Hamilton Ungkap Hari Paling Ingin Diulang: Lima Hari di Pegunungan Bersama Roscoe dan Coco
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton memilih momen liburan lima hari di pegunungan bersama dua anjingnya, Roscoe dan Coco, sebagai hari yang paling ingin ia alami kembali, mengalahkan 106 kemenangan grand prix dan tujuh gelar juara dunia.
- Kedua bulldog tersebut telah tiada—Coco pada Juni 2020 dan Roscoe pada September 2025—membuat kenangan itu menjadi warisan emosional yang ia rawat lewat unggahan media sosial.
- Kisah ini menegaskan sisi humanis Hamilton di tengah persaingan Formula 1 yang keras, sekaligus menunjukkan bagaimana atlet elite mengelola kehilangan dan kesehatan mental.

Juara dunia Formula 1 tujuh kali, Lewis Hamilton, mengaku bahwa hari paling berharga dalam hidupnya bukanlah salah satu dari 106 kemenangan grand prix atau momen pengangkatan trofi juara. Dalam sebuah video di media sosial, pembalap Ferrari berusia 41 tahun itu memilih lima hari retret di pegunungan bersama dua anjing bulldognya, Roscoe dan Coco, sebagai periode yang paling ingin ia ulangi.
Hamilton menuturkan bahwa ia menghabiskan waktu bersama kedua anjingnya selama lima hari di daerah pegunungan, hanya bertiga, dengan rutinitas berjalan kaki setiap hari. "Ada satu hari yang benar-benar menyenangkan. Saya berharap bisa mengulanginya," ujarnya dalam video tersebut. Pilihan itu ia ambil ketika ditanya tentang satu hari dari masa lalunya yang ingin ia alami kembali—sebuah pertanyaan sederhana yang justru mengungkap prioritas emosional di balik karier gemilangnya.
Kenangan itu kini menjadi lebih sentimental karena kedua anjing kesayangannya telah tiada. Coco meninggal pada Juni 2020, tak lama setelah pembatasan awal pandemi mulai dilonggarkan. Sementara Roscoe, yang selama bertahun-tahun menjadi ikon tak resmi di paddock F1, berpulang pada September 2025. Hamilton baru-baru ini membagikan penghormatan menyentuh pada peringatan pertama kepergian Roscoe.
"Sudah satu tahun sejak Roscoe pergi. Hidup tanpa sahabatku terasa berat, dan tidak ada satu hari pun yang tidak kuharap ia ada di sisiku. Aku memikirkan dia dan Coco setiap hari, dan meski sedih, aku sangat bersyukur atas waktu yang kami habiskan bersama."
Ungkapan itu bukan sekadar nostalgia. Bagi Hamilton, kehilangan dua anjing yang setia menemaninya di berbagai sirkuit dunia menjadi pengingat bahwa di balik helm dan balapan berkecepatan tinggi, terdapat dimensi manusiawi yang jarang terekspos. Roscoe bahkan sempat menjadi ikon populer di paddock, sering terlihat bersama Hamilton dalam sesi latihan maupun balapan, dan kehadirannya memberi warna berbeda pada dunia motorsport yang serba teknis.
Pengakuan Hamilton juga menyoroti bagaimana atlet papan atas mengelola tekanan kompetitif dan kehilangan pribadi. Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental di kalangan pembalap dan atlet profesional semakin terbuka dibicarakan. Hamilton sendiri pernah berbagi pengalaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan emosional di tengah jadwal balapan yang padat. Momen retret di pegunungan itu, yang terjadi di penghujung masa karantina COVID-19, menjadi semacam jangkar psikologis yang ia kenang sebagai sumber kebahagiaan murni.
Dari perspektif industri motorsport, kisah semacam ini memperkuat narasi bahwa pembalap bukan hanya mesin pencetak poin. Kepribadian, hewan peliharaan, dan kehidupan di luar lintasan menjadi bagian dari branding dan kedekatan dengan penggemar. Roscoe, misalnya, sempat memiliki akun media sosial sendiri dan sering muncul dalam konten tim Mercedes maupun Ferrari, menjadikannya salah satu hewan paling terkenal di dunia olahraga. Kepergiannya pada 2025 memicu gelombang simpati dari sesama pembalap dan penggemar di seluruh dunia.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, fenomena ini mencerminkan pergeseran cara menikmati olahraga: tidak lagi sekadar menonton balapan, tetapi juga mengikuti kehidupan personal para pembalap. Komunitas penggemar di Tanah Air kerap menjadikan momen seperti ini sebagai bahan diskusi di media sosial, memperkuat ikatan emosional dengan idola mereka. Hal ini sejalan dengan meningkatnya popularitas F1 di Indonesia, terutama setelah gelaran MotoGP Mandalika dan berbagai ajang internasional lainnya yang mendekatkan penonton pada sisi manusiawi atlet.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Hamilton akan kembali menang, melainkan bagaimana ia mengartikulasikan warisan emosionalnya di sisa karier. Apakah kisah Roscoe dan Coco akan menjadi bagian dari narasi perpisahan yang lebih besar, atau justru menjadi pengingat bahwa di balik setiap gelar, ada ikatan sederhana yang memberi makna? Yang jelas, bagi Hamilton, lima hari di pegunungan itu telah mengalahkan semua podium dan trofi.



