Setelah CentOS Dipensiunkan, Linux Terbelah ke Alternatif Gratis yang Bersaing
Baca dalam 60 detik
- Red Hat menghentikan pengembangan CentOS pada 2020 dan mengalihkannya ke CentOS Stream, memicu eksodus pengguna ke distro lain.
- Rocky Linux, AlmaLinux, Oracle Linux, hingga Ubuntu dan Debian kini bersaing mengisi kekosongan yang ditinggalkan CentOS.
- Perusahaan besar masih cenderung bertahan di RHEL karena biaya migrasi dan pelatihan ulang administrator dianggap lebih mahal daripada manfaat beralih.

Keputusan Red Hat pada 2020 untuk menghentikan pengembangan CentOS dan menggantinya dengan CentOS Stream telah mengubah peta distribusi Linux secara permanen. Langkah itu memaksa ribuan pengguna—dari laboratorium riset hingga perusahaan kecil—mencari alternatif yang setara, dan dalam waktu singkat muncul sejumlah distro baru yang menawarkan janji serupa: kompatibilitas dengan Red Hat Enterprise Linux (RHEL) tanpa perlu membayar lisensi.
CentOS sendiri lahir sebagai "Community Enterprise Operating System", versi RHEL tanpa merek dagang. Karena kode sumbernya terbuka, siapa pun bisa merakit ulang dan mendistribusikannya secara gratis. Model ini sangat populer di kalangan perusahaan rintisan yang belum sanggup membeli lisensi RHEL, juga di kalangan individu yang ingin mempelajari RHEL untuk meningkatkan karier. CERN, misalnya, menjadi salah satu pengguna terbesar dan bahkan mengembangkan Scientific Linux bersama Fermilab.
Ketika Red Hat mengumumkan bahwa CentOS akan dihentikan dan digantikan oleh CentOS Stream—yang berfungsi sebagai pratinjau RHEL—komunitas bereaksi keras. Meskipun Red Hat membantah bahwa keputusan itu didorong oleh tekanan pendapatan, banyak pihak menilai langkah tersebut sebagai upaya mengarahkan pengguna ke produk berbayar. Sejak itu, eksodus pun tak terhindarkan.
Dua distro yang paling menonjol adalah Rocky Linux dan AlmaLinux. Rocky Linux digagas oleh Gregory Kurtzer, salah satu pendiri CentOS, dengan slogan "enterprise Linux, the community way"—sebuah sindiran halus terhadap orientasi komersial Red Hat. Nama "Rocky" sendiri diambil untuk mengenang Rocky McGaugh, pendiri awal CentOS yang telah meninggal. Sementara itu, AlmaLinux diposisikan sebagai pengganti langsung CentOS, dirancang agar pengguna dapat bermigrasi tanpa mengubah skrip atau prosedur operasional secara signifikan.
Selain kedua distro tersebut, Oracle Linux juga menawarkan alternatif yang kompatibel dengan RHEL. Oracle memang telah lama menyediakan Oracle Linux dan menjual kontrak dukungan untuk klien korporat, tetapi versi gratisnya bisa diunduh dan dipasang layaknya distro biasa. Ubuntu dan Debian, yang selama ini menjadi pesaing RHEL, juga menjadi tujuan migrasi. Keduanya tersedia gratis, dengan opsi dukungan komersial dari Canonical untuk Ubuntu. Debian, sebagai proyek komunitas murni, menarik bagi mereka yang mengutamakan independensi dari kepentingan korporasi. Universitas Stanford, misalnya, merekomendasikan keduanya untuk riset dan penggunaan umum.
"Kami tidak melihat pendapatan sebagai isu," ujar Brian Exelbierd, penghubung Red Hat dan anggota dewan pengembang, seperti dikutip The Register. Namun, pernyataan itu tidak meredam kekhawatiran komunitas.
Meski banyak alternatif tersedia, RHEL diperkirakan tetap bertahan. Basis kliennya yang besar dan sudah terikat kontrak menjadi benteng alami. Untuk bermigrasi, perusahaan harus mencari kontrak baru, melatih ulang administrator, atau merekrut tenaga ahli, serta mengonversi skrip dan alat administrasi. Biaya-biaya ini sering kali dianggap lebih besar daripada manfaat beralih. Lagi pula, komentar di internet tidak banyak memengaruhi keputusan korporat.
Di Indonesia, fenomena ini juga terasa. Banyak perusahaan dan institusi pendidikan yang sebelumnya mengandalkan CentOS untuk server on-premises kini harus memilih antara beralih ke Rocky Linux, AlmaLinux, atau tetap setia pada RHEL dengan lisensi berbayar. Kementerian dan BUMN yang memiliki pusat data sendiri menghadapi dilema serupa: menghemat biaya lisensi atau memastikan dukungan resmi. Migrasi ke distro komunitas memang menekan pengeluaran, tetapi menuntut kesiapan tim IT dalam mengelola sendiri pembaruan dan keamanan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah RHEL akan hilang, melainkan seberapa besar ekosistem Linux akan terfragmentasi. Dengan semakin banyaknya distro yang kompatibel, pilihan bagi pengguna semakin luas—tetapi juga semakin rumit. Apakah fragmentasi ini akan memperkuat inovasi, atau justru memecah belah komunitas yang selama ini bersatu di bawah payung open source? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Linux selalu memberi jalan keluar bagi penggunanya.



