Laporan Tenaga Kerja AS Rilis Jumat: Sinyal The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Global Menanti
Baca dalam 60 detik
- Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan mengumumkan data nonfarm payrolls September pada Jumat pagi, dengan konsensus Wall Street memperkirakan penambahan 84.000 lapangan kerja dan tingkat pengangguran tetap 4,1%.
- Pasar kini memperkecil peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat 27-28 Oktober, beralih ke ekspektasi pengetatan pada Desember seiring komentar pejabat yang menekankan stabilitas pasar tenaga kerja.
- Survei Glassdoor mencatat kepercayaan pekerja berada di titik terendah sepanjang sejarah, menandakan ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran terhadap otomatisasi mulai membebani psikologis angkatan kerja.

Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) dijadwalkan merilis laporan nonfarm payrolls September pada Jumat pukul 08.30 waktu setempat. Konsensus Dow Jones memperkirakan ekonomi AS menambah 84.000 pekerjaan baru, dengan tingkat pengangguran bertahan di 4,1%. Angka ini menjadi ujian pertama pasar tenaga kerja setelah serangkaian data yang berfluktuasi sepanjang 2026, sekaligus penentu arah kebijakan suku bunga The Fed pada dua rapat tersisa tahun ini.
Ekspektasi tersebut menandai perlambatan dari tren sebelum 2025, meski laju pengangguran masih berada di kisaran yang secara historis mencerminkan kondisi kerja penuh. Pada Agustus, ekonomi AS sempat mencatat lonjakan 162.000 pekerjaan, disertai revisi ke atas untuk bulan-bulan sebelumnya. Namun, volatilitas data tahun ini cukup tajam: Februari mencatat kehilangan 156.000 pekerjaan, sementara Maret melonjak 214.000. Rata-rata penambahan sepanjang 2026 hanya 80.000 per bulan, jauh di bawah periode pemulihan pascapandemi.
Di balik angka agregat yang terlihat stabil, sinyal dari dalam The Fed menunjukkan pergeseran fokus. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dalam pidatonya Kamis menyatakan bahwa berbagai indikator memperlihatkan kondisi pasar tenaga kerja telah "mengalami stabilisasi", dengan penciptaan lapangan kerja yang mulai menyebar ke banyak sektor. Ia juga mencatat PHK tetap rendah dan lowongan kerja sedikit meningkat. Presiden The Fed New York, John Williams, menambahkan bahwa "tidak ada kebutuhan untuk terburu-buru" dalam mempertimbangkan kenaikan suku bunga lanjutan setelah kenaikan seperempat poin pada September.
"Pasar tenaga kerja terus solid, bahkan menguat sedikit di margin," ujar Williams, seperti dikutip dalam pernyataannya pekan ini.
Komentar tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar. Peluang kenaikan suku bunga pada rapat 27-28 Oktober mengecil drastis, dan pelaku pasar kini melihat peluang lebih besar pada rapat Desember. Namun, The Fed berada dalam posisi dilematis: di satu sisi pasar tenaga kerja dinilai cukup kokoh, di sisi lain inflasi masih menjadi momok yang lebih mengganggu. Pertumbuhan upah melambat, dengan rata-rata penghasilan per jam diperkirakan naik 3,1% year-on-year pada September, turun dari sekitar 4% di awal tahun. The Fed menegaskan tidak ada bukti spiral upah-harga, sehingga tekanan untuk segera menaikkan suku bunga kembali mereda.
Meski data resmi menunjukkan ketenangan, sentimen pekerja justru berada di titik terendah. Survei Glassdoor terbaru mencatat kepercayaan karyawan anjlok ke rekor terendah pada September, ketiga kalinya sepanjang tahun ini. Kepala Ekonom Glassdoor, Daniel Zhao, menyebut kekhawatiran terhadap keamanan kerja, ketidakpastian ekonomi, dan inflasi sebagai pemicu utama. Faktor lain yang muncul adalah kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan yang berpotensi menggeser peran manusia di dunia kerja.
Ekonom senior Allianz Trade, Dan North, menilai pasar kerja saat ini paling tepat digambarkan sebagai "stabil". Ia mengakui lowongan kerja menurun dan perekrutan melambat, tetapi tingkat pengangguran yang rendah secara historis menjadi penopang utama. "Sangat sulit bagi orang untuk mendapatkan pekerjaan baru," ujarnya, seraya menambahkan bahwa stabilitas itu tetap rapuh jika permintaan tenaga kerja terus melemah.
Bagi Indonesia, rilis data ini bukan sekadar angka di layar. Pergerakan suku bunga The Fed berdampak langsung pada nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi negara, dan arus modal asing di pasar keuangan domestik. Jika data Jumat mengecewakan, spekulasi penurunan suku bunga bisa menguat dan mendorong aliran dana ke pasar berkembang, termasuk Indonesia. Sebaliknya, angka yang solid dapat memperkuat argumen The Fed menahan suku bunga lebih lama, menekan rupiah, dan mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Yang patut dicermati, ketegangan antara data makro yang stabil dan kecemasan pekerja di level mikro bisa menjadi pemicu volatilitas pasar dalam beberapa bulan ke depan. Jika laporan Jumat hanya mencatat penambahan di bawah 80.000, pertanyaan besarnya bukan lagi soal kapan The Fed menaikkan suku bunga, melainkan seberapa cepat mereka harus bersiap menurunkan suku bunga untuk mencegah pendinginan ekonomi yang lebih dalam.



