Lionsgate Angkat 'Portrait of God' Jadi Film Panjang, Jordan Peele dan Sam Raimi Bertindak sebagai Produser
Baca dalam 60 detik
- Lionsgate resmi mengakuisisi hak adaptasi film pendek horor 'Portrait of God' karya Dylan Clark untuk dijadikan fitur layar lebar.
- Chase Infiniti akan membintangi proyek ini, sementara Dylan Clark tetap menyutradarai dan menulis naskah bersama Joe Russo.
- Kehadiran Jordan Peele dan Sam Raimi sebagai produser memperkuat posisi film ini di pasar horor yang tengah melirik konten viral internet.

Lionsgate dikabarkan telah mengamankan hak adaptasi Portrait of God, film pendek horor berdurasi tujuh menit karya Dylan Clark yang lebih dulu viral di YouTube, untuk diangkat ke layar lebar. Langkah ini menandai babak baru bagi karya independen yang sebelumnya hanya dikenal di kalangan penggemar horor daring, sekaligus menegaskan strategi studio dalam memburu konten digital yang memiliki basis penggemar siap pakai.
Proyek film panjang ini akan diperkuat oleh sederet nama besar. Chase Infiniti, yang sebelumnya terlibat dalam One Battle After Another, ditunjuk sebagai bintang utama. Dylan Clark tidak hanya kembali menyutradarai, tetapi juga menulis naskah bersama Joe Russo (The Inheritance). Yang tak kalah menarik, Jordan Peele (Get Out) dan Sam Raimi (The Evil Dead) akan duduk sebagai produser—kombinasi yang langsung memicu ekspektasi tinggi di komunitas penggemar horor.
Film pendek aslinya mengisahkan seorang gadis religius yang tengah mempersiapkan presentasi lisan tentang sebuah lukisan. Lukisan itu memicu perdebatan: sebagian mengklaim kanvas kosong, sementara yang lain bersikeras melihat sosok dalam kegelapan. Sang gadis kemudian mengaitkan gambar tersebut dengan pengalaman religius, namun semakin dalam ia menelaah, semakin mengerikan wujud yang muncul di kanvas. Narasi dibuka dengan kutipan Alkitab, "Tidak ada manusia yang melihat Aku dan tetap hidup," yang menjadi kunci interpretasi seluruh cerita.
Adaptasi ini bukan tanpa preseden. Beberapa tahun terakhir, industri horor Hollywood semakin agresif menggarap cerita yang lebih dulu populer di platform digital. Backrooms karya Kane Parsons, yang berawal dari seri found-footage di YouTube dengan lebih dari 100 juta penayangan, sukses besar dan menjadi contoh bagaimana konten viral dapat dikonversi menjadi properti sinematik bernilai tinggi. Model ini menawarkan dua keuntungan sekaligus: biaya produksi yang relatif rendah dan basis penggemar yang sudah terbentuk sebelum film dirilis.
"Kombinasi Peele dan Raimi sebagai produser memberi sinyal bahwa Lionsgate serius menggarap cerita ini, bukan sekadar mendaur ulang konten viral," ujar seorang pengamat industri film horor yang enggan disebutkan namanya.
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini patut dicermati. Film horor tanah air masih mendominasi box office lokal, namun sebagian besar mengandalkan formula hantu dan legenda urban yang sudah jenuh. Keberhasilan adaptasi konten digital di Hollywood bisa menjadi cetak biru bagi rumah produksi dalam negeri untuk melirik cerita-cerita viral dari platform seperti TikTok, YouTube, atau media sosial lain. Dengan biaya produksi yang lebih efisien dan audiens yang sudah teruji, potensi keuntungannya tidak bisa diabaikan.
Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga kualitas naratif. Film pendek Portrait of God meninggalkan banyak ruang interpretasi—sesuatu yang sulit dipertahankan dalam format panjang tanpa kehilangan ketegangan. Clark dan timnya harus memutuskan apakah akan memperluas cerita, menggali latar belakang lukisan, atau mengambil arah yang sepenuhnya berbeda. Keputusan ini akan menentukan apakah Portrait of God menjadi fenomena berikutnya atau sekadar daur ulang yang kehilangan daya kejutnya.
Dengan kombinasi nama besar di balik layar dan momentum pasar yang mendukung, film ini berpotensi menjadi salah satu rilisan horor paling dinanti. Pertanyaannya kini: akankah Lionsgate mampu mempertahankan atmosfer mencekam yang membuat versi pendeknya begitu memikat, atau justru tersesat dalam ekspansi yang berlebihan?



