Zelenskyy Alihkan Serangan ke Kilang Minyak Rusia, Kyiv Klaim Rebut 140 Km Persegi Donbas
Baca dalam 60 detik
- Ukraina menyatakan akan memperluas serangan ke kilang minyak Rusia sebagai balasan atas doktrin baru Moskow yang menyasar infrastruktur sipil jelang musim dingin.
- Kyiv mengklaim operasi kontraofensif Vivaldi telah membebaskan sekitar 140 kilometer persegi wilayah Donbas dari pendudukan Rusia.
- Kanselir Jerman Friedrich Merz tiba di Kyiv bersama sejumlah CEO industri pertahanan, menegaskan komitmen Berlin untuk terus memasok bantuan militer.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengumumkan perluasan serangan terhadap kilang minyak Rusia sebagai respons atas doktrin militer baru Moskow yang secara eksplisit mengizinkan penghancuran infrastruktur sipil. Doktrin tersebut, menurut dokumen intelijen yang diklaim diperoleh Kyiv, bertujuan memaksa warga meninggalkan kota-kota besar Ukraina sebelum musim dingin tiba.
Dalam wawancara dengan Reuters, Zelenskyy menyatakan bahwa dokumen yang diperoleh dinas intelijen negaranya mengungkap arahan langsung dari Kremlin untuk memperluas sasaran serangan udara. "Kami melihat dokumen-dokumen itu dan kami tahu mereka mengizinkan serangan terhadap infrastruktur, logistik, dan terutama ke kota-kota, desa-desa, jalan, sekolah, rumah sakit," ujarnya. Menurut Zelenskyy, tujuan operasi tersebut adalah menekan populasi sipil agar meninggalkan ibu kota dan kota-kota lain.
Sebagai balasan, Ukraina akan memfokuskan serangan pada fasilitas pengolahan minyak Rusia yang menjadi tulang punggung pendanaan mesin perang Moskow. "Dengan serangan mereka terhadap energi kami, kami harus merespons energi mereka. Pertama-tama kilang minyak: itulah yang memberi mereka uang untuk perang ini," tegas Zelenskyy. Ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menargetkan objek sipil, meskipun serangan Rusia pada Sabtu lalu menewaskan sedikitnya enam orang dan merusak Jembatan Utara di Kyiv, mengganggu lalu lintas selama tiga hari berturut-turut.
Di sisi medan tempur, Zelenskyy melaporkan bahwa operasi kontraofensif Vivaldi telah membebaskan sekitar 140 kilometer persegi wilayah Donbas di Ukraina timur. Pencapaian ini menjadi pukulan bagi ambisi Presiden Rusia Vladimir Putin yang bersikeras menguasai seluruh Donbas sebelum menyetujui kesepakatan damai apa pun. Namun, Ukraina masih menghadapi keterbatasan pasokan amunisi untuk jet tempur F-16 dan MiG yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan udara, meski disebut berhasil menjatuhkan sekitar 60 persen drone jet-powered Rusia.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Kyiv mempercepat pengembangan kapabilitas peperangan elektronik dan sistem pencegat. Pada paruh kedua Oktober, Ukraina diperkirakan menerima kiriman perdana rudal pertahanan udara berukuran kecil dan murah yang dirancang khusus untuk menghadang drone Shahed generasi baru. Selain itu, Ukraina telah mulai mengerahkan rudal balistik buatan dalam negeri, FP-7, dengan jangkauan sekitar 250 kilometer, dan berharap dapat menyelesaikan varian jarak lebih jauh, FP-9, pada musim gugur.
"Jika Rusia tidak dihentikan, cepat atau lambat mesin perangnya akan berbalik melawan kita. Saya akan mengatakan kepada Presiden Zelenskyy hari ini: Anda dapat terus mengandalkan bantuan kami." — Kanselir Jerman Friedrich Merz
Dukungan Eropa terhadap Ukraina kembali ditegaskan melalui kunjungan Kanselir Jerman Friedrich Merz ke Kyiv pada Minggu, yang kali ini disertai sejumlah CEO perusahaan pertahanan Jerman. Merz menyatakan kehadirannya sebagai sinyal bahwa Berlin akan terus memberikan bantuan militer dalam beberapa pekan mendatang, seraya menuding Rusia membombardir kota-kota, bangunan hunian, dan pembangkit pemanas. Kunjungan ini menegaskan posisi Jerman sebagai salah satu penyokong utama Ukraina di Eropa, terutama saat serangan udara Rusia terhadap infrastruktur sipil semakin intensif.
Sementara itu, hasil jajak pendapat awal pemilu parlemen Latvia menunjukkan Partai United List yang berhaluan tengah dan pro-Ukraina, pimpinan Perdana Menteri Andris Kulbergs, memimpin perolehan suara. Dengan 72 persen suara terhitung, United List meraih 36,5 persen, diikuti partai populis Latvia First dengan 13,0 persen. Kulbergs menegaskan pihaknya tidak akan bekerja sama dengan partai mana pun yang pro-Rusia, dengan alasan bahwa hubungan ekonomi dengan Moskow hanya akan melemahkan Latvia. "Posisi kami tegas: hubungan ekonomi apa pun dengan Rusia membuat kami lemah; Rusia akan memanfaatkannya," ujarnya.
Negara-negara Baltik telah lama memperingatkan bahwa Rusia meningkatkan serangan sabotase, siber, dan operasi hibrida di seluruh Eropa untuk mengikis dukungan terhadap Ukraina. Meski beberapa pejabat Barat meragukan kemampuan Moskow melancarkan serangan langsung terhadap NATO, Latvia—sebagai anggota aliansi—tetap memperkuat pertahanan, termasuk janji Kulbergs untuk menambah kapabilitas anti-drone dan mempertahankan belanja pertahanan di level 5 persen dari PDB, salah satu yang tertinggi di NATO. Sementara itu, rival pro-Kremlin menyerukan penghentian bantuan ke Ukraina dan lebih fokus pada biaya hidup, terutama di kalangan minoritas berbahasa Rusia.
Bagi Indonesia, eskalasi konflik Ukraina-Rusia yang berlarut-larut berpotensi memperpanjang ketidakpastian pasokan energi global dan harga minyak mentah. Serangan terhadap kilang minyak Rusia dapat mengganggu ekspor minyak dan produk olahan, yang pada gilirannya memengaruhi negara-negara importir seperti Indonesia. Pemerintah perlu mengantisipasi volatilitas harga energi dan memperkuat bantalan fiskal, terutama menjelang musim dingin di belahan bumi utara yang biasanya meningkatkan permintaan bahan bakar.
Dengan doktrin baru Moskow yang secara terbuka menyasar infrastruktur sipil, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana Ukraina dapat mempertahankan strategi balasan tanpa memicu eskalasi yang lebih luas. Sementara itu, dukungan politik di Eropa—tercermin dari hasil awal pemilu Latvia dan kunjungan Merz—akan menjadi penentu apakah Kyiv mampu mempertahankan momentum di medan tempur maupun di meja diplomasi.



