Peta Kekuatan NBA Central Division: Cavaliers Masih Teratas, Bucks Masuk Era Baru Tanpa Giannis
Baca dalam 60 detik
- Cleveland Cavaliers diprediksi tetap menjadi penguasa Central Division dengan kombinasi Harden, Mitchell, Mobley, dan Allen yang disebut-sebut sebagai salah satu lineup terbaik di NBA.
- Detroit Pistons yang musim lalu menang 60 pertandingan menghadapi tantangan mempertahankan konsistensi, sementara Indiana Pacers berharap kembalinya Tyrese Haliburton mengangkat performa tim.
- Milwaukee Bucks memasuki babak baru tanpa Giannis Antetokounmpo, dengan fokus pada pengembangan pemain muda dan potensi pertukaran untuk merapikan roster.

Kompetisi NBA 2026-27 akan segera bergulir pada 20 Oktober mendatang, dan divisi Central menjadi salah satu wilayah paling menarik untuk dicermati. Cleveland Cavaliers tampil sebagai kandidat terkuat, tetapi bukan berarti empat tim lainnya—Chicago Bulls, Detroit Pistons, Indiana Pacers, dan Milwaukee Bucks—hanya akan menjadi pelengkap. Setiap tim membawa narasi dan tantangan masing-masing yang layak disimak.
Cavaliers memasuki musim dengan modal besar: kombinasi James Harden dan Donovan Mitchell di lini belakang, ditopang Evan Mobley serta Jarrett Allen di area pertahanan. Menurut analisis yang beredar, jika keempat pemain inti tersebut bisa tampil bersama setidaknya 60 pertandingan, Cavs berpotensi mencatatkan rekor minimal 40-20. Dengan rating ofensif 126,7 saat Harden dan Mitchell berada di lapangan pada musim lalu, ekspektasi terhadap tim asuhan Kenny Atkinson ini memang tinggi.
Namun, pertanyaan terbesar bagi Cavaliers terletak pada pertahanan lini belakang. Harden, yang kini memasuki fase akhir kariernya, dikenal sebagai pemain dengan pertahanan berbasis kekuatan dan tangan, bukan kecepatan kaki. Sementara Mitchell, meski memiliki kecepatan dan rentang lengan yang mumpuni, masih belum konsisten dalam bertahan tanpa bola. Atkinson dituntut untuk menemukan formula yang tepat agar duo ini tidak menjadi celah bagi lawan.
Di Detroit, Pistons baru saja menikmati musim gemilang dengan 60 kemenangan. Cade Cunningham tampil sebagai kandidat MVP dan masuk All-NBA First Team, sementara Ausar Thompson menjelma menjadi salah satu bek perimeter terbaik di liga. Keduanya masih muda dan terus berkembang. Tantangannya adalah mempertahankan intensitas di tengah kompetisi Wilayah Timur yang semakin padat. Kehilangan Tobias Harris dan kedatangan John Collins menimbulkan pertanyaan tentang volume dan variasi tembakan tiga angka, meski di sisi lain Collins menawarkan proteksi rim yang lebih baik.
"Jika Cavaliers mendapatkan setidaknya 60 pertandingan dengan Harden, Mitchell, Mobley, dan Allen bermain bersama, mereka akan finis dengan rekor minimal 40-20. Ini seharusnya menjadi unit top-10 di kedua sisi lapangan."
Indiana Pacers menyambut kembalinya Tyrese Haliburton setelah cedera parah. Kehadiran Haliburton—yang terakhir terlihat mencetak performa gemilang di Game 7 Final NBA 2025 melawan Oklahoma City Thunder—diharapkan mengangkat kembali kualitas permainan Pacers. Kedatangan Ivica Zubac juga menjadi tambahan penting, terutama untuk memperbaiki masalah rebound yang sudah lama menghantui. Pacers belum pernah masuk 10 besar dalam tingkat rebound ofensif sejak 2021-22, dan rebound defensif sejak 2014-15. Zubac diharapkan mengatasi defisit itu.
Namun, proses adaptasi Haliburton dengan Zubac dan rekan-rekan baru bisa memakan waktu. Ada kekhawatiran bahwa Pacers akan memulai musim dengan lambat, terutama di Wilayah Timur yang semakin kompetitif. Pertanyaan lain muncul tentang identitas pertahanan tim: apakah mereka akan mempertahankan pendekatan agresif dengan pick-up point tinggi seperti saat diperkuat Myles Turner, atau menyesuaikan skema dengan komposisi baru?
Sementara itu, Milwaukee Bucks memasuki era baru tanpa Giannis Antetokounmpo. Kepergian pemain terbaik dalam sejarah franchise itu meninggalkan lubang besar, baik secara teknis maupun emosional. Meski demikian, Bucks memiliki sejumlah pemain muda menarik seperti Brayden Burries, Kasparas Jakučionis, dan Ke'lel Ware yang siap menunjukkan perkembangan. Pelatih Taylor Jenkins dituntut untuk meracik komposisi yang seimbang, terutama karena lini perimeter tim dinilai terlalu padat.
Bagi Bucks, skenario terbaik adalah jika para pemain muda menunjukkan lonjakan performa, sementara Tyler Herro mampu membuktikan diri sebagai talenta All-Star atau menjadi aset berharga dalam pertukaran. Sebaliknya, skenario terburuk adalah jika tak ada satu pun pemain muda yang menonjol dan veteran seperti Kyle Kuzma atau Turner gagal dijual dengan nilai yang memadai.
Dengan peta kekuatan seperti ini, Central Division diprediksi tetap menjadi wilayah kekuasaan Cavaliers. Namun, akankah Pistons mampu mengulang kejutan musim lalu? Dan mampukah Bucks bangkit dari keterpurukan pasca-Giannis? Jawabannya akan mulai terlihat saat bola dilempar tinggi pada 20 Oktober nanti.


