Marc Marquez Ubah Strategi di MotoGP Jepang: Dari Bertahan Jadi Menyerang
Baca dalam 60 detik
- Marc Marquez finis ketiga di hari pembuka MotoGP Jepang, tertinggal dari adiknya Alex Marquez dan Pedro Acosta.
- Marquez menyatakan akan mengubah pendekatan menjadi lebih agresif mulai sesi kualifikasi dan balapan, meski risiko terjatuh meningkat.
- Persaingan gelar musim ini kian ketat dengan kehadiran KTM yang memecah dominasi Ducati dan Aprilia.

Marc Marquez mengakhiri sesi latihan bebas pertama MotoGP Jepang di posisi ketiga, terpaut dari adiknya Alex Marquez yang mencatat waktu tercepat dan Pedro Acosta dari KTM. Pembalap pabrikan Ducati itu mengakui bahwa ia belum menemukan ritme terbaiknya, terutama saat menggunakan ban medium, sementara para rival tampil impresif dengan ban soft. Kesenjangan waktu yang tipis—hanya 0,076 detik antara Alex dan Acosta—menandakan persaingan di Motegi tahun ini jauh lebih ketat dibandingkan musim lalu ketika Marquez mengunci gelar dunianya yang ketujuh di sirkuit yang sama.
Menghadapi sisa akhir pekan, Marquez menegaskan akan mengubah pendekatannya. Jika sebelumnya ia cenderung berhati-hati di sirkuit yang dianggap kurang menguntungkan, kini ia memilih untuk menyerang sejak sesi kualifikasi hingga balapan. "Kami harus menyerang di semua sirkuit," ujarnya. "Di tujuh balapan tersisa, kami harus menekan, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Memang risikonya lebih besar, tetapi standar kompetisi terus naik." Pernyataan ini menandai pergeseran strategi menjelang putaran Asia, di mana duel perebutan gelar melibatkan duo Aprilia, Marco Bezzecchi dan Jorge Martin, yang juga tampil konsisten di sesi latihan.
Alex Marquez, yang tampil sebagai yang tercepat, memberikan pandangan bahwa performa Marc dengan ban medium sebenarnya sangat kuat untuk jarak balapan. "Saya merasa baik dalam time attack dan race pace. Tentu kami perlu meningkatkan, karena Marc sangat cepat dengan ban medium. Tapi kami tidak buruk, dan kami harus terus mendorong," jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa kesimpulan menyeluruh baru bisa diambil setelah melihat bagaimana strategi ban berkembang pada hari balapan. Perbedaan pilihan ban antara Acosta (soft) dan Marc (medium) membuat analisis hari Jumat menjadi tidak konklusif.
"Kami harus menyerang di semua sirkuit. Di tujuh balapan tersisa, kami harus menekan, terutama pada hari Sabtu dan Minggu. Memang risikonya lebih besar, tetapi standar kompetisi terus naik." — Marc Marquez
Perubahan sikap Marquez tidak lepas dari dinamika kompetisi yang semakin tidak terprediksi. Kehadiran KTM melalui Acosta memecah hegemoni Ducati dan Aprilia yang sepanjang musim mendominasi. Kini, tiga pabrikan berbeda bersaing di barisan depan, membuat perhitungan poin menjadi lebih rumit. Bagi Marquez, yang akrab dengan tekanan perebutan gelar, keputusan untuk menyerang adalah taruhan yang harus diambil. Ia sadar bahwa bermain aman bisa berujung pada kehilangan poin berharga, sementara agresivitas membuka peluang meraih kemenangan meski dengan risiko crash yang lebih tinggi.
Dari kacamata pengamat, langkah Marquez mencerminkan tren umum di MotoGP modern: pembalap tidak lagi bisa mengandalkan konsistensi semata, terutama ketika pabrikan non-favorit mampu menyusup ke posisi terdepan. Motegi, dengan karakter trek yang menuntut pengereman keras dan traksi stabil, akan menjadi ujian nyata bagi strategi baru Marquez. Jika ia berhasil memaksimalkan ban soft pada kualifikasi dan menjaga ritme dengan medium di balapan, peluang meraih hasil maksimal tetap terbuka. Namun, kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal di sirkuit sepanjang 4,8 km ini.
MotoGP Jepang menjadi titik krusial dalam perebutan gelar musim ini. Dengan tujuh balapan tersisa, setiap poin akan menentukan. Akankah agresivitas Marquez membuahkan hasil di Motegi, atau justru menjadi bumerang yang memperlebar jarak dengan para rival? Jawabannya akan terlihat dalam sesi kualifikasi dan balapan akhir pekan ini.



