Jerman-Indonesia Rancang Desain Hijau Kawasan Transmigrasi Barelang, Rempang Jadi Fokus
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 20 mahasiswa Technical University of Munich (TUM) Jerman bersama akademisi Indonesia mengikuti Summer Course 2026 di Batam untuk menyusun Green Barelang Spatial Development Design.
- Kementerian Transmigrasi menargetkan rancangan tersebut mengakomodasi aspek ekonomi, sosial, infrastruktur, konektivitas, dan lingkungan, dengan penekanan pada pemberdayaan warga lokal Rempang.
- Kolaborasi ini melibatkan Undip, ITB, ITS, IPB, UI, dan BP Batam, serta diharapkan menjadi pijakan riset dan kerja sama lanjutan di kawasan transmigrasi.

Sebanyak 20 mahasiswa Technical University of Munich (TUM) Jerman berkolaborasi dengan akademisi dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Indonesia untuk mengkaji potensi serta tantangan Kawasan Transmigrasi Barelang, Batam. Kegiatan yang dikemas dalam Summer Course 2026 ini bertujuan merumuskan desain pengembangan kawasan yang memadukan perspektif global dengan kebutuhan riil masyarakat setempat.
Program tersebut diinisiasi Universitas Diponegoro (Undip) bersama TUM, Kementerian Transmigrasi, dan BP Batam, sebagai bagian dari Transmigrasi Patriot (Trans Patriot). Selama kegiatan, peserta tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga melakukan observasi lapangan, diskusi, dan dialog langsung dengan warga untuk menggali persoalan serta kebutuhan di kawasan transmigrasi, khususnya Rempang.
Plt Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi, Harlina Sulistyorini, menyatakan bahwa kolaborasi ini diarahkan menghasilkan Green Barelang Spatial Development Design. Rancangan tersebut mencakup aspek ekonomi, sosial, infrastruktur, konektivitas, hingga lingkungan. "Teman-teman TUM akan membantu eksplorasi dan analisis potensi Barelang Rempang, terutama Kawasan Transmigrasi Rempang. Output akhirnya adalah green concept design yang nantinya bisa kita implementasikan agar kawasan menjadi lebih baik dan masyarakatnya lebih sejahtera," ujarnya saat pembukaan Summer Course 2026 di Batam, Kamis (1/10).
Harlina menegaskan bahwa pengembangan Kawasan Rempang harus memberikan manfaat langsung bagi penduduk lokal. Prioritasnya adalah membuka lapangan kerja dan mengoptimalkan sumber daya alam di sekitar Rempang. "Kawasan Rempang ini memang peruntukannya untuk masyarakat lokal yang ada di sini sehingga lebih diberdayakan, lebih diberi kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak kesempatan tenaga kerjanya, dan juga pemanfaatan sumber daya alam yang ada di seputar Rempang," katanya.
Perwakilan TUM, Walter Timo de Vries, menekankan pentingnya pengalaman lapangan dalam pendidikan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana teori diterapkan sekaligus memahami tantangan yang dihadapi masyarakat. "Yang paling penting bagi kami adalah tidak hanya mengajar di ruang kelas. Cara terbaik untuk belajar adalah melihat langsung bagaimana teori itu diterapkan, apa peluangnya, serta tantangan yang dihadapi masyarakat," ujarnya.
Kolaborasi ini diharapkan berjalan dua arah. Selain membawa perspektif dari Jerman, TUM akan mempelajari pengalaman pengembangan Barelang. Kementerian Transmigrasi berharap pengalaman Jerman terkait partisipasi masyarakat, pengelolaan sumber daya lokal, dan kemandirian kawasan dapat menjadi referensi yang disesuaikan dengan kondisi Barelang.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, karakter Batam sebagai kawasan industri, investasi, jasa, dan pariwisata, ditambah potensi Barelang untuk dikembangkan secara berkelanjutan, membuat Summer Course menjadi wadah untuk mempertemukan pengetahuan akademik dan pengalaman lokal dengan perspektif internasional. "Pemerintah membawa kebijakan dan sumber daya, universitas membawa pengetahuan dan inovasi, masyarakat membawa pengalaman dan kearifan lokal, sedangkan komunitas internasional membuka perspektif yang lebih luas dan peluang kerja sama," ucapnya.
Rektor Undip Achmad Zulfa Juniarto menilai Summer Course sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan kawasan. Undip menggandeng TUM dan sejumlah perguruan tinggi dalam negeri agar pengetahuan akademik dapat menjawab persoalan pembangunan di lapangan. Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota Undip, Wiwandari Handayani, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi momentum mempertemukan perspektif global dengan kebutuhan lokal, serta memungkinkan sumber daya manusia dari berbagai negara bekerja bersama masyarakat menghasilkan solusi yang sesuai karakter Barelang.
Selain mempelajari pengembangan kawasan, peserta Summer Course dijadwalkan mengunjungi Pulau Penyengat. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai sejarah, perdagangan, dan budaya Melayu yang membentuk karakter Kepulauan Riau. Kementerian Transmigrasi berharap pengalaman ini memperluas wawasan peserta sekaligus membuka peluang kerja sama lanjutan dalam bidang riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui Summer Course 2026, Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan kawasan transmigrasi tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Program ini diharapkan menghasilkan gagasan berbasis pengetahuan, inovasi, lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. Rancangan pengembangan Barelang yang dihasilkan diharapkan menjadi pijakan bagi riset, pendidikan, serta kolaborasi lanjutan untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi. Pertanyaannya, sejauh mana desain hijau ini akan diimplementasikan dan memberi dampak nyata bagi kesejahteraan warga Rempang?



