Colapinto Selamat dari Amukan Briatore, Fokus ke Balapan Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Franco Colapinto dipastikan tetap membalap untuk Alpine di Grand Prix Malaysia meski terlibat insiden kontroversial di Baku.
- Keputusan manajemen Alpine untuk mempertahankan pembalap muda Argentina itu menepis spekulasi pergantian pembalap di tengah jadwal padat.
- Insiden tersebut menyoroti tekanan besar yang dihadapi pembalap rookie di ajang Formula 1, terutama saat harus tampil di bawah ekspektasi tim papan tengah.

Franco Colapinto memastikan posisinya di kursi balap Alpine untuk Grand Prix Malaysia akhir pekan ini, setelah insiden kontroversial di Grand Prix Azerbaijan nyaris membuatnya kehilangan tempat. Pembalap asal Argentina itu terlibat kecelakaan berantai saat restart safety car di Sirkuit Baku, yang mengakibatkan rekan setimnya, Pierre Gasly, dan pembalap McLaren, Lando Norris, tersingkir. Insiden tersebut membuat Alpine kehilangan peluang finis ganda di zona poin.
Kemarahan bos tim, Flavio Briatore, pasca-balapan sempat memicu spekulasi bahwa Colapinto akan dicoret dari line-up di Malaysia sebagai bentuk hukuman. Briatore dalam pernyataannya usai balapan menyatakan perlunya waktu untuk merenungkan tindakan yang tepat. Namun, keputusan akhir justru berbeda: Colapinto tetap dipertahankan, meski ia tetap menerima penalti turun lima posisi di grid karena dianggap menyebabkan tabrakan.
Alih-alih mendapat sanksi tambahan, Colapinto justru langsung diterbangkan ke Inggris dengan penerbangan charter F1 dari Baku. Setibanya di pabrik Alpine pada dini hari, ia langsung menjalani sesi simulator. Langkah ini bukan bentuk hukuman, melainkan strategi aklimatisasi untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan zona waktu menjelang putaran ketiga dari rangkaian triple-header di Malaysia.
Dalam konferensi pers di Sepang, Kamis, Colapinto menegaskan bahwa kemungkinan digantikan oleh pembalap cadangan Paul Aron tidak pernah menjadi ancaman serius. "Saya langsung ke simulator setelah balapan. Saya langsung berada di pabrik. Bersiap untuk balapan di Malaysia. Hal-hal seperti itu tidak pernah berubah," ujarnya. Ia mengakui bahwa Briatore dan seluruh tim marah atas insiden tersebut, namun ia menekankan bahwa masalah telah diselesaikan secara internal dan tim tetap memberikan dukungan penuh.
"Flavio marah dan semua orang di tim marah. Itu bukan situasi yang menyenangkan, dan lebih buruk lagi menjadi penyebabnya. Tapi kami menyelesaikannya secara internal dan mereka sangat mendukungโdan ingin segera melangkah maju."
Analisis data menunjukkan bahwa kesalahan Colapinto di Tikungan 1 saat restart safety car tergolong relatif kecil. Ia membawa kecepatan lebih tinggi akibat efek slipstream dan sedikit terlalu keras menginjak rem. "Sentuh rem 2-3% terlalu banyak, Anda mengunci ban depan dan tidak bisa berhenti," jelasnya. Menurutnya, lock-up adalah hal yang umum terjadi, terutama dalam kondisi kecepatan tinggi seperti itu. Ia juga menyebut Lando Norris dan Oscar Piastri mengalami hal serupa di tikungan yang sama.
Meski demikian, konsekuensi dari insiden tersebut sangat besar. Alpine kehilangan peluang meraih poin berharga, sementara Colapinto harus menerima penalti grid. Tekanan terhadap pembalap muda di F1 memang tidak pernah surut, terutama ketika harus membalap untuk tim yang tengah berjuang di papan tengah. Keputusan Alpine untuk mempertahankan Colapinto menunjukkan bahwa mereka masih melihat potensi jangka panjang pada pembalap berusia 21 tahun itu.
Dengan penalti turun lima posisi, Colapinto akan memulai balapan dari posisi yang kurang menguntungkan. Namun, ia tetap optimistis dan fokus pada persiapan. "Saya pikir Anda tidak perlu melihatnya sebagai sesuatu yang sangat rumit untuk dipahami. Ini hanya lock-up. Tentu saja konsekuensinya sangat besar," pungkasnya. Balapan Grand Prix Malaysia akan menjadi ujian berikutnya bagi Colapinto untuk membuktikan bahwa ia layak mendapatkan kepercayaan Alpine.



