GPT-6 Astra Pecahkan Sandi Perang Napoleon dalam 6 Jam, Sejarah Militer Berubah
Baca dalam 60 detik
- Seorang insinyur keamanan siber berhasil mengungkap pesan rahasia berusia 217 tahun dari era Napoleon menggunakan model AI GPT-6 Astra hanya dalam waktu sekitar enam jam.
- Keberhasilan ini bukan sekadar pemecahan kode, melainkan bukti kemampuan AI dalam menjalankan alur kerja multimodal dari satu gambar dan instruksi tunggal.
- Temuan ini berpotensi mengubah cara sejarawan mengakses arsip terenkripsi dan membuka peluang baru dalam penelitian kriptografi historis.

Sebuah terobosan mengejutkan datang dari dunia kecerdasan buatan. Carter Church, seorang insinyur di perusahaan keamanan siber SentinelOne, berhasil memecahkan sandi berusia 217 tahun peninggalan era Napoleon menggunakan model bahasa GPT-6 Astra. Sandi yang telah lama masuk dalam daftar Unsolved Historical Ciphers milik Cryptiana itu akhirnya terkuak hanya dalam waktu sekitar enam jam, setelah Astra diberi satu gambar dan satu perintah saja.
Pesan yang terungkap bukan berasal langsung dari Napoleon, melainkan dari markas Eugène de Beauharnais, Viceroy Italia yang juga anak tiri Napoleon. Surat tersebut ditujukan kepada Jenderal Auguste de Marmont dan berisi instruksi militer yang diteruskan dari Napoleon. Menurut Church, Marmont semestinya membacanya menggunakan buku kode militer resmi pada masa itu, namun sejak 1809 tidak ada catatan yang menunjukkan pesan itu pernah dibaca kembali.
Yang membuat pencapaian ini istimewa bukan semata kemampuan memecahkan kode, melainkan cara Astra menuntaskan proses multimodal secara mandiri. Church menjelaskan bahwa AI tersebut memanfaatkan petunjuk dari kunci parsial yang sebelumnya tidak terkait dengan surat itu, lalu menyelesaikan sisanya dengan simulated-annealing solver bawaannya. "Astra menyelesaikan seluruh alur kerja multimodal dalam sekitar 6 jam dari satu gambar dan tujuan," ujar Church dalam utas di X.
"Yang mengesankan bukanlah pemecahan kodenya, tetapi Astra menyelesaikan seluruh alur kerja multimodal dalam sekitar 6 jam dari satu gambar dan tujuan." — Carter Church, Insinyur SentinelOne
Penemuan ini juga mengisi celah dalam memoar Napoleon tahun 1865. Dalam memoar tersebut, perintah Napoleon terkait persiapan invasi ke Austria terputus di tengah kalimat dengan frasa "segenggam...". Surat yang baru dipecahkan ini melengkapinya menjadi "segenggam rakyat jelata". Detail kecil namun signifikan bagi sejarawan yang mempelajari komunikasi militer era Napoleon.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menandai babak baru dalam pemanfaatan AI untuk penelitian sejarah dan arsip. Selama ini, naskah-naskah kuno Nusantara—dari prasasti hingga lontar—sering kali sulit diakses karena bahasa dan aksara yang rumit. Teknologi seperti GPT-6 Astra membuka kemungkinan untuk mempercepat dekripsi dan pemahaman dokumen bersejarah, termasuk yang tersimpan di perpustakaan nasional dan museum daerah. Jika diadopsi, AI dapat membantu peneliti mengungkap lapisan sejarah yang selama ini terkubur.
Keberhasilan Church juga menegaskan bahwa AI generatif semakin mampu menangani tugas-tugas yang sebelumnya memerlukan keahlian khusus dan waktu lama. Proses pemecahan sandi yang biasanya melibatkan tim kriptografer dan berbulan-bulan riset kini dapat diselesaikan dalam hitungan jam. Hal ini memicu pertanyaan tentang masa depan profesi kriptografer dan sejarawan: apakah AI akan menggantikan peran mereka, atau justru menjadi alat yang mempercepat penemuan?
Dengan solusi yang dapat diunduh dan diverifikasi secara independen, temuan ini tidak hanya menjadi klaim sepihak. Satoshi Tomokiyo telah menandai surat tersebut sebagai terpecahkan dalam basis data Cryptiana. Ke depan, kita mungkin akan melihat lebih banyak sandi sejarah yang runtuh di hadapan AI, membuka kembali narasi-narasi yang lama hilang. Pertanyaannya, seberapa cepat komunitas sejarah Indonesia memanfaatkan teknologi ini untuk menggali warisan budaya sendiri?



