Chanathip Soroti Transformasi Timnas Indonesia: Diaspora Eropa Jadi Kekuatan Baru di Final ASEAN Cup 2026
Baca dalam 60 detik
- Chanathip Songkrasin menilai Timnas Indonesia kini diperkuat banyak pemain keturunan yang berkarier di liga top Eropa.
- Pertemuan ketujuh Chanathip melawan Indonesia terjadi di final FIFA ASEAN Cup 2026, sebuah laga yang ia nantikan.
- Kualitas fisik dan skill pemain diaspora diakui Chanathip sebagai ancaman serius bagi Thailand di partai puncak.

Kapten Timnas Thailand, Chanathip Songkrasin, mengakui bahwa Timnas Indonesia telah mengalami perubahan signifikan menjelang final FIFA ASEAN Cup 2026. Dalam konferensi pers sebelum laga, ia menyoroti kehadiran sejumlah pemain keturunan yang kini memperkuat Skuad Garuda dan berkompetisi di liga-liga utama Eropa.
Pertemuan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Senin (5-10-2026) malam WIB, akan menjadi duel ketujuh bagi Chanathip melawan Indonesia sepanjang kariernya. Gelandang berusia 32 tahun itu pertama kali menghadapi Indonesia sekitar satu dekade lalu dan telah menyaksikan evolusi skuad Merah Putih dari dekat.
"Sekarang semua negara di ASEAN berkembang sangat pesat. Indonesia memiliki cukup banyak pemain keturunan yang bermain di level sangat tinggi," ujar Chanathip, seperti dikutip dari sesi jumpa pers, Minggu (4-10-2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak lagi bertumpu pada pemain lokal semata, melainkan pada talenta diaspora yang menimba ilmu di Eropa.
Perubahan komposisi skuad Indonesia ini bukan tanpa alasan. Sejak beberapa tahun terakhir, PSSI gencar menjaring pemain diaspora yang memiliki darah Indonesia dan berkiprah di kompetisi Eropa. Kehadiran mereka membawa dimensi baru: kekuatan fisik, taktik modern, dan pengalaman bertanding di level tertinggi. Chanathip pun mengakui hal tersebut sebagai tantangan tersendiri.
"Mereka bermain di liga dengan level yang sangat tinggi. Tentu saja, mereka memiliki kekuatan fisik serta kemampuan dan keterampilan yang sangat baik," kata Chanathip.
Bagi Thailand, final ini bukan sekadar ajang balas dendam atas kekalahan atau hasil imbang di pertemuan sebelumnya. Chanathip menegaskan bahwa ia dan rekan-rekannya sudah menantikan momen ini. "Saya sangat senang akhirnya bisa bertemu mereka lagi. Kami sudah menunggu cukup lama," tambahnya.
Pertemuan terakhir kedua tim terjadi pada leg kedua final Piala AFF 2020, yang berakhir imbang 2-2. Sejak itu, lanskap sepak bola Asia Tenggara berubah drastis, terutama dengan meningkatnya jumlah pemain naturalisasi di berbagai negara. Indonesia menjadi salah satu pionir dalam strategi ini, meski sempat menuai pro dan kontra di dalam negeri.
Dari kacamata taktik, kehadiran pemain diaspora memberi pelatih Timnas Indonesia lebih banyak opsi. Mereka tidak hanya memperkuat lini pertahanan, tetapi juga menambah kreativitas di lini serang. Thailand, yang selama ini dikenal dengan permainan cepat dan kolektif, harus beradaptasi dengan fisik dan kecepatan pemain Indonesia yang ditempa di Eropa.
Final nanti juga akan menjadi ujian bagi Chanathip secara pribadi. Sebagai kapten, ia dituntut memimpin rekan-rekannya menghadapi tekanan publik tuan rumah. Pengalaman panjangnya di kompetisi domestik Jepang dan Thailand menjadi modal berharga untuk meredam atmosfer SUGBK yang terkenal intimidatif.
Di sisi lain, Indonesia memiliki peluang emas untuk menegaskan dominasi di kawasan. Kemenangan atas Thailand di final akan menjadi bukti bahwa investasi pada pemain keturunan dan pembinaan usia muda mulai membuahkan hasil. Namun, laga ini juga bisa menjadi bumerang jika Skuad Garuda gagal memanfaatkan tekanan sebagai motivasi.
Pertanyaan besarnya: apakah kekuatan diaspora yang diakui Chanathip mampu membawa Indonesia mengangkat trofi, atau justru Thailand yang lebih matang secara tim akan kembali mencuri kemenangan? Jawabannya akan terlihat dalam 90 menit di Jakarta malam nanti.



