Mini PC Rp100 Juta: GMKtec EVO-X5 Pro Jadi Pilihan 'Termurah' di Kelas AI Lokal
Baca dalam 60 detik
- GMKtec resmi meluncurkan EVO-X5 Pro dengan harga mulai $6.399, menjadikannya salah satu perangkat paling awal yang mengusung chip Gorgon Halo.
- Meski tergolong mahal untuk ukuran mini PC, perangkat ini menawarkan kemampuan menjalankan model AI 320 miliar parameter secara offline, menantang workstation tradisional.
- Langkah ini menandai pergeseran menuju komputasi AI privat di perangkat tepi, dengan implikasi besar bagi industri dan kebijakan data di Indonesia.

GMKtec memperkenalkan EVO-X5 Pro, mini PC dengan banderol mulai $6.399 (sekitar Rp100 juta), yang langsung menjadi salah satu perangkat paling awal yang menggunakan chip Gorgon Halo. Harga tersebut terbilang fantastis untuk ukuran komputer mungil, namun klaim kemampuannya—menjalankan model bahasa besar hingga 320 miliar parameter tanpa koneksi internet—membuatnya layak diperhitungkan di segmen komputasi AI lokal.
Perangkat ini mengemas prosesor AMD Ryzen AI Max+ PRO 495 dengan memori terpadu LPDDR5X-8533 berkapasitas 192GB. Menurut GMKtec, konfigurasi tersebut memungkinkan inferensi model AI raksasa secara offline, asalkan perangkat lunak dan pengaturan yang digunakan mendukung. Klaim ini berbeda dari kebanyakan mini PC yang mengandalkan komputasi awan untuk beban kerja AI.
Harga yang dipatok GMKtec memang strategis. Untuk 30 unit pertama, model 192GB/2TB dijual $6.399. Setelahnya, harga naik menjadi $6.599, dan harga normal $6.799. Varian 192GB/4TB dibanderol $6.699 pada masa Super Early Bird, $6.899 pada Early Bird, dan $7.099 pada harga reguler. Angka ini menempatkan EVO-X5 Pro sebagai salah satu perangkat Gorgon Halo termurah, meski tetap jauh di atas rata-rata mini PC yang biasanya di bawah $4.000.
Dari sisi spesifikasi, Ryzen AI Max+ PRO 495 menyediakan 16 core Zen 5, 32 thread, dan kecepatan boost hingga 5,2GHz. Grafisnya menggunakan Radeon 8065S dengan 40 compute unit berbasis arsitektur RDNA 3.5 dan ray tracing perangkat keras. NPU XDNA 2 menambah daya komputasi AI hingga 55 TOPS. Kombinasi ini ditujukan untuk menjalankan model bahasa besar, asisten coding, dan aplikasi riset secara lokal.
GMKtec menekankan bahwa EVO-X5 Pro dirancang untuk deployment AI privat, dengan dukungan eGPU dan clustering multi-sistem. Untuk lingkungan bisnis, tersedia AMD DASH, chip keamanan dTPM 2.0, dan manajemen out-of-band yang independen dari sistem operasi. Sistem pendingin vapor chamber dengan tiga kipas dalam casing logam CNC diklaim mampu menjaga operasi 24/7, meski klaim tersebut belum tentu berlaku untuk semua jenis beban kerja.
"Kemampuan ini sangat bergantung pada model yang dipilih, perangkat lunak, metode kuantisasi, dan konfigurasi sistem secara keseluruhan," demikian peringatan GMKtec dalam pengumumannya.
Bagi Indonesia, kehadiran perangkat seperti EVO-X5 Pro membuka diskusi tentang kedaulatan data dan komputasi AI. Selama ini, banyak perusahaan dan institusi riset di dalam negeri mengandalkan layanan cloud asing untuk melatih atau menjalankan model AI. Dengan kemampuan menjalankan model 320B parameter secara offline, organisasi dapat menyimpan data sensitif di dalam negeri tanpa harus mengirimkannya ke server luar. Namun, harga yang mencapai Rp100 juta per unit menjadi penghalang adopsi massal, terutama untuk startup dan UMKM.
Pasar mini PC berperforma tinggi memang sedang tumbuh, didorong oleh kebutuhan akan AI generatif yang lebih privat dan hemat latensi. Namun, EVO-X5 Pro bersaing dengan workstation tradisional yang menawarkan fleksibilitas upgrade dan ekosistem yang lebih matang. Pertanyaannya, apakah perangkat sekelas ini akan menjadi standar baru di laboratorium AI dan kantor perusahaan, atau tetap menjadi mainan mahal bagi early adopter? Waktu yang akan menjawab, tetapi arah angin sudah terasa.



