Sirkuit Sepang Terkelupas, Pirelli Sebut Catatan Waktu Melenceng 4,5 Detik
Baca dalam 60 detik
- Permukaan aspal Sirkuit Sepang yang kasar dan mulai terkelupas membuat pembalap kesulitan mendapatkan cengkeraman optimal.
- Pirelli mengungkapkan simulasi kualifikasi mereka meleset hingga 4,5 detik akibat kondisi lintasan yang tidak terkontrol.
- Degradasi ban yang tinggi berpotensi mengacak strategi balapan dan menciptakan kejutan pada urutan start.

Kembalinya Formula 1 ke Sirkuit Sepang setelah sembilan tahun absen langsung menyajikan tantangan tak terduga. Sesi latihan bebas pada Jumat (waktu setempat) menunjukkan bahwa kondisi permukaan lintasan jauh dari kata ideal, bahkan cenderung membahayakan performa ban. Alih-alih hujan tropis yang sering menjadi momok, justru tekstur aspal sirkuit sepanjang 5,35 kilometer itu yang menjadi masalah utama.
Sejak awal, para pembalap sudah memberi peringatan. Oscar Piastri menyebut aspal Sepang seperti "kertas amplas" yang akan mempercepat keausan ban. Prediksi itu terbukti. Selama sesi latihan, permukaan lintasan mulai terkelupas dan melepaskan kerikil. Petugas penyelenggara sampai harus mengerahkan truk penyapu setelah sesi FP2 untuk membersihkan batu-batu kecil yang berserakan.
Pirelli, pemasok ban tunggal F1, mengungkapkan bahwa catatan waktu satu putaran pada hari itu meleset hingga 4,5 detik dari simulasi kualifikasi mereka. Menurut kepala insinyur Pirelli, Simone Berra, penyebabnya adalah tingkat kekasaran aspal yang ekstrem dan rendahnya daya cengkeram yang tersedia. "Kondisinya tidak bagus, aspal terkelupas. Ada batu-batu keluar dan FIA membersihkan lintasan dengan penyapu beberapa kali," ujarnya.
Berra menambahkan bahwa degradasi aspal berlangsung cepat, bahkan selama sesi berjalan. "Kami terpaut 4,5 detik dari simulasi. Besok akan kita lihat, tapi saya rasa kami tidak akan mendapatkan 4-5 detik dalam semalam. Ini murni soal kondisi aspal. Kami sudah 10 tahun tidak berlaga di sini, jadi tim juga kesulitan mendapat referensi yang tepat," jelasnya.
Meski demikian, Berra menegaskan bahwa masalah ini tidak menimbulkan risiko keselamatan signifikan, seperti potensi ban bocor. "Ini bukan masalah besar untuk keselamatan, bukan soal tusukan. Hanya saja menciptakan tingkat cengkeraman rendah karena kekasaran yang tinggi," katanya. Ia memperkirakan kondisi bisa memburuk selama balapan karena banyak mobil melintas dalam suhu tinggi. "Jujur, ini bukan akhir dunia, masih bisa dikelola, tapi daya cengkeram jelas tidak ideal."
Charles Leclerc dari Ferrari, yang mencatat waktu tercepat di sesi Jumat, mengakui kesulitan yang dihadapi. "Ini hari yang sangat, sangat sulit secara keseluruhan. Kondisi lintasan sangat tricky. Lintasan cukup kotor dan sangat licin. Saya pikir keadaan akan banyak berubah dan berkembang dari hari ini," ujarnya.
Malaysia memang ditunjuk menggantikan Sakhir sebagai tuan rumah Grand Prix Bahrain akhir pekan ini. Karakter aspal Sepang yang kasar dan tingkat keausan tinggi dinilai cocok dengan sirkuit asal Bahrain. Namun, degradasi yang terjadi per putaran berpotensi menciptakan perbedaan antara performa satu putaran dan performa balapan penuh. Inilah yang bisa menambah intrik strategi di sirkuit yang sudah dikenal ramah untuk aksi menyalip.
"Ini soal menemukan keseimbangan yang sangat baik, bukan hanya untuk mobil dan performa itu sendiri, tetapi juga dalam long run, mencoba menjaga konsistensi dan mengendalikan suhu, untuk menghindari selip atau over-driving ban selama stint."
โ Simone Berra, Kepala Insinyur Pirelli
Berra juga memprediksi kemungkinan kejutan pada sesi kualifikasi. Menurutnya, tim yang kesulitan memanaskan ban depan dengan tepat bisa kesulitan di kualifikasi, tetapi justru tampil lebih baik di balapan. "Saya sudah melihat beberapa kasus di mana tim mengalami kesulitan menyalakan ban depan. Mereka tidak menyetel mobil dengan benar agar ban depan siap untuk Tikungan 1 setelah lintasan lurus panjang usai Tikungan 15. Kita bisa melihat kejutan, seperti beberapa tim yang lebih menderita di kualifikasi tetapi punya performa lebih baik untuk balapan," paparnya.
Dengan kondisi aspal yang diperkirakan makin terdegradasi saat balapan, para tim harus cermat meramu kompromi antara setelan kualifikasi dan balapan. Sementara itu, bagi para penggemar di Indonesia, kembalinya F1 ke Sepang bisa menjadi pengingat akan kedekatan geografis dan budaya balap di kawasan Asia Tenggara. Mampukah sirkuit ini menampilkan balapan yang seru meski aspalnya sedang 'sakit'? Kita tunggu aksi di lintasan.



