Crime 101: Thriller Chris Hemsworth yang Gagal di Bioskop Kini Rajai Prime Video
Baca dalam 60 detik
- Crime 101, film thriller kriminal yang dibintangi Chris Hemsworth, berhasil menduduki puncak tangga streaming Prime Video secara global setelah sebelumnya mengecewakan di box office.
- Kegagalan komersial awalnya disebabkan oleh persaingan ketat dengan rilis besar seperti Goat dan Wuthering Heights, namun platform digital memberi kehidupan kedua bagi film ini.
- Kesuksesan streaming ini menegaskan bahwa Hemsworth tetap memiliki daya tarik sebagai bintang utama di luar perannya sebagai Thor, membuka peluang karier yang lebih beragam.

Film thriller kriminal Crime 101 yang dibintangi Chris Hemsworth mengalami nasib ironis: setelah gagal bersinar di box office, film ini justru menjelma menjadi fenomena di platform streaming Prime Video. Menurut data FlixPatrol, Crime 101 kini menduduki peringkat teratas daftar tontonan paling populer di Prime Video di berbagai negara, membuktikan bahwa karya yang awalnya diabaikan penonton bioskop mampu menemukan audiensnya di ranah digital.
Kegagalan Crime 101 di layar lebar bukan karena kualitasnya buruk. Kritikus memuji film ini sebagai penghormatan terhadap genre LA Noir klasik, dengan alur cerita yang cerdas dan akting para pemainnya yang memukau. Namun, saat dirilis, film ini harus berhadapan dengan dua pesaing berat: Goat, komedi animasi olahraga dari Sony Pictures Animation yang dipromosikan dengan kaitan ke pembuat KPop Demon Hunters dan Spider-Man: Into the Spider-Verse, serta adaptasi Wuthering Heights garapan Emerald Fennell yang menampilkan Margot Robbie dan Jacob Elordi. Akibatnya, Crime 101 hanya mampu menempati posisi ketiga pada akhir pekan pembukaannya.
Namun, di balik kegagalan itu, Crime 101 menyimpan kekuatan yang membuatnya layak ditonton. Ceritanya mengikuti Mike, seorang pencuri perhiasan yang ingin keluar dari dunia kriminal setelah nyaris tertangkap. Rencananya untuk hidup tenang menjadi rumit ketika ia bertemu dengan pencuri lain yang tidak stabil, seorang kekasih baru, dan seorang detektif keras kepala. Sutradara sekaligus penulis skenario Bart Layton merangkai karakter-karakter ini dengan cara yang tidak terduga, membangun ketegangan secara perlahan hingga mencapai klimaks yang memuaskan.
Kekuatan utama Crime 101 terletak pada chemistry para pemainnya. Hemsworth tampil memesona sebagai Mike, menunjukkan karisma dan kecerdasan yang membuatnya cocok sebagai bintang utama di luar perannya sebagai Thor. Interaksinya dengan Halle Berry yang berperan sebagai Sharon, seorang broker asuransi yang membantunya merampok klien kaya, terasa tajam dan menghibur. Sementara itu, Mark Ruffalo memberikan penampilan solid sebagai detektif Lou Lubesnick yang tengah menghadapi masalah rumah tangga dan korupsi di tubuh kepolisian. Namun, pencuri perhatian justru datang dari Barry Keoghan, yang berperan sebagai pencuri psikopat. Kehadirannya selalu berhasil membuat penonton tegang karena tingkahnya yang tidak terduga.
Kesuksesan Crime 101 di Prime Video juga menjadi pengingat bahwa tidak semua film harus sukses di bioskop untuk dianggap berhasil. Platform streaming telah mengubah lanskap industri hiburan, memberikan kesempatan kedua bagi film-film yang kurang beruntung secara komersial. Bagi Hemsworth sendiri, ini adalah bukti bahwa ia mampu membawa film dengan genre yang lebih dewasa dan intens, mirip dengan franchise Extraction yang juga sukses di Netflix. Hollywood sepertinya perlu memperhitungkan kembali potensi Hemsworth sebagai leading man di luar jagat Marvel.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Crime 101 akan mendorong studio untuk lebih serius memproduksi film thriller kriminal dengan anggaran menengah, atau justru sebaliknya, semakin banyak film berkualitas yang langsung dirilis ke streaming. Yang jelas, penonton kini memiliki kuasa lebih besar untuk menentukan kesuksesan sebuah film, tidak lagi bergantung pada performa box office semata. Apakah ini awal kebangkitan genre noir di era digital? Waktu yang akan menjawab, tetapi untuk sekarang, Crime 101 telah membuktikan bahwa kualitas tidak selalu terlihat dari angka pembukaan akhir pekan.



