Lioness: Ketika Zoe Saldaña Menjadi Wajah Baru Aksi CIA yang Brutal
Baca dalam 60 detik
- Serial Lioness di Paramount+ menampilkan Zoe Saldaña sebagai perwira CIA senior yang memimpin operasi rahasia penuh risiko.
- Pendekatan perempuan sebagai ujung tombak operasi undercover menjadi pembeda dari genre aksi mata-mata yang didominasi laki-laki.
- Dengan lebih dari 200 hari bertahan di daftar 10 besar Paramount+, Lioness menanti kepastian perpanjangan musim keempat.

Zoe Saldaña memerankan Joe McNamara, perwira senior CIA dalam serial thriller aksi Lioness yang tayang di Paramount+. Berbeda dari Jack Reacher yang mengandalkan kekuatan fisik mentah, Joe justru bertarung dengan kombinasi insting taktis dan ketangguhan mental di medan operasi paling berbahaya. Serial ini telah menuntaskan musim ketiganya pada September lalu, dan hingga kini belum ada kepastian soal perpanjangan musim keempat.
Lioness mengangkat program rahasia CIA yang mengirim agen perempuan menyusup ke jaringan teroris di wilayah konflik. Taylor Sheridan, penulis skenario nominasi Oscar yang dikenal lewat Yellowstone dan Tulsa King, membangun narasi ini sebagai antitesis dari karya-karyanya sebelumnya. Alih-alih koboi modern, ia menyuguhkan dunia spionase dengan karakter kompleks dan kekerasan eksplisit yang jarang ditampilkan di televisi arus utama.
Sejak episode pembuka, penonton disuguhi dilema moral yang tajam. Seorang agen Lioness tertangkap dan tidak mungkin diselamatkan. Joe mengambil keputusan yang tak seorang pun ingin ambil: meluncurkan rudal yang menewaskan semua orang, termasuk agennya sendiri. Adegan itu menjadi penanda bahwa serial ini tidak akan menyembunyikan sisi kelam perang dari kedua belah pihak. Setiap musim menghadirkan misi baru—dari infiltrasi ke lingkaran dalam putri seorang teroris di Kuwait, hingga kartel Meksiko, dan pada musim ketiga, fokus ganda pada penculikan perwira CIA di dalam negeri serta perang di Ukraina.
Penampilan para pemain pendukung juga mendapat pengakuan dari kalangan militer Amerika Serikat. Jill Wagner, yang memerankan Bobby, mengungkapkan bahwa sejumlah perwira tinggi militer AS menyatakan kekaguman mereka terhadap serial ini. Menurut Wagner, apresiasi itu istimewa karena judulnya Lioness—singa betina—bukan Lion. Ia menilai keberhasilan para penonton militer membeli premis tersebut sebagai bukti bahwa penggambaran perempuan dalam operasi tempur berhasil ditangkap dengan tepat.
"Saya membawa semua hati, semua otak, semua otot setiap saat. Saya nomor satu di call sheet. Saya pertama datang, terakhir pulang. Saya mempersiapkan diri berbulan-bulan sebelum orang lain bisa bersiap," ujar Saldaña kepada People, menggambarkan dedikasinya pada peran Joe.
Kekuatan Lioness terletak pada Saldaña. Ia menghadirkan intensitas tanpa kompromi sebagai figur otoritas di CIA sekaligus sebagai istri dan ibu. Semakin sering kesehatan dan keselamatan Joe terancam, semakin terlihat bahwa di balik sikap dinginnya, ia bergulat dengan harga personal dari pekerjaannya. Musim ketiga secara khusus mengupas lapisan pelindung Joe, menuntut Saldaña tampil lebih intens dari sebelumnya.
Kesuksesan Lioness menandai pergeseran menarik dalam lanskap serial aksi. Jika Reacher mengandalkan daya tarik fisik Alan Ritchson, Lioness membuktikan bahwa cerita mata-mata yang digerakkan perempuan mampu menarik perhatian pasar yang luas. Formula ini tidak hanya soal representasi, tetapi juga soal pendekatan naratif yang lebih berlapis—menggabungkan aksi brutal dengan dilema etika yang jarang dieksplorasi dalam genre serupa.
Bagi penonton Indonesia, fenomena Lioness mencerminkan bagaimana platform streaming global semakin agresif mendiversifikasi konten mereka. Serial dengan protagonis perempuan di dunia spionase membuka ruang bagi cerita-cerita serupa dari Asia Tenggara, di mana narasi agen rahasia masih didominasi perspektif laki-laki. Pertanyaannya, akankah Paramount+ memberikan lampu hijau untuk musim keempat, atau justru mengakhiri perjalanan Joe McNamara tepat saat ia menemukan momentumnya?



