NBA Dekat Umumkan Pemilik Tim Ekspansi Las Vegas, Nilai Tembus Rp195 Triliun
Baca dalam 60 detik
- NBA diperkirakan segera menetapkan pemenang lelang tim ekspansi Las Vegas dengan nilai minimal 12 miliar dolar AS.
- Tiga konsorsium finalis bersaing, termasuk grup yang melibatkan mantan pemilik Phoenix Suns dan pengusaha Walmart.
- Langkah ini menandai babak baru ekspansi liga, meski status kota Seattle masih belum jelas.

Liga Bola Basket Nasional Amerika Serikat (NBA) dikabarkan hampir menuntaskan proses pemilihan pemilik tim ekspansi di Las Vegas. Menurut laporan jurnalis ESPN, Shams Charania, keputusan final diharapkan keluar dalam waktu dekat, dengan nilai transaksi yang diproyeksikan mencapai sedikitnya 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp195 triliun (asumsi kurs Rp16.250). Paket kesepakatan itu mencakup pembangunan arena baru di kota tersebut, meski tenggat pastinya belum dipastikan.
Angka tersebut menempatkan Las Vegas sejajar dengan transaksi klub elit NBA terkini. Bulan lalu, Los Angeles Lakers terjual ke grup yang dipimpin Josh Kushner dan Bob Iger dengan harga 12,5 miliar dolar AS—rekor penjualan waralaba olahraga termahal di Amerika Utara. Jika terwujud, kesepakatan Las Vegas akan menjadi salah satu ekspansi termahal dalam sejarah liga, melampaui biaya masuk tim NHL Vegas Golden Knights pada 2017 yang hanya 500 juta dolar AS.
Tiga kelompok finalis kini bersaing ketat. Grup pertama dipimpin Nancy Walton Laurie dan Bill Laurie; keduanya memiliki kekayaan bersih lebih dari 17 miliar dolar AS menurut Forbes. Nancy adalah putri pendiri Walmart, James Walton, dan keluarganya telah memiliki saham di Denver Broncos (NFL). Bill Laurie sebelumnya memiliki klub NHL St. Louis Blues. Pasangan ini bahkan sudah memiliki kediaman di kawasan Las Vegas, memberi mereka keunggulan lokal.
Finalis kedua adalah konsorsium yang digawangi Steve Apostolopoulos, miliarder asal Kanada, bersama Marc Lasry. Lasry bukan nama baru di NBA: ia mantan co-owner Milwaukee Bucks yang menjual sahamnya ke Jimmy dan Dee Haslam pada 2023 dengan valuasi 3,5 miliar dolar AS. Apostolopoulos sendiri pernah mencoba membeli Charlotte Hornets dan Washington Commanders (NFL), namun belum berhasil.
Adapun finalis ketiga mempertemukan Bill Foley dan Jerry Colangelo. Foley dikenal sebagai pemilik Vegas Golden Knights dan klub Premier League AFC Bournemouth. Sementara Colangelo, anggota Hall of Fame, merupakan mantan pemilik Phoenix Suns yang menjual klub itu pada 2004 seharga 401 juta dolar AS—rekor saat itu. Kini ia menjabat chairman Naismith Memorial Basketball Hall of Fame. Grup ini juga didukung Las Vegas Jacks, termasuk mantan presiden Turner Sports David Levy dan Scott Colangelo.
Ekspansi NBA ke Las Vegas dan Seattle telah lama menjadi wacana. Liga secara resmi menyebut kedua kota sebagai kandidat utama. Namun, nasib Seattle—yang diperkirakan akan menghidupkan kembali tim SuperSonics—masih belum jelas. Laporan Charania pada Selasa (waktu setempat) menjadi sinyal kuat bahwa proses menuju penambahan tim baru semakin dekat, meski belum ada jadwal resmi kapan kedua tim akan bergabung dan mulai bertanding.
"NBA diperkirakan akan memilih penawaran pemenang dalam waktu dekat," ujar Charania, seperti dikutip ESPN.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi cermin bagaimana liga olahraga global mengelola ekspansi dan valuasi aset. NBA telah lama menjadi tolok ukur dalam hal hak siar, merchandise, dan keterlibatan penggemar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika Las Vegas dan Seattle bergabung, potensi peningkatan jadwal pertandingan dan liputan global dapat membuka peluang lebih besar bagi platform media lokal untuk menayangkan lebih banyak konten NBA, sekaligus mendorong minat generasi muda terhadap basket.
Pertanyaan besarnya, akankah NBA mengeksekusi dua ekspansi sekaligus dalam waktu berdekatan? Atau akankah Las Vegas melaju lebih dulu sementara Seattle harus menunggu lebih lama? Yang jelas, dinamika ini akan mengubah peta kekuatan liga, nilai waralaba, dan lanskap bisnis olahraga global dalam beberapa tahun ke depan.



