Siri AI sebagai jantung smart home hub yang selama ini dirumorkan akan segera diluncurkan.
Bagi Indonesia, evolusi Siri mencerminkan bagaimana adopsi AI di perangkat konsumen semakin tak terhindarkan. Apple belum memiliki toko resmi di Indonesia, tetapi pengguna iPhone di Tanah Air tetap dapat menikmati fitur Siri AI selama perangkat mereka kompatibel. Tantangannya, fitur-fitur canggih ini sering kali baru tersedia setelah peluncuran global, dan dukungan bahasa Indonesia untuk Siri masih terbatas. Hal ini bisa menjadi peluang bagi pengembang lokal untuk menciptakan asisten virtual berbahasa Indonesia yang lebih kontekstual, terutama di sektor layanan pelanggan dan pendidikan.
Ke depan, pertarungan asisten AI akan semakin ketat. Apple berupaya mengejar ketertinggalan dengan menggandeng Google, sementara Microsoft, Amazon, dan Meta terus mengembangkan teknologi mereka. Apakah Siri AI mampu mengembalikan kejayaan Apple di ranah asisten virtual, atau justru semakin bergantung pada mitra eksternal? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: perjalanan Siri dari eksperimen DARPA hingga menjadi produk massal adalah cermin bagaimana inovasi besar sering kali lahir dari visi jangka panjang.



