Jalen Duren Tolak Tawaran Rp3,2 Triliun: Negosiasi Pistons Memanas Jelang Deadline 1 Oktober
Baca dalam 60 detik
- Jalen Duren menolak kontrak lima tahun senilai $200 juta dari Detroit Pistons dan absen dari media day serta awal training camp.
- Tawaran itu jauh di bawah potensi maksimum sekitar $287 juta yang bisa ia dapatkan lewat Rose Rule setelah masuk All-NBA Third Team.
- Duren harus memutuskan menerima qualifying offer $9,6 juta atau bertahan tanpa kesepakatan sebelum batas waktu 1 Oktober.

Negosiasi kontrak antara center Detroit Pistons, Jalen Duren, dan manajemen klub memasuki fase kritis setelah pemain berusia 22 tahun itu menolak tawaran perpanjangan lima tahun senilai $200 juta. Duren juga dilaporkan absen dari media day dan tidak akan mengikuti awal training camp, sinyal bahwa ketegangan antara kedua pihak belum menemukan titik terang menjelang tenggat 1 Oktober.
Menurut laporan CBS Sports, Duren merasa tidak dihormati oleh proses negosiasi yang berjalan. Sumber yang sama menyebut perselisihan ini bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan menyangkut cara klub memperlakukan salah satu pilar mudanya. ESPN melalui Shams Charania sebelumnya melaporkan bahwa tawaran tersebut telah ditolak dan kedua belah pihak berada dalam kebuntuan.
Detroit menawarkan kontrak lima tahun dengan jaminan penuh sebesar $200 juta, atau rata-rata $40 juta per musim. The Athletic mencatat tidak ada opsi tim maupun pemain dalam struktur tersebut, yang secara teori merupakan komitmen jangka panjang signifikan. Namun, angka itu terpaut jauh dari potensi maksimum yang bisa diraih Duren.
Setelah masuk All-NBA Third Team, Duren memenuhi syarat untuk kontrak lebih besar melalui Rose Rule. Aturan itu membuka peluang deal lima tahun senilai kurang lebih $287 juta, menciptakan jurang lebar antara proposal Detroit dan plafon maksimum yang tersedia. Selisih inilah yang membuat negosiasi alot, terutama karena Duren baru saja mencatatkan musim terbaiknya.
Pada musim reguler 2025-26, Duren tampil dalam 70 pertandingan dengan rata-rata 19,5 poin, 10,5 rebound, dan 2,0 assist sambil menembak 65% dari lapangan. Penampilan itu mengantarkannya ke All-Star pertama dan seleksi All-NBA. Namun, produksinya menurun tajam di playoff: 10,2 poin, 8,5 rebound, dan 2,1 assist dengan akurasi 51,4% dalam 14 laga. Penurunan ini menjadi amunisi bagi manajemen untuk menahan diri, sementara kubu Duren menekankan lompatan besar di usia muda.
Detroit sendiri menutup musim reguler dengan rekor 60-22 dan unggulan pertama Wilayah Timur, tetapi langkah mereka terhenti di semifinal konferensi setelah kalah Game 7 dari Cleveland Cavaliers. Kegagalan itu memperkuat argumen bahwa evaluasi terhadap Duren tidak bisa dilepaskan dari performa postseason.
Selain nominal, muncul klausul tak biasa dalam tawaran tersebut. The Athletic melaporkan Detroit menginginkan pemeriksaan berat badan bulanan sepanjang tahun, yang berfungsi sebagai insentif, bukan pemotongan gaji pokok. Ketentuan itu disebut belum dituangkan dalam kontrak formal dan menjadi salah satu titik gesekan. Duren terdaftar memiliki tinggi 6 kaki 10 inci dan berat 250 pon.
"Kami memandang Jalen sebagai bagian penting dari tim ini dan berharap ia kembali apa pun keputusan yang diambil," ujar Presiden Operasi Bola Basket Pistons, Trajan Langdon, seperti dikutip NBC Sports.
Duren juga memiliki opsi menerima qualifying offer senilai $9,6 juta untuk satu musim, yang akan membuatnya menjadi unrestricted free agent pada 2027. Proyeksi kontrak maksimum empat tahun dengan tim lain musim panas mendatang berada di kisaran $189,2 juta; jika ditambah qualifying offer, total lima tahunnya sekitar $198,8 juta. Namun, risiko cedera atau musim buruk bisa menggerus daya tawarnya.
Pistons dilaporkan menolak berbagai pendekatan sign-and-trade sepanjang offseason. Jika hubungan terus memburuk, opsi itu bisa kembali mencuat. Sebaliknya, kesepakatan jangka panjang akan memberi Detroit kejelasan anggaran untuk memperpanjang pemain inti lain seperti Cade Cunningham dan Ausar Thompson, yang telah menerima ekstensi lima tahun $155 juta.
Bagi penggemar NBA di Indonesia, saga ini menjadi cermin bagaimana klub modern menyeimbangkan nilai pasar pemain muda dengan fleksibilitas gaji. Keputusan Duren pada 1 Oktober akan menentukan arah frontcourt Detroit dan menjadi preseden bagi negosiasi kontrak pemain muda lain di liga.
Jika tidak ada kesepakatan, Duren akan memasuki musim 2026-27 dengan status tidak pasti, sementara Pistons harus menunda perencanaan jangka panjang. Akankah keduanya menemukan kompromi, atau justru berpisah pada 2027?



