Pilot flydubai Diduga Coba Jatuhkan Pesawat, 150 Penumpang Selamat Berkat Aksi Heroik
Baca dalam 60 detik
- Penerbangan FZ 1073 rute Dubai–Tel Aviv mengalami insiden kritis setelah salah satu pilot menyerang rekannya dan diduga berupaya membawa pesawat ke kondisi kecelakaan.
- Pesawat sempat jatuh dari ketinggian 34.000 kaki ke 17.000 kaki dalam waktu kurang dari dua menit sebelum pilot cadangan berhasil mengambil alih kendali dan mendarat darurat di Tabuk, Arab Saudi.
- Investigasi resmi masih berjalan untuk mengungkap motif, prosedur akses kokpit, serta potensi celah keamanan penerbangan komersial yang lebih luas.

Penerbangan flydubai FZ 1073 dari Dubai menuju Tel Aviv berubah menjadi mimpi buruk pada Rabu lalu ketika seorang pilot diduga menyerang rekannya di kokpit dan berupaya menjatuhkan pesawat yang mengangkut sekitar 150 penumpang. Pesawat Boeing 737 Max itu akhirnya mendarat darurat di Bandara Tabuk, Arab Saudi, setelah sejumlah pilot cadangan yang ikut dalam penerbangan berhasil mengambil alih kendali.
Insiden ini terungkap dari rekaman pelacak penerbangan Flightradar24 yang mencatat pesawat tiba-tiba turun dari ketinggian jelajah sekitar 34.000 kaki ke 17.000 kaki dalam waktu kurang dari dua menit. Tak lama setelah penurunan drastis itu, pesawat memancarkan kode transponder darurat dan pembajakan—sinyal yang biasanya hanya digunakan dalam situasi kritis. Pesawat sempat berputar tak beraturan di dekat perbatasan Yordania sebelum berbalik arah ke selatan menuju wilayah Saudi.
Seorang penumpang dalam video yang beredar terdengar memohon pertolongan dalam bahasa Ibrani. "Siapa pun yang mendengar saya, kami butuh bantuan. Kami berada di area Tabuk, Arab Saudi. Semua penumpang selamat kecuali pilot. Kami butuh pertolongan," ujarnya dengan darah mengucur dari luka di kepala.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa salah satu pilot berencana menabrakkan pesawat dan membunuh para penumpang. Ia menyebut para penumpang sebagai "pahlawan" karena tindakan mereka mencegah "bencana besar". Namun, flydubai dalam pernyataan resminya mengonfirmasi hanya terjadi "keributan" di kokpit dan menolak berspekulasi mengenai motif. "Alasan dan motif di balik peristiwa ini masih belum diketahui dan akan diselidiki secara formal," ujar juru bicara maskapai.
"Ada dua pilot cadangan yang seharusnya bertugas pada penerbangan berikutnya. Salah satunya berkebangsaan Inggris. Mereka masuk ke kokpit, menarik tuas kendali, menstabilkan pesawat, dan membawa kami mendarat di Arab Saudi." — Almog Itali, penumpang, kepada BBC
Stanislav Bukhman, kepala risiko di Osprey Flight Solutions, menilai penyelidikan akan menyoroti prosedur verifikasi pilot dan penyaringan kru di bandara asal. Ia menjelaskan bahwa awak kabin dapat meminta akses darurat ke kokpit menggunakan kode khusus, tetapi pilot yang sadar dapat menolak permintaan tersebut. "Pada tahap ini belum cukup informasi untuk menyimpulkan bagaimana kokpit FZ 1073 bisa diakses. Pintu mungkin dibuka oleh kapten yang dilaporkan melawan upaya kopilot mengambil alih kendali, atau oleh awak kabin melalui prosedur darurat," ujarnya.
Insiden ini memunculkan pertanyaan serius tentang keamanan penerbangan komersial, terutama prosedur akses kokpit dan kesehatan mental awak pesawat. Maskapai low-cost seperti flydubai kerap memindahkan pilot antar bandara sebagai penumpang untuk efisiensi operasional—praktik yang dalam kasus ini justru menyelamatkan nyawa. Namun, kejadian ini juga menunjukkan bahwa protokol keamanan yang ada belum sepenuhnya mampu mencegah ancaman dari dalam.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kru penerbangan, termasuk evaluasi psikologis berkala dan prosedur darurat yang teruji. Otoritas penerbangan sipil di berbagai negara kemungkinan akan meninjau ulang standar akses kokpit dan pelatihan awak kabin dalam menghadapi situasi ekstrem. Dengan meningkatnya volume penerbangan di Asia Tenggara, termasuk rute-rute internasional yang melewati wilayah konflik, kesiapan menghadapi skenario terburuk menjadi semakin krusial.
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan motif di balik serangan tersebut. Pertanyaan besarnya: apakah industri penerbangan global perlu merombak total protokol keamanan kokpit, ataukah ini merupakan kasus terisolasi yang tidak mencerminkan kelemahan sistemik? Yang jelas, nyawa 150 penumpang bergantung pada keberanian dan ketenangan sejumlah individu yang bertindak di saat kritis.



