IBHOF Umumkan Kandidat 2027: Sergio Martinez hingga Kelly Pavlik Masuk Bursa
Baca dalam 60 detik
- International Boxing Hall of Fame resmi membuka pemungutan suara untuk kelas 2027 dengan sejumlah nama besar masuk daftar kandidat.
- Sergio Martinez, Leo Santa Cruz, dan Kelly Pavlik menjadi tambahan anyar di kategori modern putra, sementara dua petinju wanita debut di kategori modern putri.
- Hasil voting akan diumumkan awal Desember, dengan upacara pelantikan dijadwalkan pada 10-13 Juni 2027 di Canastota, New York.

International Boxing Hall of Fame (IBHOF) resmi mengirimkan surat suara untuk pemilihan kelas 2027 kepada panel pemilih internasional pada 1 Oktober lalu. Sebanyak 45 nama baru ditambahkan ke berbagai kategori, menandai dimulainya proses seleksi yang akan menentukan siapa saja yang layak menyandang status legenda tinju dunia.
Panel pemilih terdiri dari anggota Boxing Writers Association of America (BWAA) serta sejarawan tinju dari berbagai negara, termasuk Jepang, Inggris, Kanada, Argentina, Australia, Belanda, Jerman, Meksiko, dan Amerika Serikat. Mereka akan menentukan induksi dalam lima kategori: Men's Modern (pertarungan terakhir tidak lebih awal dari 1989), Late Era Old-Timer (pertarungan terakhir antara 1943-1988), Non-Participant (kontributor di luar peran petinju atau pengamat), Observer (jurnalis, eksekutif media, fotografer, dan seniman), serta Women's Modern (pertarungan terakhir tidak lebih awal dari 1989).
Direktur Eksekutif IBHOF, Edward Brophy, menyebut momen pengiriman surat suara sebagai periode yang dinanti. "Pengiriman surat suara tahunan adalah waktu yang istimewa bagi olahraga tinju," ujarnya. "Ada antisipasi luar biasa saat Hall of Fame dan komunitas tinju dunia menantikan hasil untuk menentukan siapa yang akan bergabung dengan daftar legenda abadi tinju."
Di kategori Men's Modern, sejumlah nama tenar masuk bursa. Sergio "Maravilla" Martinez, juara dunia dua divisi, kembali mencuat setelah karier gemilangnya di kelas menengah dan menengah junior. Leo "El Terremoto" Santa Cruz, pemegang gelar di empat divisi, juga masuk daftar. Jorge "El Nino de Oro" Linares, juara tiga divisi, melengkapi deretan petinju Amerika Latin yang dipertimbangkan.
Nama lain yang tak kalah menarik adalah Kelly "The Ghost" Pavlik, mantan juara dunia kelas menengah yang dikenal karena gaya bertarung agresifnya. Iran "The Blade" Barkley, juara tiga divisi, serta Chad "Bad" Dawson di kelas berat ringan, juga masuk. Marlon "Magic Man" Starling, Junior "Poison" Jones, dan Sumbu Kalambay melengkapi tambahan di kategori ini.
Kategori Women's Modern menyambut dua nama baru: Yesica "La Tuti" Bopp dan Ibeth "La Roca" Zamora Silva, keduanya juara dunia dua divisi. Kehadiran mereka menandai semakin besarnya pengakuan terhadap tinju wanita dalam sejarah olahraga ini.
Untuk kategori Late Era Old-Timer, nama George Chuvalo, petinju heavyweight Kanada, ditambahkan. Sementara di kategori Non-Participant, sejumlah figur di balik layar masuk, seperti matchmaker/promotor Tom Brown, pelatih Robert Garcia, distributor closed circuit Joe Hand Sr., manajer Al Haymon, dan manajer/promotor Jack Hurley. Kategori Observer kedatangan sutradara televisi Marc Payton dan penyiar Joe Tessitore.
"Pengiriman surat suara tahunan adalah waktu yang istimewa bagi olahraga tinju. Ada antisipasi luar biasa saat Hall of Fame dan komunitas tinju dunia menantikan hasil untuk menentukan siapa yang akan bergabung dengan daftar legenda abadi tinju." โ Edward Brophy, Direktur Eksekutif IBHOF
Proses pemungutan suara ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan bagi para petinju, tetapi juga cerminan dinamika tinju global. Kehadiran voter dari berbagai benua menunjukkan bahwa IBHOF berupaya menjaga objektivitas dan representasi geografis. Meski demikian, dominasi nama-nama dari Amerika Serikat dan Amerika Latin dalam daftar kandidat menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana petinju dari Asia, Afrika, atau Eropa Timur mendapat perhatian yang setara.
Bagi Indonesia, momen ini bisa menjadi refleksi. Meski belum ada petinju Indonesia yang masuk radar IBHOF, prestasi Chris John sebagai juara dunia WBA kelas bulu selama hampir satu dekade sering disebut sebagai salah satu karier paling konsisten di Asia. Kegagalan mendapatkan pengakuan internasional yang lebih luas kerap dikaitkan dengan kurangnya eksposur media global dan minimnya arsip pertandingan yang terdokumentasi. Ke depan, federasi tinju nasional dan media olahraga dalam negeri memiliki pekerjaan rumah untuk mendorong dokumentasi dan promosi warisan petinju tanah air.
Dengan surat suara yang telah beredar, perhatian kini tertuju pada awal Desember ketika hasil voting diumumkan. Siapa saja yang akan bergabung dengan deretan legenda seperti Muhammad Ali, Sugar Ray Robinson, dan Manny Pacquiao? Dan mampukah IBHOF memperluas cakupan geografisnya untuk mengakui talenta dari wilayah yang selama ini terpinggirkan? Publik tinju dunia menanti jawabannya.



