Stephanie Waring Buka Suara Soal 'Neraka' Menopause: Butuh Dua Tahun, Bukan Sekadar Hormon
Baca dalam 60 detik
- Aktris Hollyoaks Stephanie Waring mengungkap pengalaman menopause dini yang membuatnya harus berjuang dua tahun.
- Ia menekankan pentingnya riset mandiri dan olahraga, bukan hanya mengandalkan terapi hormon.
- Kisahnya menyoroti kurangnya kesadaran dan penanganan serius terhadap kesehatan menopause di banyak negara.

Aktris asal Inggris Stephanie Waring, yang dikenal sebagai Cindy Cunningham di sinetron Hollyoaks, mengaku telah melewati masa menopause setelah dua tahun penuh gejolak. Perempuan 48 tahun itu mengalami menopause dini dan harus menghadapi berbagai efek samping yang melemahkan serta perubahan suasana hati akibat fluktuasi hormon.
Menopause sendiri merupakan tahap alami dalam siklus hidup perempuan ketika menstruasi berhenti karena penurunan kadar hormon, umumnya terjadi antara usia 45 dan 55 tahun. Namun, Waring mengalaminya lebih awal, dan prosesnya berlangsung cepatโhanya dalam dua tahun ia sudah masuk fase post-menopause.
Dalam wawancara dengan majalah New!, ia mengungkapkan kebingungannya saat pertama kali didiagnosis perimenopause. "Saya tidak tahu apa itu perimenopause. Saya harus benar-benar mempelajarinya karena saat itu tidak ada kesadaran tentang topik ini," ujarnya. Ia pun mendorong perempuan, terutama di usia paruh baya, untuk aktif mencari informasi karena setiap orang memiliki gejala yang berbeda.
Waring menyoroti bahwa penanganan menopause seharusnya berbasis gejala, bukan sekadar resep standar. "Saya beruntung dokter saya mendengarkan, tapi saya dengar banyak perempuan ditolak dan malah diberi antidepresan, atau diberi tahu 'memang begitu adanya'," tuturnya. Ia menekankan bahwa perempuan mengenal tubuhnya sendiri lebih baik dari siapa pun dan berhak mendapatkan perhatian serius.
"Kita semua individu dan saya pikir perempuan harus lebih didengar karena kita benar-benar melewati masa yang sulit."
Dukungan pasangan juga berperan besar. Suaminya, pengusaha asal Manchester Tom Thornton-Brookes, disebut sangat suportif. "Dia akan berhenti, duduk, dan mendengarkan saat saya butuh bicara," kata Waring. Selain dukungan emosional, ia mengandalkan pola makan bersih dan latihan beban untuk menjaga kebugaran di tengah perubahan tubuh.
Ia menegaskan bahwa terapi hormon (HRT) bukan satu-satunya solusi. "Anda tidak bisa hanya bergantung pada hormon atau HRT; Anda harus melakukan upaya di sisi lain menopause juga," tegasnya. Kini ia merasa luar biasa dan terus menjaga gaya hidup sehat.
Kisah Waring menyoroti kesenjangan kesadaran dan penanganan menopause di Inggris, yang juga relevan dengan situasi di Indonesia. Di tanah air, topik menopause masih sering dianggap tabu dan kurang dibahas secara terbuka. Banyak perempuan Indonesia mengalami gejala serupa tanpa akses informasi memadai atau dukungan medis yang memadai. Padahal, menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 80% perempuan Indonesia mengalami gejala menopause yang mengganggu kualitas hidup.
Langkah Waring untuk berbagi pengalaman bisa menjadi pemicu diskusi lebih luas tentang kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia. Dengan meningkatnya usia harapan hidup, jumlah perempuan yang memasuki masa menopause akan terus bertambah. Kesadaran dan penanganan yang tepat menjadi kunci agar mereka tidak hanya bertahan, tetapi tetap produktif dan sehat.
Ke depan, perlu ada dorongan bagi penyedia layanan kesehatan untuk lebih responsif terhadap keluhan menopause, serta kampanye edukasi yang menghilangkan stigma. Apakah Indonesia siap memberikan perhatian serius pada kesehatan menopause, seperti yang mulai dilakukan di negara lain?



