Kebakaran Trans Home Sleman: Asap Hitam Masih Membubung, Polisi Belum Pastikan Penyebab
Baca dalam 60 detik
- Petugas damkar dan kepolisian masih berjibaku menangani kebakaran Trans Home Berbah, Sleman, hingga Jumat pagi, dengan asap hitam pekat terus keluar dari basement.
- Dua karyawan perempuan tewas dan sekitar 100 kendaraan hangus; polisi menduga asap berasal dari material karet yang terbakar di area bawah bangunan.
- Penyebab pasti insiden belum diungkap karena kepolisian menunggu hasil identifikasi resmi, sementara arus lalu lintas di sekitar lokasi terganggu.

Kebakaran yang melanda Trans Home, pusat perbelanjaan bahan bangunan dan elektronik di Jalan Yogya-Solo, Berbah, Sleman, DI Yogyakarta, belum sepenuhnya bisa dijinakkan hingga Jumat (2/10) pagi. Asap hitam masih terlihat mengepul dari area basement bangunan tersebut sekitar pukul 08.50 WIB, memaksa petugas pemadam kebakaran dan aparat kepolisian tetap bersiaga di lokasi.
Kapolsek Berbah AKP Fitrianto Heri Nugroho mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk melacak sumber asap yang tak kunjung hilang. Menurutnya, hingga kini belum ada kepastian mengenai penyebab asap yang terus muncul dari bagian bawah bangunan. "Kami masih menunggu hasil identifikasi," ujarnya saat dihubungi, Jumat pagi.
Dugaan sementara, asap pekat tersebut berasal dari material tertentu yang terbakar di basement, kemungkinan besar karet. Heri menjelaskan bahwa petugas sempat kebingungan karena asap tetap keluar meski penyiraman air sudah dilakukan secara masif sejak Kamis malam. "Bau asapnya seperti karet terbakar," tambahnya. Ia juga menegaskan bahwa hanya petugas Damkar yang diizinkan masuk ke area inti, sementara polisi fokus mengamankan lokasi.
Hingga Jumat pagi, tim gabungan dari BPBD, kepolisian, Dinas Sosial, dan puluhan armada pemadam masih melakukan penyisiran serta pendinginan. Polisi juga telah memasang garis polisi di sisi selatan bangunan untuk mengamankan area parkir yang dipenuhi bangkai kendaraan. Personel lalu lintas disiagakan untuk mengurai kemacetan akibat warga yang memperlambat laju kendaraan untuk melihat dan mengambil gambar.
Insiden ini menambah daftar panjang kebakaran besar di kawasan komersial yang menimbulkan korban jiwa. Selain kerugian material yang signifikan, kejadian ini menyoroti pentingnya standar keselamatan kebakaran, terutama pada bangunan yang menyimpan bahan kimia dan material mudah terbakar di basement. Penanganan yang berlarut-larut juga mengindikasikan perlunya evaluasi prosedur tanggap darurat di fasilitas publik.
"Kami masih menunggu identifikasi resmi terkait penyebab pasti kebakaran," ujar Kapolsek Berbah AKP Fitrianto Heri Nugroho.
Kepolisian belum dapat memastikan apakah ada unsur kelalaian atau faktor lain yang memicu kebakaran. Pemeriksaan saksi-saksi masih berlangsung, dan hasil identifikasi akan menentukan langkah hukum selanjutnya. Sementara itu, manajemen Trans Home belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden ini.
Ke depan, publik menanti transparansi hasil investigasi, terutama mengingat besarnya dampak korban jiwa dan kerugian materi. Jika terbukti ada kelalaian dalam prosedur keselamatan, kasus ini bisa menjadi preseden bagi pengelolaan bangunan komersial serupa di seluruh Indonesia. Pertanyaannya, apakah regulasi keselamatan kebakaran di kawasan padat aktivitas akan diperketat, ataukah peristiwa ini akan berlalu tanpa perbaikan sistemik?



